Beli Mobil Jangan FOMO, Sesuaikan dengan Kemampuan Finansial

Jangan beli mobil karena karena takut tertinggal tren. Cek lagi kemampuan finansialmu.

oleh Arief AszhariDiterbitkan 09 Agustus 2026, 10:00 WIB
TAF dan OJK Edukasi Kelola Keuangan di GIIAS 2026 soal beli mobil. (ist)

Liputan6.com, Jakarta - PT Toyota Astra Financial Services (TAF) berkolaborasi dengan Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memberikan edukasi finansial kepada pengunjung Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.

Di tengah pertumbuhan pasar otomotif, industri pembiayaan juga mencatat perkembangan positif. Berdasarkan Rapat Dewan Komisioner Juli 2026, yang diterbitkan OJK pada 4 Agustus 2026, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan pada Juni 2026 mencapai Rp 511,26 triliun. Angka tersebut tumbuh 1,88 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

TAF memanfaatkan momentum GIIAS 2026 untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan pembiayaan sekaligus mendorong pemahaman finansial yang lebih baik.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari dukungan terhadap Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) yang dicanangkan OJK, dengan target Indeks Inklusi Keuangan Nasional mencapai 98 persen pada Indonesia Emas 2045.

Sepanjang 2025, GENCARKAN telah menjangkau 4,56 juta peserta melalui 37.203 kegiatan edukasi. Program tersebut turut didukung 21.434 konten digital yang mencatat lebih dari 306,7 juta kunjungan.

Direktur TAF Ezar Kumendong mengatakan, literasi keuangan menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan.

"Bagi TAF, literasi keuangan adalah fondasi dari pembiayaan yang sehat. Nasabah yang memahami produk dan kondisi finansialnya secara utuh akan mengambil keputusan yang lebih baik. Dan pada akhirnya, itu menciptakan kualitas portofolio yang lebih berkelanjutan bagi industri," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, peserta juga diperkenalkan dengan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025. Indeks literasi keuangan Indonesia tercatat 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan berada di angka 80,51 persen.

Perilaku Finansial yang Harus Dihindari

OJK turut mengingatkan sejumlah perilaku finansial yang perlu diwaspadai, khususnya di kalangan generasi muda. Mulai dari:

  • FOMO (Fear of Missing Out), yakni membeli sesuatu karena takut tertinggal tren
  • FOPO (Fear of Other People's Opinion), yaitu berbelanja demi mendapatkan pengakuan dari orang lain, serta,
  • YOLO (You Only Live Once), ketika seseorang menghabiskan uang untuk kesenangan saat ini tanpa mempertimbangkan kebutuhan masa depan.

Ada pula fenomena doom spending, yakni kebiasaan berbelanja berlebihan sebagai respons terhadap stres atau pesimisme terhadap kondisi ekonomi dan masa depan. Karena itu, masyarakat diimbau mampu menentukan skala prioritas dan tidak mudah terpengaruh promosi maupun media sosial.

Selain mengatur pengeluaran, dibahas juga tentang membangun kondisi finansial yang sehat. Mulai dari menyiapkan dana darurat, menghindari utang konsumtif, serta menyusun target keuangan.

Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai berbagai modus kejahatan keuangan digital, mulai dari pinjaman online ilegal, investasi ilegal, judi online, impersonation, fake SMS masking, hingga social engineering

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya