Gelombang Panas Terjang Italia, 25 Kota Berstatus Peringatan Merah

Italia menghadapi gelombang panas besar keempat pada musim panas tahun ini dengan suhu melampaui 40 derajat Celsius.

oleh Tim GlobalDiterbitkan 05 Agustus 2026, 18:03 WIB
Italia menghadapi gelombang panas besar keempat pada musim panas tahun ini dengan suhu melampaui 40 derajat Celsius. (Filippo MONTEFORTE/AFP)

Liputan6.com, Roma - Italia menghadapi gelombang panas besar keempat pada musim panas tahun ini, dengan suhu di sejumlah wilayah negara itu melampaui 40 derajat Celsius dan jumlah kota yang berada di bawah status peringatan panas tertinggi mencapai rekor baru.

Dikutip dari Antara, Otoritas negara itu meningkatkan langkah-langkah darurat di tengah meningkatnya kekhawatiran terkait kesehatan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta pertanian.

Gelombang panas terbaru mencapai puncaknya pada Senin (3/8/2026), ketika Kementerian Kesehatan Italia menetapkan 25 dari 27 kota yang dipantau di negara itu dalam status "peringatan merah", yakni tingkat peringatan tertinggi yang diberlakukan untuk cuaca panas ekstrem.

Peringatan tersebut mencakup sejumlah kota besar seperti Roma, Milan, Florence, Bologna, Venesia, Napoli, dan Palermo, yang mengindikasikan kondisi cuaca berisiko terhadap kesehatan tidak hanya bagi kelompok rentan tetapi juga bagi orang-orang sehat yang terpapar suhu tinggi dalam waktu lama.

Suhu di sejumlah wilayah pedalaman melampaui 40 derajat Celsius, sementara para prakirawan cuaca memperingatkan bahwa penurunan suhu kemungkinan tidak akan terjadi sebelum akhir minggu ini.

Otoritas kesehatan setempat mengimbau warga dan wisatawan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan pada jam-jam terpanas, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta secara rutin memeriksa kondisi kerabat dan tetangga lanjut usia (lansia).

Kementerian Kesehatan Italia terus menerbitkan buletin harian mengenai gelombang panas yang mencakup 27 kota besar, sembari mengoordinasikan upaya tanggap darurat dengan pemerintah daerah dan Departemen Perlindungan Sipil berdasarkan rencana darurat gelombang panas nasional.

Risiko Karhutla Meningkat

Dua orang membuka payung untuk melindungi diri dari terik matahari saat berdiri di depan Basilika Santa Maria Maggiore di pusat kota Roma pada 11 Agustus 2025. (Filippo MONTEFORTE/AFP)

Cuaca panas dan kering yang berkepanjangan juga meningkatkan risiko karhutla, terutama di wilayah Italia selatan serta di dua pulau terbesar negara itu, Sisilia dan Sardinia.

Petugas pemadam kebakaran tetap dalam status siaga tinggi karena angin kencang dan vegetasi sangat kering menciptakan kondisi yang mendukung penyebaran api dengan cepat, sementara otoritas setempat terus memantau kawasan-kawasan yang dinilai paling rentan

Di luar masalah keselamatan publik, gelombang panas juga memberikan tekanan yang semakin besar pada sektor pertanian Italia. Para petani memperingatkan bahwa kekeringan berkepanjangan dan suhu yang sangat tinggi telah menurunkan hasil panen, meningkatkan kebutuhan irigasi, serta membuat ternak mengalami stres panas yang parah.

Di wilayah Piedmont, Italia barat laut, suhu yang luar biasa tinggi mempercepat pematangan buah anggur, sehingga mendorong dimulainya musim panen lebih awal dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Gelombang panas tersebut juga memperparah kondisi kekeringan di kawasan cekungan Sungai Po, wilayah pertanian terpenting di Italia. Otoritas Cekungan Sungai Po menyatakan bahwa suhu tinggi yang berlangsung terus-menerus serta minimnya curah hujan telah menyebabkan sebagian besar kawasan cekungan berada dalam kondisi tertekan, dengan debit sungai yang rendah mengganggu irigasi dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan air minum di sejumlah kota di wilayah utara Italia.

 

Perubahan Iklim

Otoritas setempat memperingatkan bahwa intrusi air laut di Delta Sungai Po mengancam lahan pertanian, sementara truk tangki telah dikerahkan untuk memasok air minum ke sejumlah komunitas di wilayah Lombardy.

Lorenzo Giovannini, fisikawan atmosfer dari Universitas Trento, mengatakan kepada kantor berita Italia ANSA bahwa meskipun sulit memprediksi secara pasti kapan setiap gelombang panas akan terjadi, perubahan iklim membuat fenomena tersebut berlangsung "lebih lama dan lebih intens."

Suhu tinggi yang berlangsung terus-menerus, kekeringan berkepanjangan, dan menurunnya ketersediaan air kini semakin menjadi ciri yang saling terkait dari musim panas di Italia, jelas Giovannini, menimbulkan tekanan yang semakin besar terhadap ekosistem, pertanian, dan kesehatan masyarakat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya