Liputan6.com, Jakarta - Komitmen dukung perlindungan lingkungan laut dan penanggulangan tumpahan minyak di Indonesia dilakukan oleh PT OSCT Indonesia.
Advertisement
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyediaan peralatan, teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta layanan kesiapsiagaan yang siap digunakan dalam kondisi darurat.
Hal itu disampaikan Project Director OSCT Indonesia Alam Syah Mapparessa di sela penyelenggaraan Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (Invirotech 2026) yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada 11-13 Juni 2026.
"OSCT Indonesia merupakan salah satu perusahaan pionir sekaligus terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang penyediaan jasa dan peralatan penanggulangan tumpahan minyak (oil spill response)," ujar Alam, Jumat (12/6/2026).
Dia mengatakan, keberadaan perusahaan dinilai penting dalam mendukung kesiapsiagaan nasional menghadapi potensi pencemaran laut akibat aktivitas pelayaran, industri minyak dan gas bumi, serta sektor industri lainnya.
"Kesiapsiagaan penanggulangan tumpahan minyak sangat penting. Keberadaan peralatan yang selalu dalam kondisi siap di lokasi potensi tumpahan minyak menjadi faktor utama untuk memastikan respons cepat, sehingga dampak lingkungan dan kerugian ekonomi dapat diminimalkan," papar Alam.
Risiko Tumpahan Minyak
Alam menjelaskan, aktivitas pelayaran dan industri migas yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia memiliki risiko terjadinya tumpahan minyak.
"Karena itu, OSCT Indonesia menempatkan fasilitas dan peralatan strategis di sejumlah wilayah seperti Sumatera, Jawa Timur, dan Kalimantan guna mempercepat respons apabila terjadi keadaan darurat," kata dia.
Menurut Alam, data statistik menunjukkan sebagian besar insiden tumpahan minyak yang terjadi masih berada pada skala kecil hingga menengah. Meski demikian, kesiapsiagaan terhadap kemungkinan tumpahan minyak skala besar tetap harus menjadi perhatian serius karena berpotensi menimbulkan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi yang signifikan.
"Penanganan pada tahap awal menjadi kunci untuk mencegah pencemaran meluas ke wilayah perairan yang lebih luas," papar dia.
Selama ini, lanjut Alam, OSCT Indonesia telah memberikan dukungan kepada berbagai perusahaan migas nasional maupun internasional. Dukungan tersebut mencakup penyediaan peralatan dan layanan tanggap darurat, termasuk kebutuhan tambahan di luar kontrak kerja yang telah disepakati.
"Perusahaan juga memiliki kesiapan ribuan meter oil boom yang dapat segera dimobilisasi untuk membatasi penyebaran tumpahan minyak di perairan," terang Alam.
Apresiasi pada Kementerian LH
Alam menjelaskan, tidak hanya beroperasi di Indonesia, OSCT juga memiliki jaringan kerja sama regional dengan sembilan negara di Asia, di antaranya Jepang, China, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
"Kolaborasi tersebut memungkinkan adanya dukungan lintas negara dalam penanganan insiden pencemaran laut yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi," ucap dia.
Dalam kesempatan yang sama, Alam Syah menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Lingkungan Hidup atas penyelenggaraan Invirotech 2026. Menurutnya, ajang tersebut menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai perlindungan lingkungan hidup.
"Pelestarian lingkungan dan pembangunan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus berjalan beriringan melalui konsep pembangunan berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan hingga generasi mendatang," kata Alam.
Dia menambahkan, Indonesia memiliki potensi ekonomi dan sumber daya laut yang sangat besar. Namun, peningkatan aktivitas pelayaran, perikanan, budidaya laut, serta industri maritim lainnya juga perlu diimbangi dengan upaya pencegahan pencemaran dan peningkatan kesiapsiagaan.
Karena itu, lanjut Alam, OSCT Indonesia menyatakan siap mendukung pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat sistem pencegahan serta penanggulangan tumpahan minyak melalui penyediaan peralatan, pelatihan sumber daya manusia, dan layanan kesiapsiagaan yang beroperasi selama 24 jam.
"Indonesia adalah negara maritim. Dua pertiga wilayah kita adalah laut. Karena itu, perlindungan lingkungan laut harus menjadi perhatian bersama. OSCT Indonesia siap menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan laut Indonesia untuk generasi sekarang dan masa depan," tutup Alam Syah.