Usai Gempa, Kumamoto Jepang Hadapi Suhu Terpanas dalam Sejarah

Prefektur Kumamoto semakin berat setelah suhu udara untuk pertama kalinya menembus 40 derajat Celsius.

oleh Septian DenyDiterbitkan 04 Agustus 2026, 15:00 WIB
Warga berjalan bersama anjingnya melewati bangunan yang runtuh akibat gempa bumi di Yatsushiro, prefektur Kumamoto. (Juntaro Yokoyama/Kyodo News via AP)

Liputan6.com, Tokyo - Kondisi di Prefektur Kumamoto semakin berat setelah suhu udara untuk pertama kalinya menembus 40 derajat Celsius di tengah upaya pemulihan pascagempa yang mengguncang wilayah tersebut pada Selasa pekan lalu.

Dikutip dari The Japan Times, Selasa (4/8/2026), suhu di Kota Kumamoto mencapai 40,3 derajat Celsius pada Senin, menjadi rekor tertinggi yang pernah tercatat di prefektur tersebut.

Gelombang panas tersebut menambah tantangan bagi lebih dari 8.500 warga yang masih bertahan di tempat-tempat pengungsian setelah gempa yang mencapai intensitas shindo 7, level tertinggi dalam skala intensitas gempa Jepang.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Prefektur Kumamoto mulai menyiapkan pemindahan para pengungsi ke hotel dan fasilitas penginapan lain di Kota Uto, Uki, Yatsushiro, serta Kota Hikawa sebagai lokasi evakuasi tahap kedua.

Menurut pemerintah prefektur, seluruh warga terdampak berhak dipindahkan ke fasilitas tersebut. Selebaran mengenai proses relokasi telah dibagikan di pusat-pusat pengungsian pada Senin, sementara pemindahan dijadwalkan mulai dilakukan paling cepat pada Selasa.

"Kami akan melakukan persiapan agar para pengungsi dapat segera dipindahkan," kata Gubernur Kumamoto Takashi Kimura kepada wartawan pada Minggu.

Selain memindahkan pengungsi, pemerintah juga akan membangun hunian sementara untuk warga yang kehilangan tempat tinggal. Sebanyak 50 unit rumah sementara akan dibangun di Kota Uki dan 20 unit lainnya di Hikawa, dua wilayah yang mengalami kerusakan paling parah. Hunian tersebut diperkirakan mulai dapat ditempati pada September atau setelahnya.

 

 

Jumlah Korban Meninggal

Gambar udara ini menunjukkan cerobong asap di Pabrik Yatsushiro milik Nippon Paper Industries yang runtuh akibat gempa bumi di Yatsushiro, Prefektur Kumamoto. (Kyodo News via AP)

Hingga Senin, jumlah korban meninggal akibat gempa tercatat mencapai 38 orang, termasuk korban yang masih dalam penyelidikan untuk memastikan keterkaitannya dengan bencana tersebut, menurut pusat penanggulangan bencana Prefektur Kumamoto.

Di antara para korban, seorang perempuan berusia 70-an tahun yang diduga meninggal akibat serangan panas berpotensi menjadi korban pertama yang dinyatakan meninggal akibat dampak tidak langsung dari bencana tersebut.

Sementara itu, jumlah rumah yang mengalami kerusakan telah mencapai 4.622 unit. Gangguan pasokan air masih dialami sekitar 46.700 rumah tangga.

Sebanyak 8.556 orang masih mengungsi di 206 pusat evakuasi, sementara sebagian lainnya memilih bertahan di dalam mobil mereka.

Di Kota Hikawa, pemerintah daerah mulai menerima puing-puing bangunan dari warga di lokasi penampungan sementara yang dibuka pada Senin.

Sejak pagi, warga mulai berdatangan membawa berbagai barang yang rusak akibat gempa. Akio Hatano (80) membawa pecahan tembikar dan pintu geser shoji yang hancur.

"Saya senang akhirnya bisa membawa barang-barang ini ke sini, tetapi masih akan membutuhkan waktu lama untuk membersihkan semuanya," ujarnya.

Seorang warga Hikawa lainnya yang berusia 71 tahun juga datang membawa perabot rumah tangga yang rusak, termasuk rak dan lemari laci.

"Bagian dalam rumah kami masih sangat berantakan," katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya