Sektor Saham Ini Bakal Diuntungkan Jika MSCI Pertahankan Status Pasar Saham Indonesia

Analis memprediksi, sejumlah sektor saham akan diuntungkan jika MSCI mempertahankan status pasar saham Indonesia.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 18 Juni 2026, 15:47 WIB
Papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Analis memprediksi, beberapa sektor saham akan mendapatkan sentimen positif jika penyedia indeks global MSCI mempertahankan status pasar saham Indonesia di emerging markets.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menuturkan, penyedia indeks global MSCI menyoroti, sejumlah poin terutama transparansi kepemilikan saham. Poin-poin itu antara lain kepemilikan saham, praktik perdagangan hingga free float atau jumlah saham beredar di publik.

Seiring hal itu, Nafan menuturkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan reformasi pasar modal antara lain mulai dari memperbaiki struktur kepemilikan saham, praktik perdagangan yang mencerminkan supply dan demand untuk pembentukan harga sehingga tidak terdistorsi.  

"MSCI masih pendekatan wait and see. MSCI masih evaluasi efek reformasi pasar modal yang berlangsung,” kata Nafan saat dihubungi Liputan6.com, Kamis, (18/6/2026),

Terkait pengumuman MSCI mengenai review klasifikasi pasar tahunan atau annual market classification pada 23 Juni 2026, waktu setempat, Nafan memprediksi MSCI masih mempertahankan status pasar saham Indonesia di emerging markets atau negara berkembang. Hal ini karena MSCI masih evaluasi reformasi pasar modal Indonesia.

“Saat ini belum (status pasar saham Indonesia-red). MSCI evaluasi efektivitas dari reformasi yang dilakukan SRO dan OJK,” kata dia.

Saat ditanya jika MSCI mempertahankan status pasar saham Indonesia di emerging markets, Nafan melihat akan berdampak positif ke sektor saham properti, teknologi, consumer siklikal. Demikian juga sektor saham infrastruktur, keuangan dan consumer nonsiklikal.

"Sektor perbankan big cap, bobot sangat besar untuk MSCI. Status Indonesia (jika-red) dipertahankan, wajar funds melakukan akumulasi besar-besaran,” ujar dia.

Sementara itu, sektor saham infrastruktur menjadi pilihan, menurut Nafan, karena sektor itu masih berkaitan dengan saham defensif.

"Jadi itu contohnya, sektor lainnya, terkait dengan consumer siklikal, pastinya salah satu saham blue chip yang memiliki intensitas harian tinggi. Kalau untuk sektor lain energi, yang penting selama ini ada UNTR, BRMS masuk, itu memang cocoknya untuk investor menitik beratkan hilirisasi dan energi baru terbarukan (EBT),” kata dia.

Sektor Saham Keuangan

Aktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menuturkan, jika hasil review lebih baik dari harapan pasar, penerima manfaat utama kemungkinan merupakan saham-saham kapitalisasi besar yang selama ini menjadi tujuan utama dana asing.

“Sektor perbankan berpotensi menjadi pemenang utama, terutama saham seperti Bank Central Asia, Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia karena memiliki bobot besar dalam indeks serta likuiditas tinggi,” kata dia.

Selain itu, ia menambahkan, saham-saham blue chip yakni Telkom Indonesia, Astra International serta sejumlah emiten komoditas besar juga berpeluang mendapatkan manfaat dari perbaikan sentimen asing. "Pada tahap awal, investor asing biasanya masuk ke saham yang paling likuid dan mudah diakumulasi sebelum menyebar ke sektor lain,” kata dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya