Liputan6.com, Jakarta - Kehilangan pekerjaan tetap, penghasilan yang tidak mencukupi, hingga dana pensiun yang belum memadai menjadi sejumlah kekhawatiran keuangan yang mengganggu pikiran masyarakat. Bahkan, persoalan tersebut bisa membuat seseorang sulit tidur meskipun sudah memiliki pengetahuan tentang pengelolaan keuangan dan investasi.
Hal ini terungkap dalam survei yang dilakukan QM Academy terhadap para alumninya. Lead Financial Trainer sekaligus Founder QM Financial, Ligwina Hananto, mengatakan hasil survei menunjukkan ketidakpastian pekerjaan masih menjadi salah satu sumber kecemasan terbesar terkait kondisi keuangan.
Advertisement
Ligwina menjelaskan, ketika responden ditanya mengenai kekhawatiran finansial secara umum, ada tiga hal yang paling banyak disebutkan. Pertama, dana pensiun yang dikhawatirkan tidak cukup. Kedua, kemungkinan kehilangan pekerjaan tetap. Ketiga, biaya kesehatan yang terus meningkat.
Namun, hasilnya berbeda ketika responden ditanya mengenai persoalan keuangan yang sampai membuat mereka tidak bisa tidur.
Dalam pertanyaan tersebut, kehilangan pekerjaan tetap menempati posisi pertama. Selanjutnya, responden mengkhawatirkan penghasilan yang tidak mencukupi dan dana pensiun yang belum memadai.
"Ini orang-orang yang sudah belajar finansial, sudah investasi, dan berarti literasi finansialnya sudah ada. Tapi mereka ada kekhawatiran luar biasa sampai enggak bisa tidur, ketika ngomongin, ‘Pekerjaanku masih akan ada apa tidak, ya?’” kata Ligwina dalam acara perayaan 23 tahun QM Financial sekaligus peluncuran buku Belajar Finansial Bareng Semua di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
Kehilangan Pekerjaan Jadi Kekhawatiran Terbesar
Menurut Ligwina, hasil survei tersebut memperlihatkan memiliki pengetahuan finansial saja belum cukup untuk membuat seseorang merasa aman secara ekonomi.
Ia menilai ketersediaan pekerjaan dengan penghasilan yang layak menjadi dasar penting sebelum seseorang bisa merencanakan keuangan, menabung, maupun berinvestasi.
Sebab, ketika seseorang kehilangan pekerjaan dan tidak memiliki penghasilan, kemampuan untuk menyisihkan uang juga menjadi terbatas.
"Enggak ada tipsnya, ‘Ayo kita investasi supaya pekerjaan tetap ada.’ Kan enggak ada, ya. Kita mau investasi pakai apa kalau duitnya terbatas?” ujarnya.
Ligwina menegaskan, seseorang perlu memiliki pekerjaan dan penghasilan yang memadai agar dapat menjalankan perencanaan keuangan dengan baik.
Selain kehilangan pekerjaan, kenaikan biaya kesehatan juga menjadi perhatian para alumni QM Academy. Ligwina menyoroti kenaikan premi asuransi kesehatan yang menurut pengamatannya bisa mencapai lebih dari 20% setiap tahun setelah pandemi.
Daya Beli dan Tuntutan Keluarga Jadi Hambatan
Survei QM Academy juga mengungkap sejumlah hambatan yang dirasakan responden dalam mencapai target keuangan mereka.
Salah satunya adalah penghasilan yang dirasa hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kenaikan gaji juga belum tentu membuat kondisi keuangan lebih longgar karena pengeluaran ikut meningkat seiring kenaikan harga barang dan jasa. Selain itu, kurangnya kedisiplinan dalam mengelola uang turut menjadi hambatan.
Ligwina juga menyoroti tuntutan keluarga dan lingkungan sosial yang sering kali menjadi tantangan, terutama bagi generasi sandwich.
Menurut dia, budaya saling membantu dan gotong royong dalam keluarga memang merupakan hal positif. Namun, kondisi tersebut bisa menjadi beban ketika seseorang memiliki penghasilan terbatas tetapi harus memenuhi banyak kebutuhan anggota keluarga.
"Kita semuanya pasti ada saudara yang harus dibantu. Itu enggak apa-apa kalau duitnya ada, tapi duitnya terbatas, penghasilannya pas-pasan,” ujar dia.
42% Responden Ingin Punya Penghasilan Tambahan
Di tengah berbagai kekhawatiran tersebut, para alumni QM Academy juga memiliki sejumlah target keuangan yang ingin dicapai dalam lima tahun mendatang
Sebanyak 42% responden menyatakan ingin memiliki penghasilan tambahan atau side income. Langkah ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu sumber penghasilan.
Sementara itu, 20% responden ingin memiliki kondisi keuangan yang lebih aman untuk menghadapi masa pensiun.
Target lainnya adalah mulai rutin berinvestasi dan menyiapkan dana pendidikan anak.
Ligwina mengatakan, mayoritas alumni QM Academy yang mengikuti survei berada dalam kelompok usia produktif, terutama rentang 30 hingga 40 tahun. Karena itu, kebutuhan finansial mereka tidak hanya berkaitan dengan kondisi saat ini, tetapi juga persiapan untuk masa depan dan keluarga.
QM Academy sendiri telah memiliki lebih dari 35.000 alumni yang tersebar di 500 kota dan 45 negara. Survei tersebut dilakukan untuk mengetahui berbagai kekhawatiran serta target keuangan para alumni yang telah mengikuti kelas edukasi finansial.