Liputan6.com, Pyongyang - Korea Utara meresmikan kapal perusak berbobot 5.000 ton yang oleh Kim Jong Un disebut sebagai simbol meningkatnya kemampuan angkatan laut dan kemajuan program persenjataan nuklir negara itu. Demikian menurut laporan media pemerintah pada Rabu (24/6/2026).
Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) melaporkan pernyataan itu disampaikan Kim dalam upacara peresmian yang digelar Selasa (23/6) di pelabuhan Nampo, Korea Utara bagian barat. Menurut KCNA, kapal perang bernama Choe Hyon itu menunjukkan bahwa program persenjataan nuklir angkatan laut Korea Utara berjalan sesuai rencana.
Advertisement
KCNA menyebutkan Choe Hyon resmi mulai bertugas di Angkatan Laut Korea Utara setelah upacara tersebut dan akan bertanggung jawab menjaga wilayah pesisir barat negara itu.
Sejak diperkenalkan pada April 2025, Kim menyebut Choe Hyon sebagai tonggak penting dalam upaya memperluas jangkauan operasi militer dan kemampuan serangan preemptif Korea Utara. KCNA menyatakan kapal perang itu dilengkapi berbagai sistem persenjataan, termasuk senjata antipesawat, anti-kapal, serta rudal balistik dan rudal jelajah yang mampu membawa hulu ledak nuklir.
Pejabat dan pakar Korea Selatan menilai kapal tersebut kemungkinan dibangun dengan bantuan Rusia di tengah semakin eratnya hubungan militer kedua negara. Namun, sejumlah analis mempertanyakan apakah kapal itu benar-benar siap untuk bertugas secara aktif.
Dalam beberapa bulan terakhir, Korea Utara telah menjalankan serangkaian uji coba terhadap Choe Hyon menjelang penugasannya, termasuk peluncuran rudal jelajah yang diklaim mampu membawa senjata nuklir.
"Sudah jelas menjadi masa lalu ketika angkatan laut kami hanya berfungsi sebagai kekuatan untuk mempertahankan laut di sekitar wilayah kami," kata Kim dalam pidatonya.
"Kini angkatan laut kami berkembang menjadi kekuatan militer yang dilengkapi berbagai sarana strategis, sementara program perlengkapan senjata nuklir bagi angkatan laut berjalan sesuai rencana tanpa penyimpangan."
Pengembangan Kapabilitas Angkatan Laut
Setelah bertahun-tahun berfokus pada pengembangan rudal balistik, Kim kini mengalihkan perhatian ke penguatan kemampuan angkatan laut, termasuk pembangunan kapal selam bertenaga nuklir yang masih berlangsung.
Penguatan angkatan laut juga menjadi salah satu fokus utama dalam target pembangunan militer lima tahun yang dipaparkan Kim pada kongres Partai Buruh. Program tersebut mencakup pengembangan rudal balistik antarbenua yang dapat diluncurkan dari bawah laut.
Usai menyaksikan uji coba rudal dari Choe Hyon pada Maret lalu, Kim mengklaim bahwa upayanya mempersenjatai angkatan laut dengan senjata nuklir akan membawa perubahan radikal dalam mempertahankan kedaulatan maritim kami, sesuatu yang belum pernah kami capai selama setengah abad.
Media pemerintah Korea Utara tidak menjelaskan lebih lanjut maksud pernyataan itu. Namun, sejumlah analis menilai Pyongyang mungkin tengah bersiap mendeklarasikan secara resmi batas maritim yang dapat mencakup wilayah perairan yang saat ini berada di bawah kendali Korea Selatan.
Di tengah memburuknya ketegangan antar-Korea, Kim berulang kali menyatakan tidak mengakui Northern Limit Line (NLL), garis batas laut yang ditetapkan setelah Perang Korea berakhir pada 1953. Garis batas yang disengketakan itu telah beberapa kali menjadi lokasi bentrokan mematikan antara kedua Korea.
Korea Utara pada Mei 2025 juga memperkenalkan kapal perusak kedua yang berada dalam kelas yang sama dengan Choe Hyon. Namun, kapal tersebut mengalami kerusakan akibat kegagalan peluncuran di pelabuhan utara Chongjin, yang memicu kemarahan Kim.
Pyongyang kemudian menyatakan kapal yang diberi nama Kang Kon itu telah kembali diluncurkan pada Juni setelah menjalani perbaikan. Meski demikian, para pakar di luar Korea Utara mempertanyakan apakah kapal tersebut sudah sepenuhnya operasional.
Dalam pidatonya pada Selasa, Kim mengatakan Kang Kon akan segera mulai bertugas.
Korea Utara juga berencana membangun kapal perusak yang lebih besar dengan bobot 10.000 ton.
Sejak diplomasi nuklirnya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump gagal mencapai kesepakatan pada 2019, Kim mempercepat pengembangan persenjataan nuklir negaranya sekaligus mempererat hubungan dengan Moskow dan Beijing.
Meski tetap bersikap keras terhadap Korea Selatan, Kim membuka peluang dimulainya kembali dialog dengan Washington. Namun, Pyongyang tetap menuntut agar Amerika Serikat tidak menjadikan denuklirisasi Korea Utara sebagai syarat untuk melanjutkan perundingan.
Secara terpisah, militer Korea Selatan pada Rabu menyatakan telah mengamankan seorang tentara Korea Utara yang tidak teridentifikasi setelah melintasi perbatasan antar-Korea yang dijaga ketat pada Selasa malam.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan menyatakan tentara itu mengaku berniat membelot. Otoritas terkait kini masih menyelidiki insiden tersebut.