Cuaca Panas Eropa Jadi Tamparan Keras Sektor Ekonomi

Cuaca panas ekstrim di Eropa picu masalah ekonomi.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 02 Agustus 2026, 21:00 WIB
Petugas pemadam kebakaran menggunakan pembakaran terkontrol untuk menghentikan kebakaran hutan yang terus menyebar di dekat Cebreros, provinsi Ávila, Spanyol, Eropa, Selasa, 28 Juli 2026. (AP Photo/Manu Fernandez)

Liputan6.com, Jakarta - Cuaca panas ekstrem di Eropa picu masalah ekonomi,seiring gelombang panas mendongkrak biaya, menghambat bisnis, dan memperlambat pertumbuhan karena kebakaran hutan dan kekeringan.

Melansir CNBC, Minggu (2/8/2026), kebakaran hutan besar telah terjadi di Prancis dan Spanyol, membakar 300.000 ekar, sehingga 300.000 orang terpaksa dievakuasi. Kejadian ini serupa dengan yang terjadi di Los Angeles, yakni saat sumber daya pemadam kebakaran dikuras habis, dan evakuasi massal serta kehancuran ribuan rumah terjadi.

World Meteorological Organization (WMO) dalam laporannya mengungkap saat melihat Eropa pada 2025, benua tersebut mengalami peningkatan dalam resiko kebakaran hutannya, lantaran semakin banyak kebakaran besar dan jangka waktunya semakin panjang. Menurut WMO, Eropa Barat mengalami Juni terpanasnya tahun ini.

Menteri Keuangan Prancis, Roland Lescure mengatakan pada Senin kebakaran hutan yang terkini menjadi “tamparan keras” bagi ekonomi lokal.

Namun, kebakaran ini hanyalah satu komponen dari tekanan ekonomi yang lebih luas, yang memengaruhi layanan kesehatan, pendinginan, transportasi, pertanian, asuransi dan dana publik, dan semuanya dipicu oleh suhu yang kian meningkat.

Pakar ekonomi juga telah memperingatkan gelombang panas, yang sudah dialami Eropa sebanyak tiga kali dalam enam minggu, dapat mengurangi keluaran karena mengurangi produktivitas, menghambat rantai pasokan, membuat lesu pariwisata, dan mendongkrak harga pangan, mengubah cuaca musim panas menjadi risiko makroekonomi berulang.

“Ini adalah tantangan ekonomi yang sangat besar,” ujar seorang peneliti senior di Bruegel, yang berspesialisasi dalam kebijakan energi dan iklim, Georg Zachmann, kepada program “Squawk Box Europe” CNBC pada Selasa.

“Kita harus melakukan segalanya untuk memastikan sistem kita beradaptasi lebih awal secepat mungkin, dan kecepatan perubahan iklim diperlambat sebanyak mungkin, agar kita tidak berada di situasi di mana kita tidak bisa menanggulanginya,” ia menambahkan.

Cuaca Ekstrim Habiskan Biaya Rp 5,4 Kuadriliun

Kebakaran hutan di California Selatan terjadi di tengah gelombang musim panas yang mendorong peningkatan suhu secara ekstrem, kini terjadi di Eropa. (AP Photo/Marcio Jose Sanchez)

Menurut laporan Global Head of Macro ING, Carsten Brzeski pada Juni, peningkatan intensitas dan frekuensi cuaca ekstrim membuat Eropa harus menghadapi biaya pendinginan, layanan kesehatan, infrastruktur darurat, transportasi, dan pertanian.

“Fakta yang susah diterimanya adalah gelombang panas ini lambat laun berubah dari ‘peristiwa cuaca’ menjadi ‘variabel makro,” ujarnya.

Gelombang panas, kekeringan, dan banjir di musim panas 2025 menyebabkan ekonomi Eropa kehilangan keluaran sebesar 0,3%, dan dampaknya bisa membengkak ke 0,8% pada 2029, lantaran terdapat pengurangan produktivitas, gangguan rantai pasokan, dan penghasilan pariwisata yang lesu, menurut sebuah makalah bersama tahun 2025 dari Universitas Mannheim dan Bank Sentral Eropa.

Selain itu, komoditas pangan seperti kakao, kopi, dan gandum diprediksi menjadi aset yang paling terdampak oleh gelombang panas, karena cuaca yang lebih panas dan tidak stabil mengancam hasil panen dan menaikkan harga pangan.

Sedangkan, peristiwa cuaca ekstrim seperti kebakaran hutan di Eropa kemungkinan besar akan memengaruhi anggaran fiskal negara karena harus membayar biaya evakuasi, pemadam kebakaran, dan perbaikan infrastruktur, tutur Zachmann.

“Sebagai contoh, kebakaran di California pada 2025 menghabiskan biaya langsung sebanyak US$ 40-60 miliar (Rp 721,6 triliun hingga Rp 1 kuadriliun), dan biaya tidak langsungnya diestimasikan sekitar US$ 300 miliar (Rp 5,4 kuadriliun). Jadi ini adalah isu besar,” tambahnya

Zachmann menyatakan bencana yang terjadi dengan pola acak bisa memicu inflasi. “Biaya hidup akan naik. Premi risiko meningkat bagi mereka yang ingin membangun di sana di masa depan,” ujar dia.

Perusahaan asuransi juga membayar kerugian US$ 56,3 miliar, atau sekitar Rp 1,01 kuadriliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.006) pada tahun 2010, yakni enam kali lipat dari US$ 8,7 miliar, atau Rp 156,6 triliun yang dikeluarkan pada tahun 2000, berdasarkan laporan Allianz Commercial pada bulan Juni.

Sektor yang paling terpukul adalah utilitas dan energi, properti, pembangunan, pertanian, dan transportasi.

Brzeski mengatakan, konsekuensi campur aduk dari kebakaran hutan Prancis dan Spanyol adalah kegiatan ekonomi positif yang akan muncul ketika dimulainya pembangunan ulang, seperti yang terjadi setelah bencana alam lainnya.

Lanskap Buatan Manusia Salah Satu Faktornya

Kebakaran di Prancis, Eropa, yang dimulai sehari sebelumnya, juga telah menghancurkan 25 rumah warga di departemen Aude selatan. (Lionel BONAVENTURE/AFP)

Dengan gelombang panas yang sedang berlangsung di wilayah Eropa, pakar memperingatkan ini dapat memperparah kebakaran.

Profesor ilmu kebakaran hutan di Universitas Swansea, Stefan Doerr, mengatakan pada Senin perubahan iklim dan pengelolaan lanskap yang buruk memiliki peran penting dalam kebakaran hutan ini.

Doerr mengatakan bahwa puluhan tahun penelantaran lahan pertanian dan ratusan tahun sejak adanya lanskap buatan manusia menjadikan Eropa bagian selatan penuh dengan tumbuhan lebat dan mudah terbakar, sehingga lebih rentan terjadi kebakaran hutan di cuaca panas yang ekstrem dan kekeringan.

“Jika kita memiliki lanskap alami, mungkin di beberapa tempat ada hutan yang tidak terlalu mudah terbakar,” ujar Doerr.

“Ini buatan manusia. Maksudnya bukan tumbuhannya yang palsu, namun bentuk lanskapnya sendiri sekarang sepenuhnya buatan," ia menambahkan.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya