IHSG Pekan Ini Dibayangi Keputusan The Fed, Level 6.000 Jadi Penentu

IHSG pekan ini dipengaruhi arah kebijakan The Fed dan yield US Treasury. Level 6.000 menjadi support penting bagi indeks.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 05 Oktober 2026, 14:05 WIB
Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan pasar saham global dan domestik pada pekan ini akan banyak dipengaruhi oleh arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).

Pelaku pasar menunggu publikasi FOMC Minutes serta sejumlah pernyataan pejabat The Fed setelah data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan yang cukup tajam.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan data ketenagakerjaan terbaru menjadi perhatian karena Payrolls AS pada September hanya bertambah 29 ribu, jauh di bawah konsensus sekitar 90 ribu.

Pada saat yang sama, tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,2% dari 4,1%. Pertumbuhan upah tahunan juga melambat menjadi 3,0%.

“Data ini langsung menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada Oktober. Namun, pasar belum bisa sepenuhnya bernapas lega karena pada saat yang sama yield US Treasury 10 tahun sempat menembus 5,34%, level tertinggi sejak 2002,“ tegasnya, Senin (5/10/2026).

Menurut Imam, perhatian investor pada pekan 5-9 Oktober 2026 akan tertuju pada FOMC Minutes yang dijadwalkan terbit Rabu (7/10/2026).

Dokumen tersebut akan memberikan gambaran mengenai perdebatan internal The Fed ketika menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% pada September 2026.

Meski 16 dari 18 pembuat kebijakan sebelumnya memproyeksikan masih ada satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir 2026, pasar kini melihat kembali keseimbangan antara risiko inflasi dan pelemahan pasar tenaga kerja.

 

Notulensi Rapat The Fed

Seorang pria melihat ponselnya di depan layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta. (BAY ISMOYO/AFP)

Jika notulensi rapat The Fed memperlihatkan bahwa inflasi masih menjadi ancaman utama, peluang berlanjutnya kebijakan suku bunga tinggi akan tetap terbuka. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury dan memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk saham serta pasar negara berkembang.

Sebaliknya, apabila perhatian pembuat kebijakan lebih banyak tertuju pada pelemahan pasar tenaga kerja, peluang penundaan kenaikan suku bunga akan semakin besar. Skenario tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi saham dan emerging markets melalui penurunan yield serta pelemahan dolar AS.

Investor juga akan mencermati komentar sejumlah pejabat The Fed, antara lain Williams, Bowman, dan Logan. Pernyataan mereka akan menjadi petunjuk mengenai apakah pelemahan tenaga kerja cukup kuat untuk mengubah sikap bank sentral atau inflasi masih menjadi prioritas.

Dari AS, data ADP Employment Change Weekly pada Selasa (6/10/2026) juga menjadi perhatian. Data yang lemah dapat memperkuat indikasi pasar tenaga kerja mulai mendingin, sedangkan angka yang kuat berpotensi menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga.

Dari dalam negeri, data cadangan devisa Indonesia juga menjadi perhatian. Posisi cadangan devisa saat ini setara 5,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Ini merupakan buffer yang cukup kuat. Namun, yang akan menjadi perhatian investor adalah apakah cadangan devisa September tetap terjaga ketika BI melakukan stabilisasi Rupiah di tengah tingginya volatilitas global,” tandas Imam.

 

Proyeksi IHSG

Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta. (BAY ISMOYO/AFP)

Kondisi rupiah turut menjadi faktor yang diperhatikan investor. Berdasarkan JISDOR, nilai tukar pada 2 Oktober 2026 berada di sekitar Rp17.898 per US$, setelah sebelumnya bergerak dalam rentang Rp17.800-Rp18.000 per US$.

Menurut Imam, cadangan devisa yang tetap solid dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, penurunan cadangan devisa yang signifikan dapat meningkatkan perhatian investor terhadap risiko eksternal dan kapasitas intervensi BI.

Selain rupiah, pergerakan yield US Treasury 10 tahun menjadi indikator penting. Yield sempat menyentuh 5,342% pada 1 Oktober 2026, level tertinggi sejak 2002, dan masih bertahan tinggi meski data tenaga kerja AS melemah.

Untuk pasar domestik, Imam melihat IHSG sedang berada pada titik krusial, yakni level 6.000. Pada penutupan terakhir, IHSG berada di 6.036,89 atau menguat 0,46% setelah sempat menyentuh 5.979,98.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya respons beli di sekitar level psikologis 6.000. Karena itu, penurunan ke bawah 6.000 belum dapat disebut sebagai breakdown yang terkonfirmasi.

Selama IHSG mampu bertahan di sekitar level tersebut, peluang technical rebound masih terbuka. Namun, konfirmasi perubahan tren baru akan terlihat jika indeks mampu membentuk higher high dan menembus resistance terdekat.

“Resistance pertama yang menurut saya paling penting adalah 6.184 - 6.200. Level 6.184 pada chart merupakan resistance pertama dan secara teknikal menjadi semacam confirmation level. Selama IHSG masih berada di bawah area tersebut, kenaikan dari 6.000 masih lebih tepat dianggap sebagai technical rebound, bukan perubahan tren. Jika indeks berhasil menembus 6.184 dan mampu bertahan di atasnya, struktur jangka pendek mulai membaik karena IHSG berhasil mengambil kembali area breakdown sebelumnya.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya