Bank di Jerman Ini Tawarkan Layanan Kripto kepada 50 Juta Pelanggan

Bank-bank di Jerman kini mulai melirik kripto untuk ditawarkan kepada klien.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 06 Juli 2026, 11:00 WIB
Ilustrasi Kripto. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Bank dan koperasi di Jerman, Sparkassen meluncurkan perdagangan kripto untuk klien ritel. Langkah yang dilakukan dengan mengintegrasikan bitcoin (BTC) ke dalam aplikasi lembaga-lembaga yang memiliki sekitar 80 juta pelanggan di Jerman.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Senin, (6/7/2026), Sparkassen melayani sekitar 50 juta pelanggan, berdasarkan data DSGV, dan bank koperasi melayani 30 juta pelanggan lainnya, menurut BVR. Empat tahun lalu, dua grup ini menolak aset bitcoin karena dianggap terlalu berisiko.

Berdasarkan Bloomberg, kedua kelompok itu membangun layanan internal daripada mengarahkan klien ke bursa eksternal. Platform meinKrypto milik DZ Bank sudah berjalan di dalam aplikasi perbankan VR menawarkan bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Litecoin (LTC), dan Cardano (ADA).

BaFin memberikan lisensi kepada meinKrypto di bawah kerangka kerja pasar aset kripto Uni Eropa atau Markets in Crypto-Assets (MiCA) pada akhir Desember 2025, menurut pengumuman DZ Bank. Boerse Sttugart Digital menangani penyimpanan, menjaga seluruh rantai di bawah pengawasan Jerman.

DekaBank sedang membangun produk yang setara untuk sekitar 340 bank tabungan, dengan peluncuran bertahap akhir tahun ini. Masing-masing dari hampir 650 bank koperasi dan setiap Sparkasse memilih untuk bergabung secara individual. Spesialis produk DZ Bank, Markus Bärenfänger, memperkirakan ratusan bank akan bergabung.

Perubahan ini sangat mencolok. Bank-bank tabungan mempertimbangkan perdagangan kripto pada 2021, kemudian menundanya karena risiko yang tak terhitung. MiCA sejak itu membuka pintu bagi lembaga keuangan terbesar di Jerman.

 

 

Kekhawatiran Kritikus

Ilustrasi berbagai macam aset kripto. (Foto By AI)

Perhitungan kepercayaan menjelaskan taruhan tersebut. Warga Jerman mempercayai bank utama mereka dua kali lebih banyak daripada platform kripto khusus, 38% berbanding 19%, menurut survei Boerse Stuttgart Digital. Namun, hanya sekitar seperempat yang telah berinvestasi dalam kripto, sejalan dengan angka adopsi Eropa yang lebih luas.

Kepercayaan itulah yang justru mengkhawatirkan para kritikus. Profesor di Frankfurt School of Finance & Management, Co-Pierre Georg berpendapat nasabah bank tradisional mungkin tidak memahami risikonya.

"Sangat mengkhawatirkan bahwa pintu gerbang menuju pasar mata uang kripto kini dibuka oleh bank tabungan dan koperasi," kata Co-Pierre Georg.

Bahkan kelompok lobi bank tabungan sendiri, DSGV, menyebut kripto sebagai investasi yang sangat spekulatif dengan risiko kerugian total. Mereka menganggap layanan ini hanya cocok untuk investor mandiri.

 

Kekhawatiran Kehilangan Klien

Ilustrasi kripto (Foto By AI)

Bank-bank Jerman juga bergabung dengan pergeseran yang lebih luas di Eropa. UBS membuka perdagangan kripto untuk klien pribadi pada Januari.

Bagi bank-bank lokal, imbalannya mungkin berupa relevansi daripada pendapatan. Chief Westerwald Bank, Ralf Kölbach, memperingatkan bank yang melewatkan kripto akan kehilangan pelanggan yang lebih muda dan melek teknologi.

Ujian yang lebih besar adalah apakah kredibilitas merek bank dapat bertahan menghadapi penurunan pasar yang dalam berikutnya.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya