Dompet Makin Tipis, QRIS Makin Laris: Cerita Warga Tak Lagi Andalkan Uang Tunai

Praktis memang, tapi hati-hati! Kemudahan bayar pakai QRIS bikin anak muda sering tidak sadar saldo digital ludes lebih cepat.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 26 Oktober 2026, 12:00 WIB
Ilustrasi Penggunaan QRIS untuk melakukan transaksi di Kutai Kartanegara./Istimewa.

Liputan6.com, Jakarta - Jam makan siang telah tiba. Para buruh berjalan beriringan, berbondong-bondong datang. Gerobak demi gerobak berjajar, semua kewalahan disambangi mereka yang lapar. Panas yang menerjang tak menggoyahkan, para pedagang kaki lima menyiapkan semua pesanan.

Ramai insan yang memilih makan di sisi jalanan, bersenda gurau sembari menikmati hidangan. Wangi masakan yang menggugah selera, mengundang perut kian lapar. Pelanggan berdatangan, dan banyak dari mereka mengatakan, "Bayarnya pakai QRIS, ya, Mbak,".

Bagi sebagian orang, dompet yang tak lagi tebal bukan menandakan akhir bulan, melainkan perubahan kebiasaan. Kini, banyak dari mereka yang memilih menyisakan sedikit uang di sana dan mengandalkan pembayaran dengan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).

Berbelanja kini terasa begitu ringan. Hanya lewat beberapa ketukan layar ponsel dan bunyi “bip” dari mesin pemindai, saldo digital bisa berpindah tangan seketika tanpa repot menghitung lembaran uang atau lama menunggu kembalian.

Seperti yang dialami Azizah (20), mahasiswa, yang menyisihkan “uang mati” Rp 50.000, uang cadangan yang tak disentuh, di dompet hanya untuk keperluan darurat. Sisanya, ia mempercayakan pada metode QRIS sejak awal membuka rekening sendiri.

Bagi dia, tak adanya biaya admin dan tak perlu mengeluarkan dompet dari kantong menjadi alasan pembayaran QRIS jauh lebih mudah dan simple.

"Selama penjualnya nyediain QRIS, biasanya aku pakai QRIS, entah makanan, barang, atau lagi belanja bulanan," ujar dia.

Alasan Memilih QRIS

Seorang mahasiswi, Afra (21), yang merupakan pengguna QRIS, Jumat (23/10/2026).

 

Cerita menarik juga datang dari Afra (21), mahasiswa, yang tak lagi merantau. Sejak kembali memijak tanah Jakarta, ia selalu membayar dengan QRIS perkara kedayagunaan. Ia membagikan kisahnya yang kerap menikmati kuliner kaki lima di sekitar Stasiun Gondangdia. Sering kali ia enggan menunggu kembalian tunai dari penjual.

Malas nungguin kembaliannya, kadang-kadang enggak ada kembalian juga, jadi lebih milih QRIS, ungkap Afra.

Dilema Pemakaian QRIS

Dibalik semua kemudahan itu, ada ironi yang perlahan menggerogoti para anak muda. Siapa sangka, pilihan pembayaran melalui QRIS justru membuat saldo cepat menipis?

Sebab kata mereka, mudah membayar berarti mudah menghabiskan uang. Kaum muda yang terbiasa dengan kemudahan mengandalkan QRIS untuk hampir semua hal. Dari kopi harian hingga kebutuhan pilihan, bahkan tak terasa, transaksi tak berwujud ini mulai menumpulkan kesadaran finansial. Ia memupuk pengeluaran kecil yang sering terabaikan, lalu menumbuhkan lubang besar pada akhir bulan.

Fleksibilitas QRIS

Seorang mahasiswa, Ghifari (21), yang merupakan pengguna QRIS, Jumat (23/10/2026).

Terbuai dengan kemudahan, Azizah mengaku ia menjadi lebih boros. "Saking gampangnya, jadi main scan-scan QRIS saja, haha," ujar dia.

Ghifari (21), mahasiswa tingkat akhir ini, mengiyakan fleksibilitas QRIS sejak ia berkuliah, tetapi mengeluhkan betapa cepat saldonya terkuras tuntas. Selayaknya mahasiswa yang khilaf pada awal bulan, sebelum kemudian menderita di akhir bulan, ia mengaku bisa menghabiskan Rp 50.000-60.000 per hari dengan pembayaran QRIS setelah di-track melalui riwayat di m-banking.

"Saking fleksibel dan merasa tidak bawa uang, selain mudah diakses, QRIS juga mudah untuk menguras uang alias boros,” ucap Ghifari.

Afra pun demikian, merasa jauh lebih boros. Ketika promo tanggal kembar, seperti 11.11, ia bahkan melakukan checkout belanja online dengan QRIS.

Namun, kemudahan QRIS tak selalu mulus, baik bagi pembeli maupun penjual. Ghifari terkadang harus meminta tethering kepada penjual karena kuotanya habis. Jika aplikasi bank digitalnya sedang gangguan, ia terpaksa berutang ke pedagang sampai bisa menarik tunai.

Ada pengalaman kurang menyenangkan yang selalu ia ingat. Suatu pagi, ia sarapan soto di warung pinggir jalan. Sembari menikmati pemandangan orang berlalu-lalang pada akhir pekan, Ghifari menyeruput kuah dengan santai, tanpa tahu warung itu tak menyediakan QRIS.

“Dari awal feeling kalau ini enggak bisa QRIS, dan YAP, pas sampai kasir [QRIS-nya] enggak ada, transfer juga enggak bisa. Untungnya cash-nya cukup,” curhatnya.

Setelah merogoh peser terakhir, ia kembali dihadapkan dengan situasi sulit: membayar uang parkir. Dengan keringat dingin, ia beralasan tak membawa uang tunai lagi. Rupanya tukang parkir di sana punya QRIS sendiri. Mau tak mau, Ghifari membayar uang parkir dengan QRIS.

Pedagang Kaki Lima Khawatir Soal QRIS

Seorang pedagang sate kaki lima di Gondangdia, Sakinah (32), yang menyediakan pembayaran QRIS di gerobaknya, Jumat (23/10/2026).

Situasi serupa menimpa Afra sehabis potong rambut di sebuah salon. Sudah cantik dan wangi, ia tak punya uang tunai untuk membayar parkir. Alhasil, Afra meminta maaf kepada tukang parkir dan pergi tanpa membayar, dengan rasa bersalah.

“Untuk jaga-jaga karena QRIS belum semasif itu, juga siaga takut ada tukang parkir,” pesan Ghifari agar tetap membawa uang tunai ke mana pun agar siap dengan situasi tak terduga.

Dari sisi penjual, seorang pedagang sate kaki lima, Sakinah (32), telah menempelkan QRIS di gerobaknya sejak tiga tahun lalu. Kata Sakinah, agar tak perlu repot tukar-menukar uang dan menghitung kembalian, sehingga lebih mudah.

Namun, penggunaan QRIS ini membuat Sakinah khawatir ketika dagangannya sedang ramai diserbu. Ia tak sempat mengecek bukti pembayaran dari pelanggan satu-satu, sehingga pernah kecolongan. Kecolongan itu terjadi ketika pelanggan menunjukkan bukti pembayaran yang sebenarnya tidak masuk.

"Karena enggak bisa dilihat juga namanya [merujuk pada pelanggan], hanya inisial saja. Jadi kalau misalkan sudah lost [bukti pembayarannya hilang], ya kita enggak bisa mastiin,” kata dia.

Nasi sudah menjadi bubur, nasib tak bisa kabur. Perencana keuangan Andy Nugroho menyarankan kaum muda untuk mengenali diri sendiri terlebih dulu. Ada orang yang disiplin mengelola keuangan, ada pula yang tidak. Karena itu, ia meminta setiap orang menyesuaikan strateginya dengan kondisi masing-masing.

Tips Keuangan Soal Penggunaan QRIS

Seorang mahasiswi, Azizah (20), yang merupakan pengguna QRIS, Jumat (23/10/2026).

Untuk orang-orang seperti Azizah dan anak muda lain yang mudah tergoda, Andy mengatakan, perlu memetakan dana sejak awal bulan untuk kebutuhan primer, misalnya, membayar Wi-Fi, listrik, ataupun menyicil KPR. Sisa dana dipindahkan ke rekening lain untuk kebutuhan sehari-hari, hingga hal sepele seperti nongkrong dan beli kopi.

Andy mencontohkan pembagian uang. "Misalnya, penghasilan saya Rp 5 juta, 10 persennya untuk saya nongki-nongki, berarti budget saya Rp 500 ribu. Begitu nanti sudah habis, ya sudah saya setop, saya enggak akan belanja lagi. Kayak gitu, sampai terima penghasilan bulan depannya," ujar dia.

Jika merasa kesulitan menahan diri, pisahkan dana ke beberapa rekening. Kewajiban-kewajiban disisihkan dan disimpan di rekening lain sehingga tak terpakai dan tak ada lagi krisis akhir bulan.

Uang Tunai Harus Tetap Dibawa

Sementara itu, kata Andy, uang tunai tetap harus dibawa ke mana pun. Alasannya, sistem pembayaran digital belum merata, sehingga pembayaran tunai tetap harus dilakukan.

Di sisi jalanan siang itu, antrean di gerobak-gerobak kaki lima masih sama panjang. Bip kembali terdengar, saldo kembali berpindah tangan. Bedanya, di dompet sebagian anak muda, ada selembar uang yang sengaja disimpan: untuk jaga-jaga.

 

Transaksi QRIS Tumbuh 67%, Penggunanya Seperempat Penduduk Indonesia

Ilustrasi barcode QRIS (Foto: AI)

Mudah dan praktis mendorong pemakaian transaksi QRIS meningkat di Indonesia. Apalagi generasi muda yang mempertimbangkan kemudahan dan praktis. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, transaksi QRIS naik hingga 67,2% secara tahunan (year-on-year) pada Agustus 2026. Lonjakan ini seiring dengan makin meluasnya adopsi pembayaran digital. Jumlah pengguna QRIS di Tanah Air kini telah menyentuh 67 juta orang.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menyampaikan bahwa jumlah pengguna QRIS tersebut sudah setara dengan seperempat total populasi penduduk Indonesia. Masifnya tren ini secara langsung mengubah kebiasaan masyarakat dalam melakukan transaksi harian. "QRIS, kalau kita lihat sekarang penggunanya sudah 67 juta. Artinya, sudah satu per empat dari penduduk Indonesia menggunakan QRIS," kata Destry dalam konferensi pers FEKDI X IFSE 2026 di Senayan, Jakarta, Kamis, 24 September 2026.

Destry menjelaskan, pergeseran ke ekosistem digital membuat penggunaan uang tunai dalam aktivitas belanja harian kian terbatas. Masyarakat kini lebih nyaman menggunakan QRIS untuk berbagai keperluan, termasuk saat bertransaksi di pasar tradisional.

"Jadi tentu saja kalau kita lihat, karena banyak yang menggunakan sistem digital, penggunaan cash jadi terbatas. Kita bisa lihat di beberapa acara, kalau kita sekarang belanja di pasar, mereka lebih suka pakai QRIS ketimbang uang cash," ujar Destry.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya