OECD Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tembus 5,2% pada 2026

Permintaan domestik yang tangguh dan kebijakan pemerintah menurut OECD mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 24 September 2026, 16:36 WIB
OECD merilis prediksi pertumbuhan ekonomi global dan Indonesia terbaru pada September 2026. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memprediksi ekonomi Indonesia mencapai 5,2% dan 5,1% pada 2026 dan 2027.

Hal itu tertuang dalam laporan OECD Economic Outlook, Interim Report September 2026: Weathering Sccuessive Shocks, dikutip Kamis, (24/9/2026).

OECD yang memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada 2026 ini naik dari prediksi Juni 2026. Pada prediksi Juni 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 4,7%.

OECD menyebutkan, pertumbuhan di beberapa negara pasar berkembang G20 lainnya yakni India, Indonesia dan Brasil ditopang oleh permintaan domestik yang tangguh serta kebijakan pemerintah yang melindungi rumah tangga dan perusahaan dari dampak kenaikan harga energi.

Selain itu, OECD mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil seiring membaiknya nilai tukar perdagangan atau term of trade yang mendukung pertumbuhan investasi lebih lanjut.

Sementara itu, inflasi Indonesia mencapai 3,3% pada 2026, angka ini lebih tinggi dari proyeksi Juni 2026 sekitar 3,4%. Sedangkan pada 2027, inflasi Indonesia diprediksi mencapai 3%, naik 0,5 poin atau 2,8% dari prediksi Juni 2026.

OECD menilai di negara ekonomi pasar berkembang anggota G20, inflasi umum diperkirakan meningkat dari 4,1% pada 2025 menjadi 4,8% pada 2026, sebelum melandai ke 4,3% pada 2027. Di beberapa negara ekonomi pasar berkembang antara lain India, Indonesia, dan Meksiko, langkah-langkah dukungan harga pemerintah turut meredam tekanan harga energi dan akan terus melakukannya dalam waktu dekat.

OECD Proyeksikan Ekonomi Indonesia Kalah dari Vietnam

Pernyataan tersebut menanggapi pandangan fraksi terhadap asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen hingga 5,7 persen dalam Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) RAPBN Tahun 2024. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperkirakan Vietnam akan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara sejumlah negara ASEAN pada 2026. Dalam OECD Economic Outlook Volume 2026 Issue 1, ekonomi Vietnam diproyeksikan tumbuh 6,5%, diikuti Indonesia 4,7%, Malaysia 4,2%, Filipina 3,2%, dan Thailand 1,7%.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa seluruh negara menghadapi tekanan dari kenaikan harga energi global dan dampak konflik yang berkembang di Timur Tengah. Namun, tingkat ketahanan masing-masing negara berbeda tergantung struktur ekonomi, ketergantungan terhadap impor energi, serta kondisi permintaan domestik.

OECD mencatat Vietnam masih akan mencatat pertumbuhan paling kuat meskipun laju ekspansinya melambat dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, investasi yang didorong proyek sektor publik, serta ekspor yang masih ditunjang permintaan teknologi baru.

“PDB diproyeksikan tumbuh 6,5% pada 2026 dan 6,2% pada 2027. Konsumsi swasta akan tetap kuat karena pertumbuhan upah dan lapangan kerja yang solid, sementara pertumbuhan investasi akan didukung oleh proyek-proyek yang dipimpin sektor publik dalam rencana lima tahun yang baru,” tulis OECD mengenai Vietnam dikutip Kamis (4/6/2026).

Untuk Indonesia, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,7% pada 2026 sebelum meningkat menjadi 5,0% pada 2027. Namun, kenaikan harga energi global, biaya pinjaman yang lebih tinggi, dan ketidakpastian kebijakan diperkirakan akan membebani konsumsi serta investasi swasta.

“PDB riil diproyeksikan tumbuh sebesar 4,7% pada 2026 dan 5,0% pada 2027. Harga energi global yang lebih tinggi, meningkatnya biaya pinjaman setelah pengetatan kebijakan moneter baru-baru ini, dan ketidakpastian kebijakan yang masih tinggi diperkirakan akan menekan konsumsi dan investasi swasta di tengah pasar tenaga kerja yang melunak,” tulis OECD mengenai Indonesia.

 

Negara Lain

Sejumlah turis menyusuri Sungai Melaka di Melaka, Malaysia, 19 September 2020. Meski tidak lagi menjadi pusat penyaluran barang dagang, Melaka masih menarik minat banyak turis dari seluruh dunia seiring pariwisata menjadi pilar bagi ekonomi lokal. (Xinhua/Zhu Wei)

Sementara itu, Malaysia diproyeksikan membukukan pertumbuhan 4,2% pada 2026 dan meningkat menjadi 4,8% pada 2027. OECD menilai konsumsi domestik akan tetap kuat berkat kondisi pasar tenaga kerja yang baik, sementara investasi akan didukung sektor teknologi seperti semikonduktor.

Filipina diperkirakan menjadi salah satu negara yang paling terdampak oleh kenaikan harga energi karena ketergantungannya terhadap impor energi. OECD memperkirakan ekonomi negara tersebut hanya tumbuh 3,2% pada 2026 sebelum pulih ke 5,0% pada 2027. Konsumsi rumah tangga diperkirakan melemah akibat inflasi yang lebih tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih lemah.

Adapun Thailand diproyeksikan mencatat pertumbuhan terendah di antara negara-negara yang dibandingkan, yakni 1,7% pada 2026 dan 2,1% pada 2027. OECD menyebut perlambatan tersebut terutama dipengaruhi dampak konflik Timur Tengah terhadap perdagangan dan permintaan domestik.

“Pertumbuhan PDB diproyeksikan sebesar 1,7% pada 2026 akibat dampak ekonomi dari konflik yang berkembang di Timur Tengah. Ekspor dan investasi diperkirakan akan sangat lemah terutama pada kuartal kedua,” tulis OECD mengenai Thailand.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya