Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam keras tindakan Israel di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki saat berpidato di sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pidato tersebut membuat delegasi Israel meninggalkan ruangan, sementara perwakilan Palestina menyambutnya dengan tepuk tangan. Dalam pidatonya, Erdogan menyoroti kejahatan perang Israel yang terus berlangsung di Gaza serta meningkatnya serangan oleh pemukim Israel di Tepi Barat.
Advertisement
"Dengan dukungan (Presiden Donald) Trump, kami turut membantu terwujudnya gencatan senjata. Namun, di tengah apa yang disebut sebagai gencatan senjata ini, lebih dari 1.300 warga sipil telah dibunuh di Gaza," kata Erdogan seperti dilaporkan Al Jazeera.
Erdogan mengatakan Hamas dan kelompok-kelompok Palestina lainnya telah menerima tahap kedua dari kerangka kesepakatan gencatan senjata Oktober. Namun, menurut dia, Israel belum menghentikan serangannya di Gaza, sementara Tepi Barat tengah menghadapi situasi yang semakin sulit akibat aktivitas pemukim ilegal Israel.
"Israel tidak menghentikan tindakannya di Gaza, sementara Tepi Barat tengah menghadapi masa yang paling sulit karena para pemukim ilegal Israel menduduki wilayah tersebut," ujarnya.
Erdogan menggambarkan Gaza sebagai "kamp konsentrasi paling tidak manusiawi sekaligus paling memalukan di zaman ini".
"Kita menghadapi mentalitas genosida yang tidak pernah puas membunuh. Tidak seorang pun yang masih memiliki rasa kemanusiaan, belas kasih, atau hati nurani dapat menutup mata," tambahnya.
"Sepenuhnya benar"
Salman Shaikh, mantan pejabat PBB yang pernah berada di Gaza dan pendiri The Shaikh Group, mengatakan bahwa pernyataan Erdogan di Sidang Majelis Umum PBB sepenuhnya benar.
"Hal yang penting dari pidato Erdogan adalah (gagasan) bahwa kita tidak boleh membiarkan apa yang terjadi di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki menjadi keadaan yang dianggap normal," kata Shaikh.
Ia menambahkan, Turki merupakan aktor regional dan internasional yang sangat diperlukan, dengan peran yang menjangkau banyak kawasan dan organisasi.
Erdogan turut melontarkan kritik keras terhadap PBB yang menurutnya gagal menjalankan tanggung jawab dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas di berbagai wilayah konflik.
"Delapan puluh satu tahun lalu, PBB dibentuk untuk menjaga perdamaian dan stabilitas dunia. Namun sayangnya, PBB gagal menjalankan tugasnya," tegasnya.
Menurut Erdogan, PBB telah dibuat lumpuh dan kini tak berdaya menghadapi krisis di Palestina, Lebanon, dan Sudan.
Abbas Tidak Hadir
Erdogan juga menyinggung ketidakhadiran Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam Sidang Majelis Umum PBB. Abbas tidak dapat menghadiri pertemuan tersebut setelah Amerika Serikat menolak memberinya visa masuk. Ini menjadi kali kedua dalam dua tahun terakhir.
"Perlu diketahui, meskipun Presiden Abbas tidak dapat hadir bersama kita secara langsung di sini, kami, seperti yang kami lakukan tahun lalu, akan terus menjadi suara bagi negara Palestina yang merdeka dan berdaulat," kata Erdogan.
Dalam pidato yang sama, Erdogan juga menyinggung perang Rusia-Ukraina. Ia mengatakan sudah waktunya konflik tersebut diakhiri.
"Harapan tulus kami adalah mengakhiri perang Ukraina-Rusia dengan tetap menjaga keutuhan wilayah dan kedaulatan Ukraina," imbuhnya.