Arab Saudi Keluarkan Peringatan Potensi Bahaya, Termasuk di Kota Mekkah

Dalam beberapa pekan terakhir, peringatan semacam ini kerap dikeluarkan menjelang serangan Houthi di Yaman.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 24 September 2026, 20:27 WIB
Mataf Ka’bah di Masjidil Haram dilihat dari lantai 61 Fairmont Hotel Makkah, 2 Juni 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani/Media Center Haji)

Liputan6.com, Riyadh - Pertahanan Sipil Arab Saudi pada Kamis (24/9/2026) siang waktu setempat mengeluarkan serangkaian peringatan singkat, termasuk untuk Kota Makkah yang menjadi lokasi sejumlah tempat paling suci bagi umat Islam. Peringatan semacam ini biasanya dikeluarkan ketika ada potensi ancaman rudal atau pesawat nirawak (drone).

"Platform Peringatan Dini Nasional telah mengeluarkan peringatan di Kota Makkah terkait adanya potensi bahaya," kata Pertahanan Sipil Arab Saudi seperti dilaporkan CNA.

Peringatan serupa juga dikeluarkan untuk Yanbu di pesisir Laut Merah, serta wilayah Taif, Jeddah, dan Tabuk.

Namun, seluruh peringatan itu dicabut beberapa menit kemudian. 

Pekan lalu, Arab Saudi menuduh Houthi menargetkan Makkah untuk pertama kalinya sejak 2017 menggunakan pesawat nirawak. Drone tersebut berhasil ditembak jatuh. Houthi membantah tuduhan itu.

Beberapa hari kemudian, kelompok tersebut menyerang ibu kota Arab Saudi, Riyadh, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun. Serangan itu menandai eskalasi baru dalam konflik.

Houthi telah berperang melawan koalisi pimpinan Arab Saudi yang sejak 2015 mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Dalam beberapa waktu terakhir, kelompok itu meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, sehingga konflik di Yaman semakin terseret ke dalam perang yang lebih luas di Timur Tengah.

Awal bulan ini, Houthi merebut sejumlah wilayah pesisir strategis yang menghadap Selat Bab al-Mandab, jalur penting bagi ekspor minyak Arab Saudi. Wilayah tersebut sebelumnya dikuasai pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.

Pada Juli, gencatan senjata rapuh antara Houthi dan pemerintah Yaman yang telah berlangsung sejak 2022 runtuh. Ketegangan kembali meningkat setelah Houthi mengizinkan sebuah pesawat Iran mendarat di Sanaa, yang bertentangan dengan kendali Riyadh atas ruang udara Yaman. Peristiwa itu kemudian memicu serangkaian serangan.

Houthi selanjutnya mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi dan mulai menyerang kapal-kapal tanker serta wilayah negara tersebut.

Kemajuan Houthi semakin memperkuat pengaruh Iran dan sekutunya di dua jalur perairan strategis yang menjadi tumpuan negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi sebagai salah satu eksportir minyak mentah terbesar dunia, untuk mengirimkan minyak mereka.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya