Liputan6.com, Jakarta - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menargetkan pasokan biomassa mencapai 3,65 juta ton pada tahun 2026 untuk mendukung implementasi program co-firing di 52 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Perseroan menilai keberhasilan program tersebut tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi biomassa nasional, melainkan juga oleh keandalan rantai pasok, standar kualitas, serta infrastruktur pengolahan.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan bahwa sekitar 90% pembangkit listrik di Indonesia saat ini masih bergantung pada energi fosil. Oleh karena itu, pemanfaatan biomassa terus diperluas sebagai substitusi sebagian batu bara guna mendukung target dekarbonisasi dan pencapaian Net Zero Emissions (NZE).
Advertisement
“Sekitar 90 persen pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan energi fosil. Karena itu, kami terus memperluas pemanfaatan biomassa sebagai substitusi sebagian batu bara untuk mendukung agenda dekarbonisasi dan pencapaian Net Zero Emissions,” ujar Hokkop di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Hokkop menjelaskan bahwa seluruh biomassa yang dimanfaatkan PLN EPI murni berasal dari residu industri kehutanan, perkebunan, dan pertanian, sehingga tidak berasal dari aktivitas penebangan hutan maupun deforestasi. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat mendukung ekonomi sirkular sekaligus menciptakan nilai tambah bagi sektor kehutanan dan perkebunan.
“Kami memanfaatkan residu yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, biomassa tidak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi sektor kehutanan dan perkebunan tanpa mengorbankan kelestarian hutan,” katanya.
Target Pasokan dan Pengembangan Model Rantai Pasok
Sepanjang tahun 2025, PLN EPI mencatat telah memasok sekitar 2,35 juta ton biomassa yang berkontribusi menurunkan emisi sekitar 2,72 juta ton CO₂e. Volume pasokan tersebut ditargetkan meningkat menjadi 3,65 juta ton pada 2026 dan 4,07 juta ton pada 2027.
Secara kumulatif selama periode 2023–2026, penyediaan biomassa telah mencapai 4,77 juta ton, dengan porsi terbesar berupa serbuk kayu (sawdust) sebesar 54,6% dan serpihan kayu (woodchip) sebesar 22,4%.
Untuk memperkuat rantai pasok, PLN EPI mengembangkan model Spoke-Hub yang mengintegrasikan titik pengumpulan bahan baku, fasilitas produksi, hingga pusat pengolahan dan penyimpanan biomassa. Model tersebut juga didukung oleh keberadaan Marketplace Biomassa yang menghubungkan pemasok secara langsung dengan kebutuhan bahan bakar di setiap pembangkit.