Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memfokuskan kebijakan untuk menarik kembali aliran modal asing (inflow) setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) menekan rupiah dan memicu arus modal keluar (outflow). BI tetap memprioritaskan stabilitas rupiah dan menentukan arah suku bunga berdasarkan perkembangan data ekonomi.
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah selama dua hari pascapengumuman MSCI masih berada dalam batas relatif normal. Meski begitu, BI tetap mewaspadai perkembangan pasar keuangan domestik dan arus modal asing.
Advertisement
“Kami berusaha untuk mengoptimalkan semua kebijakan yang kami miliki, stabilitas itu tentunya yang utama,” ujar Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Destry menjelaskan bahwa BI mengoptimalkan insentif bagi investor asing yang menempatkan dana pada aset domestik, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). BI juga memberikan insentif pengurangan biaya lindung nilai melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) hingga 45%.
BI mencatat insentif swap dan DNDF yang berlaku sejak Juni 2026 berhasil menarik aliran modal masuk sebesar US$ 9,9 miliar hingga Oktober 2026. BI berharap insentif tersebut mampu meningkatkan daya tarik aset domestik setelah terjadi penyesuaian harga (repricing) di pasar keuangan.
“Yang menjadi fokus kami adalah bagaimana kami bisa mendatangkan inflow itu kembali,” tegas Destry.
Penurunan GWM
Selain itu, BI menyiapkan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) hingga 2% yang diperkirakan menambah likuiditas perbankan sekitar Rp 190 triliun. Kebijakan ini diharapkan dapat mendukung likuiditas sekaligus memperkuat dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi inflasi, Destry menyebut inflasi inti masih terkendali pada level 2,84%, meskipun tekanan harga masih terlihat pada kelompok pangan bergejolak (volatile food). Kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin pada Mei dan Juli sebelumnya juga membantu menjaga ekspektasi inflasi dan mendorong penyesuaian harga aset keuangan.
Terkait arah suku bunga ke depan, Destry menegaskan bahwa BI mempertimbangkan perkembangan data ekonomi, terutama stabilitas rupiah dan tingkat inflasi.
“Jadi terkait dengan stance BI suku bunga ke depan tentu kita akan lihat nanti data dependent. Kita lihat bagaimana perkembangannya ke depan,” kata Destry.
Sementara itu, BI terus mengarahkan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap menempatkan stabilitas sebagai prioritas utama.