Dahsyatnya Tsunami Aceh 2004 dari Stasiun Luar Angkasa

Hari ini, 9 tahun lalu, gempa bawah laut berkekuatan 9,1 skala Richter mengguncang Samudera Hindia. Membangkitkan tsunami.

oleh Elin Yunita Kristanti diperbarui 26 Des 2013, 09:34 WIB
Hari ini, 9 tahun lalu, gempa bawah laut berkekuatan 9,1 skala Richter mengguncang Samudera Hindia di lepas pantai Sumatera Utara, Indonesia. Seluruh Bumi pun bergetar hebat.

Lalu yang kemudian adalah bencana. Gelombang raksasa muncul setinggi 30 meter, menghantam Aceh, Thailand, Sri Lanka, India, Maladewa, dan pesisir timur Afrika. Jutaan liter air laut tumpah ke daratan. Lebih dari 230 ribu nyawa melayang atau dinyatakan hilang. Menjadi salah satu bencana terdahsyat di Abad ke-21.

Kedahsyatan dampak tsunami Aceh dan Samudera Hindia saat itu juga bisa disaksikan dari luar angkasa. Termasuk awak Expedition 10 yang berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Seperti dimuat situs Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), kerusakan di pesisir Sumatera terlihat jelas dari luar Bumi.

Foto: kerusakan di pesisir Sumatera

Foto dok. Liputan6.com


Kerusakan juga terekam di Phuket, Thailand, di mana cucu Raja Thailand Raja Bhumibol Adulyadej, Bhumi Jensen menjadi salah satu korbannya.

Foto: kondisi Phuket pasca-tsunami

Foto dok. Liputan6.com



Sementara, pesisir pantai Pulau Simeulue tak terjadi kerusakan fatal. Kendati letaknya berupa pulau dikelilingi oleh lautan, saat terjadi amuk tsunami, kematian di Simeulue relatif minim. Salah satu faktor, masyarakat di sana memiliki kearifan lokal.

Tsunami dalam masyarakat Simeulue disebut dengan smong, yakni peristiwa air laut surut setelah terjadi gempa. Saat mengalami kejadian seperti ini, masyarakat seluruhnya lari ke bagian wilayah yang lebih tinggi.

Waspadalah...

Sembilan berlalu, bekas-bekas tsunami di Aceh masih terlihat. Salah satunya monumen kapal nelayan yang bertenger di atap rumah warga.

Sebanyak 59 warga sekitar Gampong Lampulo menyelamatkan diri ke atas kapal tersebut saat gelombang tsunami menerpa desa mereka. Perahu itu meluncur sekitar 5 kilometer dari bibir pantai dengan kencang bersama gelombang, menghempas pepohonan, rumah warga, hingga kandas di atas rumah Abasiah.

Alam juga mencatat kedahsyatan tsunami tahun 2004 lalu, juga yang terjadi sebelumnya. Ilmuwan menemukan sebuah gua di pesisir barat laut Sumatera, di Aceh, yang secara mengagumkan merekam kejadian tsunami dahsyat yang pernah terjadi di Samudera Hindia. Bahkan sejak ribuan tahun lalu.

Gua kapur yang berada dekat Banda Aceh ternyata menyimpan deposit pasir yang dielak paksa oleh gelombang raksasa -- yang dipicu gempa selama ribuan tahun. Para ahli menggunakan situs itu untuk membantu menentukan frekuensi bencana -- seperti peristiwa 26 Desember 2004.

"Gua pesisir ini adalah 'gudang' yang unik. Yang memberi petunjuk tentang yang terjadi beberapa ribu tahun lalu, yang memungkinkan kita untuk mengetahui kapan terjadinya setiap tsunami yang terjadi selama waktu itu," kata ahli geologi, Dr Jessica Pilarczyk.

Mengenang kembali tsunami Aceh bukan untuk menguak luka lama, namun mengingatkan bahwa kita hidup di tanah subur yang rawan bencana. Tsunami Aceh adalah peringatan: bencana bisa jadi berulang di manapun di bumi Nusantara. (Ein)

Baca juga:

Menengok Kapal Nelayan Saksi Sejarah Tsunami Aceh
Ditemukan, Gua Perekam Riwayat Tsunami Ribuan Tahun di Aceh
Perbandingan Topan `Monster` Haiyan dan Tsunami Aceh 2004






Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya