IPO Asia Tenggara Cetak Pendanaan Rp 55,37 Triliun, Singapura Lampaui Indonesia

Deloitte mencatat dana IPO Asia Tenggara melonjak 117% pada semester I-2026. Indonesia disalip Singapura dalam peringkat regional.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 04 Agustus 2026, 13:35 WIB
Pekerja berjalan dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026. (KLY/ Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) di Asia Tenggara menunjukkan ketahanan pada semester I-2026. Meski jumlah perusahaan yang melantai di bursa berkurang, nilai dana yang berhasil dihimpun justru melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Hal tersebut terungkap dalam laporan Southeast Asia Mid-Year IPO Snapshot 2026 yang dirilis Deloitte. Laporan tersebut mencatat terdapat 47 IPO di Asia Tenggara sepanjang enam bulan pertama 2026, dengan total dana yang dihimpun mencapai lebih dari US$ 3,07 miliar atau kurang lebih Rp 55,37 triliun (estimasi kurs Rp 18.038 per dolar AS). Nilai kapitalisasi pasar IPO juga meningkat menjadi US$ 15,07 miliar.

Sebagai perbandingan, pada semester I-2025 terdapat 53 IPO dengan total penghimpunan dana sebesar US$ 1,41 miliar dan kapitalisasi pasar US$ 7,70 miliar.

Capital Markets Services Leader Deloitte Southeast Asia, Tay Hwee Ling, menilai pasar IPO kawasan tetap menunjukkan ketangguhan meski aktivitas pencatatan saham melambat.

"Pasar IPO Asia Tenggara pada semester I-2026 menunjukkan kinerja yang tangguh di tengah masa transisi, yang ditandai dengan perbedaan mencolok antara volume transaksi dan nilai pendanaan yang dihimpun," kata Tay Hwee Ling dalam keterangan tertulis, Selasa (4/8/2026).

"Di tingkat regional, aktivitas IPO mengalami perlambatan dari segi jumlah pencatatan saham, di mana semester I-2026 hanya mencatatkan 47 IPO dibandingkan dengan 53 IPO pada semester I-2025. Namun, total dana segar IPO yang berhasil dihimpun justru melonjak tajam menjadi sekitar US$ 3,07 miliar, mencerminkan adanya pergeseran struktural yang lebih luas di pasar," tambah dia. 

Laporan Deloitte juga mencatat hadirnya tiga IPO jumbo yang masing-masing menghimpun dana lebih dari US$ 500 juta, pencapaian yang tidak terjadi pada periode yang sama tahun lalu.

 

Singapura Menyalip Indonesia

Pekerja berjalan dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (KLY/ Arie Basuki)

Salah satu temuan penting dalam laporan tersebut adalah bergesernya peta persaingan pasar modal di kawasan. Singapura berhasil menyalip Indonesia dalam peringkat IPO Asia Tenggara setelah mencatatkan IPO jumbo UI Boustead REIT yang menghimpun dana US$ 754 juta dengan kapitalisasi pasar mencapai US$ 931 juta.

Di sisi lain, Malaysia dan Vietnam juga menjadi negara dengan kinerja IPO terbaik sepanjang semester pertama tahun ini.

Sementara itu, kinerja pasar IPO Indonesia masih menghadapi tantangan. Deloitte menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh sikap hati-hati investor, tingginya volatilitas pasar, serta sensitivitas emiten terhadap valuasi.

Selain itu, aktivitas IPO di Indonesia juga dipengaruhi arus keluar modal asing (foreign outflows) serta penguatan pengawasan terhadap transparansi pasar, porsi saham beredar di publik (free float), dan keterbukaan informasi kepemilikan saham.

Tren serupa juga terlihat di Thailand dan Filipina yang sama-sama mengalami perlambatan aktivitas IPO.

 

Industri Konsumer Penyumbang Terbesar

Pekerja berjalan dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (KLY/ Arie Basuki)

Secara regional, laporan Deloitte menunjukkan 10 IPO terbesar di Asia Tenggara berhasil menghimpun dana sekitar US$ 2,68 miliar, atau setara 88% dari total dana IPO yang terkumpul sepanjang semester I-2026.

Dari sisi sektor, industri konsumer menjadi penyumbang dana IPO terbesar dengan porsi 33%, disusul sektor real estat serta ilmu hayati dan layanan kesehatan (life sciences and health care).

Berdasarkan negara, Malaysia menjadi kontributor terbesar dengan menghimpun sekitar US$ 1,34 miliar, atau setara 43% dari total dana IPO di Asia Tenggara. Negara tersebut membukukan 36 IPO dan menempatkan empat perusahaan dalam daftar 10 IPO terbesar di kawasan.

Adapun Singapura berada di posisi kedua dengan total dana IPO mencapai US$ 868 juta atau sekitar 28% dari total regional. Negara tersebut menyumbang dua IPO terbesar, masing-masing berasal dari sektor real estat dan perusahaan penyedia ruang kerja bersama (coworking space) yang berhasil menghimpun dana US$ 754 juta dan US$ 78 juta.

Laporan ini menunjukkan bahwa meski jumlah IPO di Asia Tenggara menurun, ukuran transaksi yang lebih besar mampu mendorong peningkatan signifikan pada nilai pendanaan dan kapitalisasi pasar kawasan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya