Liputan6.com, Jakarta - Kana Sekiya (43) dulunya sering mampir berbelanja di minimarket dekat stasiun kereta saat pulang kerja di Tokyo. Kini, setiap akhir pekan ia rela mengemudi lebih dari 30 menit ke supermarket yang memberi diskon untuk membeli kebutuhan pokok secara grosir. Ia adalah satu dari sekian banyak konsumen yang mulai mengubah kebiasaan belanja seiring melonjaknya harga barang.
"Saya sudah benar-benar berhenti belanja di minimarket karena biaya hidup yang terus naik," ujarnya dikutip The Business Times, Jumat (30/10/2026).
Advertisement
Perubahan gaya hidup Sekiya bukan sekadar ancaman bagi bisnis minimarket (conbini) di Jepang yang dulunya sangat tangguh. Fenomena ini juga menjadi sinyal mengkhawatirkan bagi perekonomian negara tersebut, yang baru saja keluar dari periode deflasi berdekade-dekade.
Data dari Bank of Japan menunjukkan bahwa inflasi inti pada bulan September melonjak ke laju tahunan tercepat dalam tiga tahun terakhir, bahkan melampaui target sebesar 2%.
Bank sentral diperkirakan akan memberikan sinyal dinaikkannya suku bunga serendah-rendahnya pada bulan Desember. Langkah ini akan membawa perekonomian Jepang memasuki wilayah baru yang belum pernah tersentuh selama lebih dari 30 tahun
"Konsumen kini menjadi sangat sensitif dan kritis soal harga," ujar Seiji Kitamura, kepala strategi pemasaran grup di Seven&i, pemilik rantai ritel 7-Eleven yang mengoperasikan sekitar 23.000 gerai di seluruh Jepang.
"Keinginan masyarakat untuk berhemat jauh melampaui perkiraan kami."
Berdasarkan data dari Asosiasi Waralaba Jepang, jumlah pengunjung minimarket telah menurun selama 15 bulan berturut-turut. Pada bulan September, angka kunjungan anjlok 3,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ini menjadi penurunan terparah sejak September 2021 sewaktu pandemi Covid-19.
Kecenderungan masyarakat Jepang yang kian berhemat, yang sebagian besarnya belum pernah mengalami kenaikan harga secara meluas seumur hidup mereka diperkirakan bakal memicu persoalan ekonomi yang lebih besar.
"Mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar separuh dari Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang, kami khawatir aksi ikat pinggang yang dilakukan masyarakat akan memberatkan perekonomian secara keseluruhan," tutur Ryohei Ikeda, analis di Mizuho Research Institute.
Perusahaan-perusahaan di Jepang dulunya terkenal sangat enggan menaikkan harga. Pada tahun 2016 lalu, produsen es krim Akagi Nyugyo bahkan sampai menyampaikan permohonan maaf secara terbuka hanya karena menaikkan harga produknya sebesar 10 yen (sekitar Rp 1.000).
Namun, tertekan oleh melemahnya nilai tukar yen dan melambungnya harga minyak bumi, para produsen makanan dan minuman terpaksa menaikkan harga lebih dari 20.000 jenis produk untuk dua tahun berturut-turut. Di tengah gelombang kenaikan harga ini, pengelola conbini di Jepang harus berhadapan dengan konsumen yang makin jeli mencari alternatif yang lebih murah.
"Pesaing kami seperti toko obat (drugstore) dan minimarket hemat makin gencar mengedepankan nilai ekonomis," kata Takeshi Inoue, manajer korporat FamilyMart milik Itochu, dalam paparan kinerjanya.
"Kami diakui belum mampu memenuhi kebutuhan pelanggan secara maksimal."
Sekiya mengaku sangat merasakan tekanan ekonomi saat membeli kebutuhan harian seperti daging, sayuran, dan minuman beralkohol. Demi menghemat anggaran semaksimal mungkin, kini ia memilih berbelanja di dua supermarket diskon, yaitu Lopia dan OK.
Rice Bowl Daging Babi dan Tantangan Conbini
Berbanding terbalik dengan minimarket, sejumlah supermarket yang berani bersaing harga justru menikmati lonjakan jumlah pengunjung yang signifikan.
Seiyu, yang diakuisisi oleh jaringan ritel diskon Trial Holdings, mencatatkan pertumbuhan jumlah pelanggan sebesar 6,9% secara tahunan (year-on-year) pada gerai-gerai mereka di bulan September.
"Kenaikan upah belum bisa mengimbangi laju inflasi, dan situasi ini menjadi angin segar bagi peritel diskon," ungkap Presiden Seiyu, Hitoshi Narakino.
Sebelumnya, Walmart sempat kesulitan mengembangkan bisnis Seiyu sebelum akhirnya dijual ke perusahaan private equity KKR, hingga berakhir di tangan Trial.
Trial, peritel asal wilayah Kyushu, membawa produk andalan mereka ke gerai Seiyu, seperti rice bowl cutlet daging babi seharga 299 yen dan roti lapis telur seharga 199 yen, sembari memperbanyak pasokan daging serta ikan segar.
Mesin Capit dan Sensitivitas Harga
Taro Saito, peneliti senior dari NLI Research Institute, memperkirakan bahwa inflasi berpotensi menembus angka 3%. Kondisi ini dipicu oleh efek berantai kenaikan harga minyak dunia akibat perang Iran yang berdampak pada tarif listrik dan gas.
Ia menambahkan, pertumbuhan upah riil juga berisiko berbalik negatif yang berpotensi makin menekan daya beli rumah tangga.
Dengan membengkaknya biaya tenaga kerja dan operasional yang menekan para pemilik waralaba, pengelola conbini kini mulai melirik potensi pendapatan di luar produk makanan.
FamilyMart berencana memasang mesin capit (crane game) dan mesin mainan kapsul (gachapon) di sekitar 5.000 gerai mereka dengan memangkas area rak majalah dan area makan (dine-in). Langkah serupa juga diambil oleh Lawson, yang dimiliki oleh Mitsubishi Corp dan KDDI dengan memasang mesin mainan di sekitar 1.500 gerainya.
Sensitivitas masyarakat terhadap harga juga mulai merambah ke sektor ritel yang lebih luas.
Fast Retailing, induk perusahaan Uniqlo, menyatakan membatalkan rencana kenaikan harga untuk produk kaus kaki warna-warni mereka yang sedianya berlaku mulai 10 November.
"Mengingat kaus kaki merupakan kebutuhan esensial sehari-hari, kami memutuskan untuk meninjau ulang rencana penyesuaian harga khusus di pasar Jepang," tegas pihak Fast Retailing.