Menanti Putusan MSCI Soal Status Pasar Saham Indonesia

Analis menuturkan, sejumlah skenario dapat terjadi seiring pengumuman MSCI terkait status pasar saham Indonesia.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 17 Juni 2026, 18:33 WIB
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Indonesia akan kembali menghadapi ujian pada Juni 2026. Penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan merilis status pasar saham Indonesia apakah masih di pasar negeri berkembang atau emerging markets atau masuk frontier market.

Pada pengumuman MSCI 21 Mei 2026 disebutkan, MSCI akan merilis hasil Tinjauan Aksesibilitas Pasar Global MSCI 2026 pada 18 Juni 2026. Kemudian MSCI merilis hasil Tinjauan Klasifikasi Pasar Tahunan MSCI 2026 pada 23 Juni 2026.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Rabu, (17/6/2026), mempertahankan status pasar negara berkembang untuk Indonesia, skenario dasar yang akan membantu memulihkan kepercayaan sebagian investor.

“Sudah ada kemajuan dalam meningkatkan transparansi, meskipun tidak ada yang tahu apakah itu akan cukup bagi MSCI,” ujar Chief Investment Officer UOB Asset Management Indonesia, Albert Budiman.

Analis mengatakan, beberapa skenario dapat terjadi. MSCI dapat mempertahankan status Indonesia setelah menghapus sejumlah saham dengan konsentrasi tinggi dari indeksnya pada Mei. Dalam skenario terburuk, MSCI dapat menurunkan peringkat pasar yang dahulu merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara menjadi status frontier bersama Vietnam dan Bangladesh.

“Penurunan peringkat akan menjadi kabar yang sangat buruk karena modal akan kembali mengalir ke pasar negara berkembang untuk pertama kali dalam beberapa tahun. Sementara alokasi ke pasar frontier masih jauh lebih terbatas,” ujar Head of Conviction Equities Vontobel Asset Management, Jean-Louis Nakamura.

Pengklasifian ulang dapat memicu langkah serupa oleh FTSE Russell dan S&P.  Bulan lalu, FTSE menuturkan akan menunda pemeringkatan ulang Indonesia, termasuk perubahan free float dan penambahan saham, setidaknya hingga tinjauan September untuk memungkinkan pemantauan lebih lanjut.

Terlepas dari kekhawatiran ini, analis menuturkan, prospek investasi jangka panjang tetap utuh. “Di tengah berbagai kekhawatiran ini, investor juga perlu mengingat pandangan jangka panjang terhadap Indonesia belum sepenuhnya berubah,” ujar Head of Research PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata.

Indonesia Masih Bertahan di Emerging Markets Indeks MSCI

Pengunjung melintas di dekat monitor perkembangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.(Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sebelumnya, penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market (pasar berkembang) dalam jajaran indeks globalnya. 

Melansir laman resmi MSCI Emerging Markets Indexes, Rabu (13/5/2026), Indonesia tetap menjadi salah satu dari 24 negara yang masuk dalam indeks pasar berkembang MSCI. 

Indeks ini menjadi salah satu acuan utama investor institusi global dalam menempatkan dana di negara-negara berkembang, dengan total aset acuan (assets under management) mencapai lebih dari USD 1,8 triliun.

Sebagai informasi, MSCI pertama kali meluncurkan indeks emerging markets pada 1988 dan hingga kini menjadi salah satu benchmark paling berpengaruh bagi manajer investasi global.

Sebelumnya, Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mengumumkan hasil penyesuaian indeks global atau index review periode Mei 2026. Dalam peninjauan kali ini, sejumlah saham Indonesia tercatat keluar dari indeks MSCI, baik pada kategori Global Standard Indexes maupun Global Small Cap Indexes, dengan minim tambahan baru.

Melansir situs resmi MSCI, Rabu, (13/5/2026), pada MSCI Global Standard Indexes, tidak ada saham Indonesia yang masuk dalam rebalancing kali ini. Sebaliknya, MSCI menghapus enam saham domestik dari indeks tersebut, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya