Angka Kejahatan Meningkat, Swedia Buat Penjara Khusus Remaja

Seperti apa aturan hukum untuk penjara khusus remaja di Swedia?

Oleh DW.comDiterbitkan 10 Juni 2026, 12:04 WIB
Ilustrasi bendera Swedia (Image by Unif from Pixabay)

Liputan6.com, Stockholm - Anak usia 13 dan 14 tahun seharusnya masih duduk di bangku sekolah. Tapi di Swedia, remaja semuda itu kini direkrut oleh jaringan kriminal untuk melancarkan serangan bahkan jadi pembunuhan bayaran, termasuk menembak orang di siang bolong.

Berdasarkan hukum Swedia, mereka yang belum berusia 15 tahun tidak bisa dimintai pertanggungjawaban pidana. Celah hukum ini dimanfaatkan oleh kelompok kriminal terorganisir yang kerap beroperasi di bawah radar. Anak-anak tidak bisa dipidana, melainkan hanya bisa ditangani oleh layanan sosial dan perlindungan anak.

Namun dalam upayanya memerangi maraknya kekerasan geng dan kejahatan terorganisir, Swedia ingin memperketat perangkat hukumnya. Parlemen sudah menyetujui kebijakan yang memungkinkan remaja usia 15 hingga 17 tahun yang terbukti melakukan kejahatan serius untuk menjalani hukuman penjara di unit khusus remaja.

Selain itu, pemerintah berencana menurunkan batas usia pertanggungjawaban pidana menjadi 13 tahun secara percobaan, yang khusus diperuntukkan bagi pelaku kejahatan yang sangat serius, seperti pembunuhan berencana, pembunuhan tidak berencana, pengebomon, atau tindak pidana lain dengan ancaman hukuman minimum yang sangat tinggi.

Parlemen akan melakukan pemungutan suara terkait reformasi ini pada pertengahan Juni, dan hasilnya akan dievaluasi ulang setelah lima tahun, dikutip dari DW Indonesia, Rabu (10/6/2026).

Denmark: Contoh yang Gagal?

Perdebatan soal batas usia pertanggungjawaban pidana bukan hanya terjadi di Swedia.

Pada 2010, Denmark menurunkan batas usia tersebut dari 15 menjadi 14 tahun di bawah pemerintahan konservatif. Dua tahun kemudian, kebijakan itu dicabut. Penelitian menunjukkan bahwa penurunan batas usia ini tidak memberi efek jera sama sekali. Sebaliknya, remaja yang terdampak justru cenderung lebih sering mengulangi kejahatannya dan prestasi sekolah mereka pun memburuk.

Alhasil, Denmark kini banyak dijadikan contoh peringatan oleh para pakar. Memidanakan anak-anak di usia yang lebih muda tidak otomatis menyelesaikan masalah kekerasan remaja. Dalam skenario terburuk, bersentuhan dengan sistem peradilan justru bisa menarik anak-anak lebih dalam ke lingkungan kriminal.

Dibandingkan negara-negara Uni Eropa lainnya, Belanda dan Irlandia memiliki batas usia pertanggungjawaban pidana yang paling rendah. Di Belanda, anak-anak sudah bisa dipidana sejak usia 12 tahun.

Di Irlandia, batas usia umum pertanggungjawaban pidana juga 12 tahun. Namun untuk kejahatan paling serius—termasuk pembunuhan berencana, pembunuhan tidak berencana, pemerkosaan, dan pelecehan seksual berat—anak usia 10 atau 11 tahun pun bisa dimintai pertanggungjawaban pidana.

Batas usia yang rendah tidak berarti otomatis menghadapi hukuman seperti orang dewasa. Di Belanda, maksimal hukuman penahanan untuk remaja usia 12 sampai 15 tahun adalah satu tahun. Untuk remaja usia 16 dan 17 tahun yang terbukti melakukan kejahatan serius, maksimal hukuman umumnya dua tahun, dengan pengecualian yang sangat terbatas. Pendidikan, pengawasan, dan langkah-langkah rehabilitasi tetap menjadi prioritas utama, bahkan selama masa penahanan.

Di Jerman dan Spanyol, anak yang melakukan kejahatan serius di usia 12 tahun tidak bisa dimintai pertanggungjawaban hukum. Tapi itu bukan berarti negara tidak bisa berbuat apa-apa. Layanan sosial anak, pengadilan keluarga, dan langkah-langkah perlindungan bisa turun tangan. Dalam kondisi tertentu, penempatan di fasilitas tertutup pun dimungkinkan, tapi bukan sebagai hukuman pidana dalam arti hukum.

Anak diperlakukan bukan sebagai pelaku kejahatan, melainkan sebagai anak yang berada dalam situasi berisiko. Pendekatan ini sangat kental dalam hukum Spanyol. Anak di bawah usia 14 tahun tidak masuk dalam sistem peradilan pidana remaja, melainkan dalam kerangka perlindungan anak.

 

 

Jumlah Remaja di Balik Jeruji Besi Italia Terus Naik

Ilustrasi penjara (AFP)

Pendekatan lain justru menitikberatkan pada lingkungan si anak. Dekrit Caivano Italia memperketat tekanan pada orang tua yang melalaikan kewajiban pengawasan dan kehadiran sekolah anaknya. Dalam kasus bolos sekolah yang parah, orang tua bahkan bisa menghadapi konsekuensi pidana.

Namun Italia tidak sepenuhnya bertolak belakang dengan pendekatan Swedia. Dekrit ini juga memperketat peradilan remaja. Sementara itu, para pengkritik mencatat bahwa sejak dekrit ini diberlakukan, jumlah anak muda yang ditahan di penjara remaja meningkat signifikan.

Bagi banyak negara Uni Eropa, usia 14 tahun tetap menjadi tolok ukur utama. Austria pun berpegang pada standar ini. Anak di bawah 14 tahun tidak bisa dipidana. Namun tindak pidana yang mereka lakukan tetap bisa berujung pada konsekuensi, seperti surat panggilan polisi kepada rang tua mereka, peringatan, keterlibatan layanan sosial, atau langkah-langkah pembinaan.

Rendahnya batas usia pertanggungjawaban pidana di Eropa tidak otomatis berarti hukuman ala orang dewasa. Pengadilan remaja, fasilitas khusus, intervensi edukatif, dan langkah-langkah perlindungan umumnya tetap menjadi prioritas.

Apa Kata Sains?

Keengganan luas di Eropa untuk menghukum anak-anak yang masih sangat muda sejalan dengan temuan riset psikologi perkembangan. Anak-anak dan remaja muda lebih mudah terpengaruh oleh iming-iming instan, tekanan teman sebaya, dan kebutuhan akan pengakuan. Kemampuan mengendalikan impuls, mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang, dan merencanakan masa depan adalah keterampilan yang baru berkembang secara bertahap.

Itulah mengapa efek jera konvensional terbatas efektivitasnya pada anak usia 13 tahun. Ancaman penjara di masa depan dikalahkan oleh iming-iming instan berupa uang, pengakuan, rasa diterima, atau peran yang mereka emban. Dalam kasus lain, yang mengalahkan rasa takut hukuman justru adalah ketakutan terhadap geng itu sendiri.

Karena itu, para pakar mengingatkan agar penanggulangan kejahatan remaja tidak semata-mata bertumpu pada penurunan batas usia pertanggungjawaban pidana dan hukuman yang lebih berat.

Ada pula kekhawatiran yang lebih praktis: organisasi kriminal cepat beradaptasi. Jika Swedia menurunkan batas usia pertanggungjawaban pidana untuk kejahatan serius menjadi 13 tahun, geng-geng itu bisa mencoba merekrut anak yang lebih kecil lagi. Masalahnya tidak akan terpecahkan—justru anak-anak yang lebih muda bisa menjadi sasaran baru jaringan kriminal.

Pertanyaan kuncinya bukan hanya soal pada usia berapa seorang anak bisa dihukum. Sama pentingnya adalah apakah negara mampu memberantas orang-orang dewasa yang mengendalikan dan mengorganisasi kejahatan-kejahatan ini.

Banyak pakar skeptis bahwa rencana pemerintah Swedia akan mencapai tujuannya. Komite keadilan parlemen Swedia, asosiasi advokat, dan sejumlah organisasi masyarakat sipil telah menyampaikan kritik keras terhadap usulan ini. Jika parlemen menyetujuinya, anak usia 13 tahun bisa menghadapi hukuman penjara paling cepat pada akhir musim panas ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya