Sukses

Ini Alasan Generasi Muda Enggan Terjun ke Sektor Pertanian

Liputan6.com, Jakarta - Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) Indonesia di sektor pertanian terus turun. Padahal Indonesia merupakan negara agraris dengan kebutuhan pasokan pangan yang cukup besar. Apalagi mengingat jumlah penduduk mencapai 250 juta orang.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan generasi muda di Indonesia lebih memilih berkarya di sektor industri dibanding mengembangkan sektor pertanian. Salah satu alasan yang mendasarinya adalah rendahnya pendapatan di sektor pertanian.

Menurut dia, rata-rata pendapatan para petani per bulan sebesar Rp 200-400 ribu. "Pendapatan petani itu hanya Rp 200-400 ribu per orang per bulan. Kalau harga jagung jatuh ke Rp 1500 per kg, petani di daerah-daerah menangis. Ini makanya anak-anaknya tidak mau kembali ke pertanian," ujarnya di Jakarta, Jumat (29/1/2016).

Hal berbeda dialami pada petani di sektor perkebunan. Sebut saja perkebunan kelapa sawit yang para petaninya punya kesejahteraan yang lebih baik.‎ "Di sawit, pendapatannya bisa Rp 3-4 juta per orang per bulan‎," katanya.

Oleh sebab itu, menurut Amran, Kementerian Pertanian selalu berusaha menjaga agar harga hasil pertanian di tingkat petani bisa terus stabil dan memberikan keuntungan yang wajar bagi para petani.

"Kata petani lebih pilih harga wajar ketimbang dapat dana dari APBN‎. Kalau harga gabah turun misalnya, kita kehilangan Rp 70 triliun di tingkat petani. Sedangkan APBN (yang dialokasikan untuk sektor pertanian) hanya beberapa triliun saja," katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan salah satu fokus pemerintah saat ini adalah menyeimbangkan harga antara produsen, pedagang dan konsumen. Dengan langkah tersebut maka harga pangan di petani bisa menguntungkan.

"Ini ‎memang bukan sesuatu yang mudah, tetapi saya yakin, kalau kita mempunyai visi yang sama, mempunyai pemikiran yang sama, dan mudah diselesaikan," ucap dia. 

Karena itu, Jokowi meminta dalam‎ merumuskan kebijakan pangan harus menggunakan cara pandang yang mendalam dan menyeluruh.

"Tidak bisa misalnya kementerian pertanian hanya bisa mikirkan petani saja, tapi juga Menteri perdagangan jangan hanya memikirkan perdagangan saja, tetapi tolong, semuanya dilihat kembali yang tadi saya sampaikan, produsennya pedagangnya konsumennya semua harus dilihat," tutur Jokowi. (Dny/Gdn)