Kejar Target 12 Juta Talenta Digital, Kemenekraf Genjot Ekosistem Aplikasi

Di tengah defisit talenta digital dan penurunan jumlah startup, Menteri Ekraf fokus memperkuat subsektor aplikasi yang kini jadi magnet investasi tertinggi.

oleh Pramita TristiawatiDiterbitkan 08 Juli 2026, 14:00 WIB
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menjadi narasumber dalam Podcast Jejamuan: Jelajah Jamu Nusantara Episode 1 bertema Peradaban di Kepatihan Pakualaman, Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026). (dok. Biro Komunikasi Publik Kemenekraf)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif bakal fokus menambah pelaku startup dan pembuat aplikasi di Indonesia. Langkah ini diambil karena saat ini para investor dinilai jauh lebih tertarik pada subsektor pembuatan aplikasi.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengungkapkan bahwa berdasarkan data dari Badan Pengembangan SDM Komdigi 2025, Indonesia masih mengalami defisit hampir setengah juta talenta digital per tahun.

"Padahal, kebutuhan talenta digital diproyeksikan mencapai 12 juta pada tahun 2030. Di sisi lain, StartupBlink 2025 menunjukkan jumlah startup aktif nasional turun 10,3% dalam setahun terakhir akibat semakin ketatnya proses seleksi pasar," ujar Menteri Riefky saat menghadiri Indonesia Apps Summit (INAPS) 2026 di Kabupaten Tangerang, Rabu (8/7/2026).

Secara global pun, posisi Indonesia mengalami penurunan peringkat. Dari sebelumnya berada di peringkat 43 dari 69 negara, kini Indonesia duduk di peringkat 51. Karena itu, penguatan ekosistem aplikasi digital menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan daya saing digital nasional menuju target 20 besar dunia pada tahun 2045.

"Ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto di World Government Summit 2025, di mana setiap masyarakat Indonesia harus memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital, baik di kota besar maupun di daerah," katanya.

 

Penggerak Utama Ekonomi Kreatif

Riefky Harsya juga menegaskan bahwa subsektor aplikasi kini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi kreatif nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), subsektor aplikasi menjadi tujuan investasi tertinggi di sektor ekonomi kreatif pada 2025, bahkan melampaui subsektor fashion, kuliner, kriya, film, dan musik.

Kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi industri aplikasi sebagai motor pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

"Investasi pada subsektor aplikasi saat ini merupakan yang tertinggi di sektor ekonomi kreatif. Ini menjadi peluang besar yang harus kita manfaatkan bersama," ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui industri aplikasi nasional masih menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, Kementerian Ekonomi Kreatif menggandeng berbagai pihak untuk membangun ekosistem yang lebih kuat melalui Indonesia Apps Summit.

Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, pelaku usaha, asosiasi, lembaga keuangan, pemerintah lintas kementerian, hingga mitra internasional guna mendorong pengembangan industri aplikasi yang lebih kompetitif.

 

Dampingi Pelaku Industri

Menurut Teuku Riefky, Indonesia memiliki banyak talenta digital yang mampu menghasilkan inovasi dan produk aplikasi berkualitas. Namun, talenta tersebut memerlukan dukungan agar mampu mengomersialisasikan kekayaan intelektual (intellectual property/IP), memperoleh akses pembiayaan, serta memperluas pasar hingga tingkat global.

Dalam hal ini, Kementerian Ekonomi Kreatif akan terus mendampingi pelaku industri di seluruh rantai nilai, mulai dari pengembangan ide, proses produksi, distribusi, pemasaran, hingga perlindungan hak kekayaan intelektual.

"Kami tidak ingin startup atau pengembang aplikasi hanya tumbuh sesaat kemudian berhenti karena kalah bersaing. Yang kita dorong adalah bagaimana mereka bisa berkembang menjadi perusahaan yang lebih besar, berkelanjutan, dan mampu bersaing di tingkat global," katanya.

Melalui Indonesia Apps Summit 2026, pemerintah berharap kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, investor, dan komunitas dapat semakin memperkuat daya saing subsektor aplikasi sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak inovasi digital karya anak bangsa yang mampu menembus pasar internasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya