Liputan6.com, Moscow - Pemerintah Rusia resmi melarang ekspor bahan bakar diesel (solar) mulai Rabu sebagai bagian dari serangkaian kebijakan untuk menjaga pasokan energi di dalam negeri. Langkah ini diambil setelah serangan drone Ukraina yang terus menyasar kilang minyak Rusia memicu kelangkaan bahan bakar dan lonjakan harga di berbagai wilayah.
Dikutip dari The Guardian, Kamis (9/7/2026), serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dalam beberapa pekan terakhir telah mengganggu produksi dan distribusi bahan bakar. Akibatnya, banyak pengendara di sejumlah daerah harus mengantre selama berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar untuk mendapatkan solar maupun bensin.
Advertisement
Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, dalam rapat pemerintah yang dipimpin Presiden Vladimir Putin, mengakui bahwa kondisi pasokan bahan bakar masih cukup rumit.
Ia mengatakan situasi di SPBU telah menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, sehingga pemerintah perlu mengambil langkah cepat untuk memastikan kebutuhan energi domestik tetap terpenuhi.
Serangan Rusia Tewaskan Warga Sipil di Ukraina
Di saat yang sama, konflik antara Rusia dan Ukraina terus meningkat. Serangan rudal balistik dan drone Rusia pada Rabu pagi dilaporkan menewaskan sedikitnya tiga orang di Kyiv.
Pejabat Ukraina menyebut serangan itu terjadi ketika negara tersebut mengalami kekurangan rudal pencegat Patriot buatan Amerika Serikat, yang selama ini menjadi salah satu sistem pertahanan udara utama untuk menghadapi serangan Rusia.
Serangan tersebut berlangsung bertepatan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki. Dalam pertemuan itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas kemungkinan Ukraina memperoleh lisensi memproduksi rudal pencegat Patriot secara mandiri.
Namun, komitmen Trump dinilai masih belum jelas. Ia mengaku belum berdiskusi dengan Lockheed Martin maupun RTX Corporation, dua perusahaan pertahanan Amerika Serikat yang memproduksi sistem Patriot. Selain itu, belum ada kepastian kapan produksi rudal yang rumit dan berbiaya tinggi tersebut dapat ditingkatkan.
Odesa dan Kharkiv Kembali Jadi Sasaran
Rusia juga melancarkan serangan ke Kota Odesa, pelabuhan terbesar Ukraina di Laut Hitam. Seorang pejabat setempat mengatakan serangan tersebut menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai enam lainnya.
Odesa menjadi salah satu target utama Rusia sejak perang pecah lebih dari empat tahun lalu karena memiliki peran strategis sebagai pusat perdagangan dan logistik Ukraina.
Di Kota Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina, serangan rudal pada Rabu pagi menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga dan sebuah gereja. Serangan lanjutan pada hari yang sama menghantam sebuah bangunan permukiman dan menewaskan sedikitnya dua orang, menurut Wali Kota Kharkiv Ihor Terekhov.
Ukraina Balas Serang Wilayah Rusia
Di pihak lain, Ukraina juga terus melancarkan serangan menggunakan drone ke wilayah Rusia.
Otoritas Rusia melaporkan sedikitnya satu orang tewas akibat serangan semalam. Beberapa fasilitas industri juga mengalami kerusakan, meskipun pemerintah belum mengungkapkan rincian lokasi maupun tingkat kerusakannya.
Serangan-serangan Ukraina terhadap jaringan logistik militer dan fasilitas energi Rusia dalam beberapa bulan terakhir disebut telah memperparah gangguan pasokan bahan bakar di negara tersebut.
Rusia Kritik Bantuan Militer NATO
Pemerintah Rusia turut mengecam keputusan NATO untuk terus meningkatkan bantuan militer kepada Ukraina.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menilai aliansi tersebut tetap berfokus pada peningkatan kemampuan militer di Eropa dan mempersiapkan konfrontasi bersenjata dengan Rusia.
Menurutnya, keputusan NATO berpotensi membawa konsekuensi yang sangat berbahaya.
"Dengan terus mempersenjatai Ukraina dan meningkatkan militerisasi di Eropa, NATO mengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab. Jika para perancang strategi NATO berhenti sejenak untuk memikirkan dampaknya, mereka mungkin tidak akan membuat keputusan yang dapat berujung pada bencana, bukan hanya bagi aliansi itu sendiri, tetapi juga bagi seluruh dunia," ujar Zakharova dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia.
Konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung lebih dari empat tahun kini tidak hanya memicu pertempuran di garis depan, tetapi juga mengganggu sektor energi, perdagangan, dan stabilitas keamanan di kawasan Eropa.