Target 100 GW PLTS, Koperasi Siap Jadi Motor Energi Terbarukan

Kementerian Koperasi dan Rumah Energi memperkuat kerja sama pengembangan koperasi hijau untuk mendukung target 100 GW PLTS dan transisi energi nasional.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 24 Juni 2026, 13:30 WIB
Pekerja merawat solar cell di Pembangkit Listrik Tenga Surya (PLTS) 1 MWp, Bangli, Bali. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Koperasi bersama Yayasan Rumah Energi memperkuat kolaborasi untuk mendorong koperasi menjadi salah satu motor utama dalam pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat. Langkah tersebut dilakukan melalui diseminasi Handbook Praktis Panduan Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Berbasis Koperasi Hijau.

Sejumlah rekomendasi dihasilkan mencakup penyederhanaan regulasi, pengembangan skema blended finance untuk mendukung model bisnis koperasi energi terbarukan, peningkatan kapasitas kelembagaan koperasi, hingga penguatan integrasi koperasi dalam agenda dekarbonisasi dan transisi energi nasional.

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Koperasi dan Rumah Energi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang Pengembangan Model Bisnis Koperasi Berbasis Energi Terbarukan.

Direktur Eksekutif Rumah Energi, Sumanda Tondang, mengatakan kerja sama tersebut menjadi langkah penting untuk menjembatani hasil kajian dan pengalaman lapangan dengan implementasi nyata di tingkat masyarakat.

“Sejak 2021, Rumah Energi telah mengembangkan pendekatan Koperasi Hijau melalui berbagai kajian, program pendampingan, serta pengembangan model bisnis energi terbarukan berbasis koperasi," ujar Sumanda dikutip Rabu (24/6/2026).

"Kerja sama ini menjadi fondasi penting untuk mempercepat implementasi berbagai model tersebut sekaligus memperkuat peran koperasi sebagai aktor utama dalam mendukung transisi energi Indonesia,” tambah dia. 

 

Ekosistem Koperasi Hijau

Pekerja menyiram tanaman dengan sumber energi dari solar cell di Pembangkit Listrik Tenga Surya (PLTS) 1 MWp, Bangli, Bali. (merdeka.com/Arie Basuki)

Kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari dukungan terhadap target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt (GW) yang telah ditetapkan pemerintah sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN).

Dalam kerangka kebijakan tersebut, koperasi dipandang memiliki peran penting untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan hingga ke tingkat komunitas. Selain mendukung ketahanan energi nasional, pengembangan koperasi hijau juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru di daerah dan berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon.

Kementerian Koperasi dan Rumah Energi menilai penguatan ekosistem koperasi hijau dapat menjadi salah satu strategi efektif untuk mempercepat transisi energi yang inklusif dan berkeadilan.

Melalui kerja sama ini, kedua pihak berharap semakin banyak koperasi yang terlibat dalam pengembangan proyek energi bersih, mulai dari tahap perencanaan, pengelolaan, hingga pemanfaatan energi untuk kegiatan produktif masyarakat.

Upaya tersebut diyakini dapat memperkuat posisi koperasi sebagai pelaku ekonomi sekaligus agen perubahan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

 

Prospek Menjanjikan

Pekerja merawat solar cell di Pembangkit Listrik Tenga Surya (PLTS) 1 MWp, Bangli, Bali. (merdeka.com/Arie Basuki)

Dalam kegiatan yang sama, Rumah Energi juga memaparkan hasil kajian pengembangan model bisnis PLTS berbasis koperasi yang telah diuji melalui proyek Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia melalui Model Energi Terbarukan Berbasis Masyarakat (TERBIT).

Model bisnis tersebut disusun berdasarkan studi lapangan pada tiga lokasi percontohan, yakni KUD Mina Fajar Sidik di Blanakan, Subang, Jawa Barat; KPSP Setia Kawan di Pasuruan, Jawa Timur; serta KDMP Gili Genting di Sumenep, Jawa Timur.

Hasil kajian menunjukkan bahwa pengembangan PLTS berbasis koperasi memiliki prospek yang menjanjikan. Namun, keberhasilannya membutuhkan dukungan skema pembiayaan yang tepat, model bisnis yang produktif, serta regulasi yang mendukung.

Untuk menguji kesiapan implementasi, lokakarya ketiga dalam rangkaian RISE Series menghadirkan investor, lembaga pembiayaan, pengembang proyek, lembaga kajian, serta perwakilan pemerintah.

Dalam sesi consultative review, para panelis dari kalangan investor, pengembang proyek, Institute for Essential Services Reform (IESR), Kementerian Koperasi, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan masukan terkait aspek teknis, kelayakan finansial, hingga kesiapan penerapan model bisnis PLTS berbasis koperasi di Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya