Minat Perusahaan Menggelar IPO Masih Rendah, Ini Penyebabnya

PT Pilarmas Investindo Sekuritas memaparkan alasan minat perusahaan melakukan initial public offering (IPO) masih rendah pada 2026.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Pilarmas Investindo Sekuritas menilai minat perusahaan melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) pada 2026 masih rendah. Pilarmas menyebutkan,perusahaan masih relatif hati-hati untuk masuk bursa saham karena kondisi valuasi dan permintaan investor belum optimal mempengaruhi penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) pada 2026.

PT Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, hingga 2 Oktober 2026, baru 7 perusahaan yang mencatatkan saham perdana dengan total dana dihimpun sekitar Rp 2,16 triliun. Masih terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline IPO, terdiri dari dua perusahaan aset besar, tiga beraset menengah, dan dua beraset kecil.

Di sisi lain, investor asing masih agresif melakukan aksi jual. Sepanjang 28 September-2 Oktober 2026, aksi jual asing mencapai Rp 4,32 triliun, sehingga total net sell sejak awal tahun menembus Rp 82,55 triliun. Tekanan itu mendorong IHSG susut 3,28% dalam sepekan.

Selain itu, tekanan pasar juga terjadi bersamaan dengan penerapan sejumlah perubahan mekanisme perdagangan BEI, termasuk penurunan batas harga minimum saham menjadi Rp 1 serta dimulainya perdagangan short selling dan intraday short selling (IDSS) pada 1 Oktober 2026.

"Kami menilai, kondisi tersebut mengindikasikan ada ketidakseimbangan antara pasar primer dan sekunder. Di satu sisi, perusahaan masih relatif berhati-hati untuk masuk bursa karena kondisi valuasi dan permintaan investor belum optimal,” demikian seperti dikutip dari riset Pilarmas Investindo Sekuritas.

Di sisi lain, Pilarmas Investindo Sekuritas menilai, keluarnya dana asing membuat likuiditas pasar berkurang dan dapat meningkatkan volatilitas, sehingga semakin menurunkan daya tarik IPO baru.

 

IHSG Masih Hadapi Tekanan

Pilarmas Investindo Sekuritas juga menilai, penerapan short selling dan intraday short selling (IDSS) sejak 1 Oktober juga berpotensi meningkatkan dinamika perdagangan dan volatilitas dalam jangka pendek. Namun, kehadiran instrumen itu dapat menjadi katalis positif dalam jangka panjang apabila mampu meningkatkan likuiditas dan efisiensi pembentukan harga.

“Kami memperkirakan, IHSG masih akan menghadapi tekanan dalam jangka pendek selama arus keluar asing belum mereda,” demikian seperti dikutip dari riset Pilarmas.

Pemulihan IPO

Selain itu, investor cenderung lebih selektif dengan fokus pada saham yang memiliki fundamental kuat, likuiditas tinggi dan katalis laba yang jelas.

"Sementara itu, pemulihan aktivitas IPO kemungkinan baru akan lebih kuat apabila sentimen global membaik dan investor asing kembali mencatatkan inflow,” demikian seperti dikutip dari riset Pilarmas Investindo Sekuritas.