Liputan6.com, Jakarta - Bayangkan bagaimana dunia kerja di 2050. Tidak ada lagi perjalanan panjang menuju kantor. Tidak ada jam kerja kaku dari pukul 09.00 hingga 17.00. Rapat berlangsung di ruang virtual yang terasa nyata, sementara kecerdasan buatan (AI) membantu mengatur jadwal, menganalisis data, hingga mempercepat pengambilan keputusan.
Bahkan, sebagian pekerja mungkin terhubung langsung dengan teknologi melalui implan saraf yang menghubungkan otak manusia ke perangkat digital. Gambaran tersebut bukan lagi sekadar fiksi ilmiah.
Advertisement
Dalam laporan terbaru International Workplace Group (IWG) berjudul Work Reimagined: The Office of 2050, dikutip Selasa (9/6/2026, memprediksi perubahan besar yang akan membentuk dunia kerja dalam 25 tahun mendatang.
Penelitian yang melibatkan para manajer di bidang sumber daya manusia (SDM) dan karyawan di Amerika Serikat serta Inggris ini menunjukkan bahwa revolusi teknologi akan mengubah hampir seluruh aspek pekerjaan, mulai dari cara berkolaborasi hingga bentuk kantor yang akan digunakan.
CEO dan Founder International Workplace Group plc, Mark Dixon, menilai dunia kerja sedang memasuki periode transformasi terbesar dalam sejarah modern.
“Teknologi selalu membentuk cara kita bekerja. Perbedaannya saat ini adalah kecepatan di mana perubahan tersebut terjadi. Kemajuan dalam AI mempercepat dunia kerja dengan kecepatan yang saat ini sulit dipahami oleh sebagian besar organisasi dan individu," kata dia.
Implan Saraf Menjadi Teknologi Paling Dinanti
Salah satu temuan paling menarik dalam laporan tersebut adalah munculnya implan saraf sebagai teknologi yang diperkirakan akan hadir di lingkungan kerja masa depan.
Teknologi ini memungkinkan terciptanya hubungan langsung antara otak manusia dan perangkat eksternal. Perusahaan-perusahaan teknologi seperti Neuralink milik Elon Musk dan Synchron telah mengembangkan berbagai bentuk neuroteknologi yang dinilai semakin mendekati implementasi nyata.
Sebanyak 33 persen manajer SDM dan 26 persen karyawan menempatkan implan saraf sebagai teknologi baru paling menjanjikan yang berpotensi hadir di tempat kerja pada tahun 2050.
Secara keseluruhan, 68 persen manajer SDM dan 72 persen karyawan percaya bahwa perkembangan teknologi akan mengubah dunia kerja secara signifikan dalam dua dekade ke depan.
AI akan Menjadi Rekan Kerja Utama
Selain neuroteknologi, kecerdasan buatan diperkirakan akan menjadi tulang punggung produktivitas masa depan.
Sebanyak 71 persen manajer SDM dan 73 persen karyawan meyakini AI dan otomatisasi akan mengubah sebagian besar pekerjaan kantoran. Teknologi ini tidak hanya mengambil alih tugas-tugas administratif, tetapi juga membantu menentukan kapan dan di mana kolaborasi paling efektif dilakukan.
Menariknya, sekitar dua pertiga responden percaya AI akan mampu mengatur lokasi dan waktu terbaik bagi tim untuk bekerja bersama. Pandangan tersebut didukung oleh 69 persen manajer SDM dan 64 persen karyawan.
AI juga diperkirakan mempercepat proses pembelajaran. Sistem pelatihan berbasis kecerdasan buatan akan membantu pekerja mempelajari keterampilan baru dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan metode konvensional saat ini.
Akibatnya, ritme dunia kerja diprediksi semakin cepat. Sebanyak 74 persen karyawan dan 70 persen manajer SDM memperkirakan kecepatan kerja akan meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade mendatang.
Tak Ada Lagi Jam Kerja 09.00–17.00
Perubahan besar lainnya adalah hilangnya pola kerja tradisional yang selama puluhan tahun menjadi standar dunia kerja modern. Sebanyak 69 persen manajer SDM dan 68 persen karyawan percaya bahwa perjalanan pulang-pergi harian ke kantor serta jam kerja tetap pukul 09.00 hingga 17.00 akan menjadi sejarah pada tahun 2050.
Sebagai gantinya, model kerja akan semakin fleksibel dan tersebar di berbagai lokasi. Tujuh dari sepuluh manajer SDM memperkirakan pekerjaan akan dilakukan dari banyak tempat berbeda, sementara tiga perempat karyawan memiliki pandangan yang sama.
Kerja hibrida diprediksi menjadi norma baru. Sebanyak 78 persen manajer SDM dan 64 persen karyawan memperkirakan model tersebut akan menjadi standar utama dunia kerja masa depan.
Di saat yang sama, kebijakan wajib masuk kantor secara penuh juga diyakini akan semakin ditinggalkan. Mayoritas responden menilai perusahaan akan lebih mengutamakan fleksibilitas dan otonomi pekerja dibandingkan pengawasan berbasis kehadiran fisik.
Realitas Virtual Gantikan Banyak Pertemuan Tatap Muka
Bila saat ini rapat virtual dilakukan melalui layar komputer, pada tahun 2050 pengalaman tersebut diperkirakan akan jauh lebih imersif.
Sebanyak 70 persen manajer SDM dan 69 persen karyawan percaya bahwa teknologi realitas virtual (VR) dan realitas tertambah (AR) akan menggantikan banyak interaksi kantor tradisional.
Ruang rapat virtual memungkinkan pekerja dari berbagai belahan dunia hadir dalam satu ruang digital yang terasa seperti pertemuan fisik. Teknologi ini diperkirakan akan digunakan untuk berbagai aktivitas, mulai dari diskusi tim, presentasi bisnis, hingga kolaborasi proyek lintas negara.
Kantor Lebih Memahami Kebutuhan Penggunanya
Masa depan kantor juga diperkirakan akan jauh lebih cerdas. Menurut responden, lingkungan kerja nantinya mampu beradaptasi secara otomatis dengan kondisi dan kebutuhan setiap individu. Sistem kantor dapat menyesuaikan pencahayaan berdasarkan ritme biologis pekerja, mendeteksi tanda-tanda kelelahan, hingga memberikan rekomendasi waktu istirahat yang optimal.
Sebagian responden bahkan membayangkan hadirnya ruang kerja yang sepenuhnya terkoneksi dengan teknologi cloud, di mana dinding kantor berfungsi sebagai layar digital interaktif yang responsif terhadap sentuhan.
Kantor Lebih Manusiawi
Meski teknologi akan semakin dominan, kantor masa depan justru diperkirakan menjadi lebih berfokus pada manusia. Konsep ruang kerja yang ramah keluarga menjadi salah satu ide yang banyak mendapat dukungan. Fasilitas penitipan anak di lingkungan kantor, misalnya, dipandang sebagai kebutuhan yang semakin penting.
Selain itu, kantor masa depan diprediksi menjadi ruang multifungsi yang dapat digunakan untuk bekerja, belajar, bersosialisasi, hingga beristirahat dalam satu lokasi.
Desain berbasis alam atau biophilic office juga diperkirakan semakin populer. Kantor akan dipenuhi taman dalam ruangan, tanaman hidup, dan pencahayaan alami untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan nyaman bagi pekerja.
Laporan IWG juga menunjukkan bahwa fleksibilitas akan menjadi faktor utama dalam menarik dan mempertahankan talenta terbaik pada tahun 2050. Sebanyak 75 persen manajer SDM dan karyawan percaya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan akan menjadi pertimbangan utama dalam memilih tempat bekerja.
Perusahaan yang mampu memberikan kebebasan menentukan lokasi kerja, mendukung kesejahteraan pekerja, serta menciptakan lingkungan yang sehat diperkirakan akan lebih unggul dalam memenangkan persaingan mendapatkan sumber daya manusia berkualitas.