Mahasiswi di Batam Meninggal, Sempat Curhat Skripsi Ditolak Dosen

Peristiwa tersebut diketahui setelah teman kuliah korban mendatangi rumahnya.

Diterbitkan 24 September 2026, 19:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mahasiswi berinisial AAPF (21) ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Perumahan Kartini I, Kelurahan Sungai Harapan, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau, pada Rabu (23/9/2026).

Peristiwa tersebut diketahui setelah teman kuliah korban mendatangi rumahnya. Sebelumnya, saksi berupaya menghubungi korban melalui telepon seluler dan WhatsApp, tetapi tidak mendapat respons.

Saksi kemudian datang ke rumah korban untuk memastikan kondisinya. Saat tiba sekitar pukul 14.10 WIB, saksi memanggil korban, tetapi tidak mendapat jawaban. Korban kemudian ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di bagian belakang rumah.

Saksi selanjutnya menghubungi ibu korban. Informasi mengenai kejadian tersebut kemudian diteruskan kepada warga hingga akhirnya dilaporkan kepada kepolisian. Personel Polsek Sekupang langsung mendatangi lokasi dan melakukan pemeriksaan awal.

Tim Inafis Polresta Barelang tiba sekitar pukul 15.40 WIB untuk melakukan identifikasi dan pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP). Jenazah korban kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Polda Kepri Batam untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kapolsek Sekupang Kompol Hippal Tua Sirait mengatakan polisi masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak untuk mengetahui secara utuh rangkaian kejadian tersebut.

Salah satu informasi yang diperoleh polisi berkaitan dengan tugas akhir atau skripsi yang sedang dikerjakan korban.

Menurut keterangan teman kuliah dan keluarga, korban belakangan beberapa kali mencurahkan keluhannya mengenai proses penyelesaian skripsi.

"Orang tua juga memberikan keterangan bahwa korban belakangan sering curhat terkait skripsinya yang ditolak dosen," ujar Hippal kepada Liputan6.com, Kamis (24/9/2026).

Teman korban juga disebut datang ke rumah korban untuk menyampaikan informasi mengenai jadwal sidang skripsi yang sebelumnya telah dijadwalkan kembali. Meski demikian, polisi belum menyimpulkan adanya hubungan langsung antara persoalan skripsi dan kematian korban.

Hippal menegaskan seluruh informasi yang diterima masih dalam tahap pendalaman.

"Semua informasi masih kita kumpulkan. Nanti kalau sudah lengkap akan kita sampaikan," katanya.

Dari pemeriksaan awal terhadap kondisi jenazah, polisi menyebut belum menemukan tanda-tanda mencurigakan. Namun, jenazah tetap dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Hippal mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian sebelum proses pemeriksaan kepolisian selesai.

"Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan menyerahkan penanganan peristiwa ini kepada pihak kepolisian. Setiap informasi yang berkembang akan ditelusuri dan ditangani sesuai prosedur," ujarnya.

 

Pentingnya Perhatian Keluarga

Polisi juga mengingatkan pentingnya perhatian keluarga dan lingkungan terhadap seseorang yang sedang menghadapi persoalan berat.

Komunikasi dengan keluarga maupun pihak yang kompeten dinilai penting agar seseorang yang sedang mengalami tekanan dapat memperoleh dukungan.

Sementara itu, pihak Batam Tourism Polytechnic (BTP), tempat korban menempuh pendidikan, belum memberikan keterangan terkait persoalan akademik yang dialami korban.

Seorang petugas BTP yang ditemui mengatakan pihaknya belum dapat menyampaikan informasi karena pimpinan sedang berada di luar kota.

"Ini bukan kewenangan saya, paling menunggu pimpinan sampai di Batam. BTP kebetulan beliau masih di luar kota," ujarnya.

Berdasarkan keterangan rekan mahasiswa seangkatan, AAPF merupakan mahasiswa semester 7 Jurusan Kuliner di BTP. Korban disebut berada dalam angkatan yang sama dengan rekannya, meski berbeda kelas.

"Seangkatan cuma beda kelas, Jurusan Kuliner," ujar salah satu rekannya.