Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat angka literasi dan inklusi keuangan nasional terbaru, termasuk untuk kalangan remaja. Angka bagi kelompok remaja ini ternyata masih tercatat lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata nasional.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyoroti tingkat literasi dan inklusi keuangan di kalangan pelajar serta mahasiswa yang masing-masing tercatat sebesar 62,72% dan 92,76%.
Advertisement
"Kalau kita melihat literasi dan inklusi keuangan pelajar serta mahasiswa, ini masih di bawah standar nasional," kata Friderica dalam acara Hari Indonesia Menabung di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026).
Capaian tersebut berada di bawah indeks literasi keuangan nasional yang sebesar 69,57% dan inklusi keuangan sebesar 93,61%. Kendati demikian, angka hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) ini sejatinya telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
"Maka dari itu, ini menjadi tugas kita semua yang ada di sini, termasuk para kepala daerah, untuk semakin meningkatkan indeks literasi dan inklusi pelajar di Indonesia," ujar Friderica.
Saat ini, terdapat sekitar 88 juta penduduk berstatus pelajar dan mahasiswa. Jumlah tersebut mewakili sekitar 31% dari total populasi penduduk Indonesia yang mencapai 287,2 juta jiwa.
Hasil Survei Nasional
Sebelumnya, OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil SNLIK 2026. Hasil survei menunjukkan bahwa pemahaman dan akses masyarakat terhadap produk serta layanan jasa keuangan terus menguat.
Indeks literasi keuangan nasional 2026 tercatat mencapai 69,57%, sedangkan indeks inklusi keuangan menembus 93,61%. Capaian tersebut mengindikasikan semakin banyak masyarakat yang memahami produk keuangan sekaligus memiliki akses terhadap layanan jasa keuangan resmi.
Friderica Widyasari Dewi menyampaikan bahwa peningkatan tersebut menjadi titik terang bagi penguatan sektor keuangan nasional. Menurutnya, hasil SNLIK 2026 memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai kondisi masyarakat di berbagai kelompok umur dan wilayah.
"Pendekatan edukasi tentu saja tidak bisa bersifat one size fits all. Kita membutuhkan life cycle approach terhadap literasi keuangan," ujar Friderica dalam pemaparan hasil SNLIK 2026 di Kantor BPS, Senin (10/8/2026).
Kelompok Usia Produktif Tertinggi
Friderica menjelaskan bahwa kelompok usia produktif 26–35 tahun menjadi kelompok dengan tingkat literasi dan inklusi keuangan tertinggi. Tingkat literasi pada kelompok ini mencapai 78,7%, sementara inklusinya berada di angka 96,27%.
Capaian tersebut mencerminkan kuatnya pemahaman dan akses keuangan pada kelompok usia produktif. Namun, OJK menilai masih ada ruang yang perlu ditingkatkan pada kelompok usia yang lebih muda serta kelompok lanjut usia.
Tercatat, literasi keuangan pada kelompok usia 15–17 tahun berada di angka 46,4%, sedangkan kelompok usia 51–79 tahun sebesar 60,01%. OJK menetapkan kedua kelompok tersebut sebagai sasaran prioritas edukasi dengan pendekatan yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan masing-masing.
Intervensi untuk Generasi Muda
"Untuk generasi muda, intervensi harus dilakukan sebelum mereka menjadi pengguna aktif dari produk keuangan. Sementara untuk kelompok usia lanjut, pendekatannya harus semakin sederhana, aman, dan relevan dengan kebutuhan mereka," tegasnya.
Menurut Friderica, hasil SNLIK 2026 akan menjadi pijakan bagi OJK untuk memperluas program literasi berbasis karakteristik masyarakat. Ke depan, OJK juga akan memberikan perhatian khusus kepada masyarakat di perdesaan, kelompok pekerjaan tertentu, serta masyarakat dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih rendah.