Liputan6.com, Jakarta - Kuliner dari berbagai negara semakin mudah ditemukan dalam keseharian masyarakat Indonesia. Cita rasa Taiwan, Jepang, Korea Selatan, hingga China hadir melalui minuman, makanan ringan, hidangan utama, serta konsep restoran yang menawarkan pengalaman berbeda.
Kehadiran kuliner global tidak selalu berarti membawa konsep dari negara asal secara utuh. Pelaku industri makanan dan minuman perlu memahami karakter konsumen Indonesia.
Advertisement
Devin Widya Krisnadi, CEO PT F&B Indonesia (F&B ID), mengatakan proses tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam membawa brand internasional ke pasar Indonesia.
"Ketika kami membawa brand global, kami melihat bagaimana brand tersebut bisa relevan dengan konsumen Indonesia tanpa kehilangan core-nya," kata dia saat jumpa pers di Jakarta, Senin, 21 September 2026.
Perjalanan tersebut bermula dari kehadiran Chatime di Indonesia sekitar 15 tahun lalu. Merek minuman asal Taiwan itu dipilih setelah tim melihat kuatnya budaya minum teh di negara asalnya.
"Di Taiwan itu budaya tehnya cukup kuat. Di setiap sudut jalan ada teh, ada bubble tea. Kami ingin punya brand yang bisa hadir barengan dengan toko-toko Kawan Lama Group," ucap Devin.
Chatime kemudian menjadi salah satu pintu masuk kuliner Taiwan ke pasar Indonesia melalui kategori minuman. Perkembangan portofolio berlanjut ke berbagai makanan dan minuman dari negara lain, termasuk Gindaco dari Jepang, Cupbop, Go! Go! CURRY, serta 88 SEOUL yang dikembangkan sebagai brand kreasi sendiri.
Menjaga Identitas dan Mengembangkan Pengalaman
Marketing General Manager F&B ID, Sarah Merci, menilai proses lokalisasi tidak identik dengan mengubah karakter produk secara keseluruhan.
"Ketika membawa brand global ke Indonesia, yang paling penting adalah menjaga core-nya. Jangan sampai ketika diterjemahkan menjadi local relevance, brand tersebut justru kehilangan identitasnya," ujarnya.
Prinsip itu terlihat dalam pengembangan Gindaco menjadi Gindaco Yokocho. Gindaco tetap menempatkan takoyaki sebagai produk utama, sementara konsep Yokocho menghadirkan pilihan Japanese street food lain, seperti yakitori.
Operation General Manager F&B ID, Daniel Yahya, menjelaskan perluasan tersebut bertujuan memperkaya pengalaman konsumen tanpa menggeser karakter utama Gindaco. "Essence dari Gindaco tetap takoyaki. Kami hanya memperluas kategorinya dan experience-nya menjadi lebih beragam," tutur dia.
Mengolah Cita Rasa Asing agar Lebih Mudah Diterima
Konsep serupa juga muncul dalam rencana kehadiran M Stand, jaringan kedai kopi asal Shanghai, China. Merek tersebut menarik perhatian setelah tim melakukan kunjungan ke Shanghai pada 2024 dan melihat perkembangan budaya kopi di kota tersebut.
M Stand menawarkan perpaduan antara kopi, desain, dan gaya hidup. Konsep one store, one design membuat setiap gerai memiliki tampilan berbeda sehingga konsumen mendapatkan pengalaman yang tidak hanya berpusat pada minuman.
Sarah mengatakan, konsep tersebut menjadi cara untuk memperkenalkan budaya kopi Shanghai pada masyarakat Indonesia. "Yang ingin kami tawarkan adalah lifestyle yang relevan, yaitu bagaimana Shanghai Coffee Lifestyle bisa berbicara dengan masyarakat Indonesia," katanya.
Pengalaman kuliner global juga diarahkan agar tidak terasa sebagai sesuatu yang hanya dinikmati pada kesempatan tertentu. Produk dari berbagai negara ditempatkan sebagai pilihan yang dapat berdampingan dengan makanan dan minuman yang sudah akrab bagi konsumen lokal.
Bagian dari Keseharian
"Global flavours yang kami bawa ingin kami tempatkan setara dengan makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Bukan sesuatu yang lebih tinggi, tapi menjadi bagian dari variasi," kata Sarah.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa adaptasi kuliner global tidak hanya berkaitan dengan rasa. Penyajian, suasana gerai, pilihan menu, hingga cara sebuah brand memperkenalkan budaya asal turut menentukan bagaimana pengalaman tersebut diterima konsumen Indonesia.
Devin melihat keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pengembangan setiap brand. Perusahaan tidak ingin membangun bisnis hanya berdasarkan popularitas sesaat, namun juga memperhatikan identitas dan kemampuan merek untuk berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.
"Kami ingin brand-brand yang kami bawa bukan hanya viral sesaat, tapi bisa bertahan lama dan memiliki long-term value," tandasnya.