KNKT Sebut Pelatihan Tanggap Darurat Awak Kapal Harus Jadi Kebutuhan

KNKT menemukan latihan (penanganan kedaruratan) di kapal masih sebatas formalitas.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 19 September 2026, 09:27 WIB
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono saat konferensi pers, di KNKT, Rabu (28/1/2026). (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mendorong pelatihan tanggap darurat menjadi kewajiban untuk melatih awak kapal agar dapat melakukan tanggap darurat dengan baik. Hal ini seiring penanganan kedaruratan di kapal roro belum maksimal sehingga saat terjadi kecelakaan menyebabkan banyak korban.

Demikian disampaikan Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dikutip dari Antara, Sabtu (19/9/2026).

"Latihan (penanganan kedaruratan) di kapal itu masih sebatas formalitas belum menjadi satu keharusan," tutur Soerjanto dikutip dari Antara.

Ia menuturkan, dari hasil investigasi dan juga praktik di lapangan penanganan kedaruratan di kapal masih belum maksimal sehingga ketika terjadi kecelakaan penanganan belum maksimal.

Soerjanto menambahkan, pelatihan tanggap darurat menjadi satu keharusan atau satu kebutuhan untuk melatih para awak kapal supaya bisa melakukan tanggap darurat dengan baik.

"Jadi latihan tanggap darurat bukan ditunjukkan untuk keberhasilan tapi untuk mengetahui kelemahan atau kekurangan agar dapat dilakukan penyempurnaan," kata Soerjanto.

Soerjanto menuturkan, KNKT pernah melakukan simulasi tanggap darurat di kapal, tetapi banyak kendala yang ditemukan baik ketika simulasi kebakaran, penggunaan jaket pelampung, dan juga minimnya kapal penolong.

Pada saat simulasi kebakaran, menurut dia, petugas mengalami kendala ketika akan menggunakan selang hidran, karena tidak bisa digunakan dengan baik sebab terdapat sejumlah hambatan terutama saat muatan penuh.

 

Ditemui Banyak Hambatan

Tidak hanya itu, kata Soerjanto untuk memakai pakaian anti api juga memerlukan waktu kurang lebih lima sampai delapan menit dan harus berdua.

"Kenapa banyak gagal ketika kebakaran, hidrannya tidak berfungsi dengan baik karena memang ternyata setelah kita praktekkan banyak hambatan," tutur dia.

Ia menambahkan, pemakaian life jacket atau jaket pelampung juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar, karena dibutuhkan tiga sampai enam menit.

"Kita amati setelah kita lakukan briefing terus kita minta teman-teman baik kru kapal maupun yang bukan kru kapal ternyata rata-rata mereka menggunakan life jacket antara tiga menit sampai enam menit," ujar dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya