Harga Minyak Dunia Tembus US$ 101 per Barel, Tertinggi Sejak Mei

Harga minyak dunia naik ke atas US$ 101 per barel saat konflik AS-Iran kembali memanas dan mengancam ekspor energi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 10 September 2026, 07:40 WIB
Para pekerja melakukan perawatan pipa di stasiun degasifikasi di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% pada Rabu setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas di kawasan Teluk Persia. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap terganggunya ekspor energi melalui Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Kamis (10/9/2026), kontrak minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga minyak dunia naik 3,4% menjadi US$ 101,21 per barel. Harga tersebut merupakan level penutupan tertinggi sejak 22 Mei.

Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,3% dan ditutup di level US$ 96,05 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah militer AS menghancurkan lima kapal tanker minyak mentah Iran pada Selasa. Serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas upaya serangan terhadap kapal perang AS.

Komando Pusat AS menyatakan kapal perang tersebut berhasil menghindari serangan Iran dan tidak ada personel AS yang terluka.

 

Harga Bensin Juga Catat Rekor Baru

Kenaikan harga minyak dunia dipicu beberapa faktor utama, terutama situasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Kenaikan harga minyak juga mulai berdampak pada harga bahan bakar di AS. Harga bensin bahkan mencatat rekor baru seiring kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Pada Senin, harga bensin mencapai US$ 4,15 per galon, menjadi rekor tertinggi untuk periode Hari Buruh atau Labor Day.

Sementara itu, harga diesel diperkirakan menembus US$ 6 per galon untuk pertama kalinya dalam sejarah dalam beberapa hari mendatang.

"Dalam beberapa hari mendatang, diesel diperkirakan mencapai US$ 6 per galon untuk pertama kalinya," kata Patrick De Haan, Kepala Analisis Perminyakan GasBuddy, dalam unggahan di media sosial pada Rabu.

Konflik AS dan Iran yang kini memasuki bulan ketujuh juga meningkatkan risiko lonjakan harga minyak hingga di atas US$ 120 per barel.

Co-head Global Commodities Research Goldman Sachs, Daan Struyven, mengatakan risiko tersebut meningkat seiring serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut semakin intensif.

Mencari Jalur Pelayaran Alternatif

Seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Dalam wawancara dengan CNBC, Struyven mengatakan Goldman Sachs masih memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia akan berangsur pulih.

Skenario dasar Goldman Sachs memperkirakan produsen akan beradaptasi terhadap gangguan distribusi, termasuk dengan menggunakan jalur pelayaran alternatif dan pada akhirnya menambah kapasitas jaringan pipa.

Namun, eskalasi konflik terbaru meningkatkan peluang munculnya skenario yang lebih bullish bagi harga minyak.

Struyven mengatakan ekspor minyak berpotensi gagal pulih dalam beberapa bulan mendatang jika serangan terhadap kapal tanker terus berlangsung.

AS dan Iran sebelumnya relatif menahan diri dari konflik terbuka selama sekitar satu bulan setelah pecahnya kekerasan pada Juli.

Washington kemudian mengalihkan fokus dengan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Namun, pertempuran kembali pecah setelah Iran terus melancarkan serangan terhadap lalu lintas kapal komersial di dalam dan sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya