5 Juli 1975: Arthur Ashe, Petenis Kulit Hitam Pertama Juara Wimbledon

Kemenangan Arthur Ashe pada 5 Juli 1975 ini jadi catatan sejarah dalam ajang Grand Slam Wimbledon.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 05 Juli 2026, 06:00 WIB
Arthur Ashe, atlet tenis yang memenangkan Wimbledon pada 5 Juli 1975. (Dok. Wikipedia)

Liputan6.com, London - Tanggal 5 Juli 1975 menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam dunia tenis. Pada hari itu, Arthur Ashe mencatatkan namanya sebagai petenis pria kulit hitam pertama yang berhasil menjuarai turnamen Wimbledon setelah mengalahkan juara bertahan Jimmy Connors di partai final.

Dikutip dari BBC, Minggu (5/7/2026), Ashe yang merupakan putra seorang petugas kepolisian di Richmond, Virginia, Amerika Serikat, menang dengan skor 6-1, 6-1, 5-7, 6-4 di Centre Court, Wimbledon, Inggris.

Kemenangan tersebut mengejutkan banyak pihak. Meski Ashe pernah menjuarai US Open 1968, Connors saat itu datang sebagai unggulan sekaligus juara bertahan yang lebih difavoritkan.

"Saya yakin akan menang karena permainan saya sedang bagus dan saya sangat percaya diri," kata Ashe usai pertandingan.

Ashe langsung mendominasi sejak awal laga. Ia memenangkan gim servis pertamanya tanpa kehilangan satu poin, kemudian mematahkan servis Connors untuk merebut set pertama dengan skor telak 6-1 hanya dalam waktu sekitar 19 menit.

Dominasi itu berlanjut pada set kedua. Ashe kembali menang 6-1 dengan permainan yang disiplin dan efektif, membuat Connors kesulitan mengembangkan permainannya.

Situasi tersebut membuat pertandingan memanas. Connors beberapa kali menunjukkan emosinya, termasuk melempar handuk ke arah bawah kursi wasit sambil melontarkan umpatan setelah gagal keluar dari tekanan.

Connors sempat bangkit dengan merebut set ketiga 7-5 sehingga memperpanjang pertandingan. Namun, Ashe tetap tenang pada set keempat dan berhasil mengamankan kemenangan.

Petenis berusia 31 tahun itu memastikan gelar Wimbledon saat unggul 40-15 sebelum menutup pertandingan melalui pukulan penentu setelah pengembalian bola Connors terlalu lemah.

"Saya tidak bisa menemukan celah. Semua yang dia lakukan sangat baik," ujar Connors mengakui keunggulan lawannya.

Final tersebut turut disaksikan sejumlah tokoh tenis, termasuk sahabat Connors sekaligus semifinalis Wimbledon, Ilie Năstase, ibu Connors, Gloria, serta manajernya, Bill Riordan.

Keberhasilan Ashe menjadi tonggak penting dalam sejarah olahraga dunia. Ia menjadi petenis pria kulit hitam pertamayang menjuarai Wimbledon, melanjutkan jejak Althea Gibson, yang pada 1957 dan 1958 menjadi petenis putri kulit hitam pertama yang memenangkan turnamen bergengsi tersebut.

Kemenangan Arthur Ashe tidak hanya dikenang sebagai prestasi olahraga, tetapi juga sebagai simbol penting dalam perjuangan melawan diskriminasi rasial dan perluasan kesempatan bagi atlet kulit hitam di panggung olahraga internasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya