Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Kamis di tengah kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah. Investor mencermati laporan rencana Amerika Serikat (AS) untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Mengutip CNBC, Jumat (23/10/2026), harga minyak mentah Brent naik 4% dan ditutup pada US$ 113,17 per barel. Level tersebut menjadi yang tertinggi bagi patokan minyak internasional itu sejak 4 Mei. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,4% menjadi US$ 99,47 per barel.
Advertisement
The New York Times melaporkan, militer AS dan Israel telah menyusun rencana spesifik untuk kembali menyerang Iran setelah pemilihan paruh waktu AS bulan depan. Sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan, persiapan operasi yang berlangsung singkat tetapi intensif terus berjalan.
Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan bahwa Washington tidak sedang bernegosiasi dengan Iran. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan langkah baru dalam waktu dekat.
Trump Isyaratkan Langkah Baru terhadap Iran
Saat ditanya wartawan pada Rabu malam, Trump mengatakan sesuatu akan segera terjadi terkait Iran, tetapi tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
“Sebagian besar orang tampaknya berpikir itu akan terjadi setelah pemilu,” kata Trump.
“Kita akan melihat apa yang terjadi.”
Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah AS memerintahkan pegawai pemerintah yang tidak bertugas dalam keadaan darurat beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, melalui unggahan di X menegaskan bahwa perintah tersebut hanya berlaku untuk Arab Saudi. Ia membantah laporan bahwa Washington juga meminta sejumlah staf di kawasan Teluk yang lebih luas untuk pergi.
Pigott menyebut peningkatan serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap sasaran sipil di Arab Saudi sebagai alasan kebijakan tersebut.
Media pemerintah Saudi melaporkan, sedikitnya dua orang tewas dan delapan lainnya terluka dalam serangan di Bandara Internasional King Fahd, Dammam, pada Rabu. Bandara tersebut berada di pesisir timur Arab Saudi.
Dampak Kenaikan Harga Minyak terhadap Ekonomi
Sementara itu, perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco meminta para pegawainya meninggalkan kantor pusat di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh. Informasi tersebut disampaikan sejumlah sumber yang mengetahui persoalan itu.
Fasilitas Aramco sebelumnya berulang kali menjadi sasaran serangan Houthi.
Meski demikian, David Wagner, kepala ekuitas sekaligus manajer portofolio Aptus Capital Advisors, menilai dampak ekonomi dari tingginya harga minyak saat ini mungkin tidak separah beberapa dekade lalu. Menurut dia, konsumen kini relatif lebih mampu menghadapi lonjakan harga energi.
“Harga minyak US$ 100 saat ini sangat berbeda dengan harga minyak US$ 100, 20 atau 30 tahun lalu,” ujar Wagner.
Ia menambahkan, harga minyak mentah masih jauh di bawah rekor historisnya setelah disesuaikan dengan inflasi.
Wagner juga merujuk data pemerintah AS yang menunjukkan bensin menyerap sekitar 5% pendapatan yang dapat dibelanjakan rata-rata warga Amerika satu dekade lalu. Kini, porsinya diperkirakan hanya setengah dari angka tersebut.
“Saya pikir kita masih bisa berlindung dari badai hujan minyak ini,” katanya.