Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) meminta Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk melindungi regulasi yang berpihak pada keberlangsungan industri tembakau.
"Tembakau adalah satu-satunya tanaman andalan petani saat musim kemarau. Kontribusinya sangat besar bagi penerimaan negara, menyerap tenaga kerja, dan menggerakkan ekonomi masyarakat di daerah,” kata Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (Sekjen DPN) APTI, Mudi, di Jakarta, Selasa (30/6), seperti dilansir Antara.
Advertisement
Menurut Mudi, tembakau merupakan komoditas andalan bagi 2,5 juta petani yang tersebar di 14 provinsi.
Namun, saat ini terdapat beberapa aturan di tingkat nasional yang mengkhawatirkan para petani, seperti penyeragaman kemasan rokok, pembatasan kadar nikotin dan tar, hingga pelarangan bahan tambahan.
Sebagai komoditas yang 98 persen didominasi perkebunan rakyat, Mudi menekankan urgensi perlindungan tembakau dari regulasi yang dapat menghambat hilirisasi komoditas perkebunan.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Dirjenbun Kementan) Ali Jamil menegaskan bahwa sektor perkebunan tidak boleh lagi dipandang sebelah mata.
Ali menyebut bahwa jika berkaca pada sejarah, masyarakat yang memiliki tanaman perkebunan mampu bertahan ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi.
"Jangan menganggap perkebunan sebagai sektor yang rendah. Saat krisis 1998, masyarakat yang memiliki tanaman perkebunan masih bisa bertahan. Artinya, sektor ini memiliki daya tahan ekonomi yang sangat kuat," ujar Ali.
Ali Jamil juga memaparkan, berdasarkan data BPS, subsektor perkebunan dijalankan oleh 10,87 juta rumah tangga usaha pertanian yang menjadi potret makro sektor perkebunan.
Untuk itu, ia menilai pentingnya memberdayakan, melindungi, dan membimbing petani.
"Butuh kerja keras karena memang lebih dari 90 persen pelaku usaha perkebunan adalah petani rakyat sehingga perlu penguatan. Komoditas perkebunan kita potensinya sangat besar, luasannya, hasil produktivitasnya bagus. Permasalahan krusialnya adalah hasilnya masih didominasi bahan baku (raw material), rantai pasok belum terintegrasi dengan baik," ungkap Ali.