Liputan6.com, Jakarta - Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul pada Minggu, 21 Juni 2026 memperingatkan agar tidak memberlakukan sistem pungutan tol untuk Selat Hormuz setelah berakhirnya perang Amerika Serikat (AS)-Iran.
Mengutip Anadolu Agency, Senin, (22/6/2026), Johan Wadephul menuturkan, Selat Hormuz sangat penting untuk pasokan energi global, harus tetap dapat dilalui dengan bebas. “Ini adalah prinsip hukum laut,” ujar dia saat forum publik di Berlin, Jerman.
Advertisement
Wadephul mencatat, nota kesepahaman antara AS dan Iran berisi rumusan yang tidak jelas, yang setidaknya menimbulkan keraguan apakah hal ini benar-benar dijamin 100 persen.
Pemerintah Jerman akan sangat menekankan pada kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz dan juga akan mempertimbangkan hal ini ketika memutuskan apakah, kapan, dan bagaimana mencabut sanksi terhadap Iran.
"Jika itu terjadi, saya yakin harga minyak dapat kembali normal dengan relatif cepat," Wadephul menambahkan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengancam akan mengenakan biaya tol AS di Selat Hormuz jika kesepakatan perdamaian akhir tidak tercapai.
Perjanjian kerangka kerja tersebut menetapkan Iran tidak boleh memungut biaya apa pun selama negosiasi 60 hari. Iran akan bernegosiasi dengan Oman tentang bagaimana melanjutkan setelah itu, sesuai dengan hukum internasional dan dengan melibatkan negara-negara tetangga.
Harga Minyak Melesat
Sebelumnya, harga minyak Brent naik pada Jumat, 19 Juni 2026 (Sabtu waktu Jakarta). Kenaikan harga minyak itu terjadi setelah pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss tiba-tiba dibatalkan. Hal ini menekankan ketidakpastian yang masih ada atas upaya untuk mengubah kesepakatan sementara menjadi penyelesaian perdamaian.
Mengutip CNBC, Sabtu (20/6/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 0,9%, dan ditutup ke US$ 80,57 per barel. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan naik 1,23% menjadi US$ 77,54 pada Jumat siang. Harga sempat turun setelah Israel dan Hizbullah yang didukung Iran menyepakati gencatan senjata.
Kementerian Luar Negeri Swiss menuturkan, pembicaraan AS-Iran yang dijadwalkan di Burgenstok pada Jumat tidak akan berjalan sesuai rencana.
Gedung Putih juga menyebutkan, Wakil Presiden AS JD Vace tidak lagi melakukan perjalanan ke Swiss. Hal ini dengan alasan masalah logistik yang belum terselesaikan seputar negosiasi.
Vance pada Kamis mengatakan kapal tanker dengan lebih dari 12 juta barel melintasi selat semalam.
"Untuk malam kedua berturut-turut, Iran tidak menembaki kapal apa pun di Selat Hormuz,” kata Vance kepada wartawan.
"Sejauh ini, mereka menghormati komitmen mereka.”
Secara terpisah, Sekretaris Jenderal OPEC Haitham Al Ghais mengatakan kepada CNBC dalam sebuah wawancara eksklusif, organisasi tersebut tidak memperkirakan permintaan minyak akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat. Ia juga menolak perkiraan dari Badan Energi Internasional yang menunjukkan kelebihan pasokan pada masa depan.
"[Kami fokus] pada fundamental dan tidak memasukkan banyak 'jika' dan 'tetapi' dalam perkiraan kami, tetapi lebih fokus pada angka aktual,” ujar dia.
Prospek Harga Minyak
Analis di PVM Oil Associates, Tamas Varga mengatakan, pada Jumat tampaknya pembukaan kembali Selat Hormuz yang strategis dan vital secara bersyarat, bersamaan dengan pencabutan deklarasi force majeure oleh Kuwait dan berakhirnya blokade angkatan laut AS, telah meyakinkan, bahwa gangguan yang telah mendorong harga di atas US$ 120 “benar-benar telah berakhir.”
"Gencatan senjata 60 hari ini jelas merupakan langkah yang tepat dan patut disambut. Namun, bahkan jika kesepakatan ini bertahan, aksi jual besar-besaran baru-baru ini mungkin terbukti tidak berkelanjutan dalam jangka pendek,” ujar dia.
Analis Axi, Tiago Lacerda menuturkan, harga minyak kemungkinan akan diperdagangkan antara US$ 75 dan US$ 82 per barel dalam waktu dekat. Harga Brent turun sekitar 36% dari puncaknya selama konflik.
"Perhatian dengan cepat beralih ke apakah pembukaan kembali secara fisik benar-benar mengikuti jalur pelayaran utama yang belum melanjutkan transit dan tarif asuransi tetap tinggi, menunjukkan bahwa pasar berhati-hati tentang kecepatan normalisasi,” kata Lacerda.