RI Penuh Percaya Diri Hadapi Tapering Off The Fed

Pengurangan stimulus moneter dari The Fed menjadi tantangan utama ekonomi Indonesia.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 17 Des 2013, 09:27 WIB

Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) yang terdiri dari pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah menuntaskan rapat akhir di periode 2013. Lalu apa hasil dari pertemuan selama hampir empat jam itu?

Gubernur BI, Agus Martowardojo mengungkapkan, rapat terakhir di penghujung tahun ini membahas mengenai perkembangan hasil full dress simulation, Changmai Initiative, serta mengevaluasi kinerja stabilitas keuangan Indonesia di antara pierce countries.

"Kami juga melakukan assesment atas seluruh aspek yang di bawah supervisi FKSSK mulai dari kondisi nilai tukar, Surat Berharga Negara (SBN), pasar modal, divisi keuangan non bank, sampai dengan perbankan. Jadi secara umum kami sudah memahami ini semua," jelas dia di Jakarta, Senin (16/12/2013) malam.

Berbekal pemahaman dan persiapan matang itu, Agus menegaskan, Indonesia cukup percaya diri untuk menghadapi tantangan perekonomian baik di dalam maupun luar negeri pada tahun depan.

Dari eksternal, sambungnya, pengurangan stimulus moneter dari Bank Sentral Amerika Serikat (AS) menjadi tantangan utama, di samping defisit transaksi berjalan yang merupakan pekerjaan rumah pemerintah dan BI supaya geraknya semakin sempit.

Paling penting, Agus mengatakan, pihaknya telah siap untuk menghadapi tapering off dan membuat kondisi ekonomi Indonesia di 2014 semakin lebih baik.

"Minggu lalu saat angka unemployment AS terjadi penurunan, kami pikir semuanya terjadi guncangan di negara berkembang termasuk Indonesia, tapi ternyata tidak. Justru ekonomi kita membaik," ujarnya.

Ini, ucap Agus, merupakan bentuk persiapkan diri Indonesia menghadapi tapering off sehingga dampaknya bisa dikelola. FKSSK menjadi salah satu yang diandalkan untuk menjaga sistem stabilitas keuangan di tanah air.

Sekadar informasi, dalam rapat FKSSK tersebut hadir Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad, Gubernur BI Agus Martowardojo, Menteri Keuangan Chatib Basri dan Ketua LPS Heru Budiargo.

Rapat rutin ini merupakan kelanjutan dari FKSSK sebelumnya yang digelar pada 20 November 2013. Saat itu, anggota FKSSK sempat menggelar simulasi untuk merespons tekanan di pasar keuangan. Mulai dari pembahasan, langkah-langkah yang harus dilakukan, hingga keputusan yang akan diambil dikaji dalam pertemuan tersebut. Pemerintah bahkan mempersiapkan skenario dari yang paling ringan hingga skenario paling berat.

"Ini (simulasi) mainan kami yang rutin setiap tahun dan memang hari ini lebih terstruktur karena dibantu oleh Toronto Centre yang berpengalaman menangani krisis. Misalnya saja, jika LPS mendapatkan bantuan dari office treasury Amerika Serikat (AS) lalu dari FDIC atau LPS-nya AS untuk membangun proses bagaimana kalau skenario A atau B terjadi," jelas Menteri Keuangan Chatib Basri.

Anggota FKSSK, lanjut dia, secara keseluruhan akan melihat dampak faktor eksternal dan internal ke pasar keuangan, sektor riil dan sebagainya. Dengan begitu, hal ini menjadi bukti kesiapan pemerintah untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang datang dari pengetatan stimulus (tapering off) AS.

"Skenarionya memang agak serem karena kami mesti duduk bersama dan membuat kebijakan mengenai koordinasi mengatasi tekanan pasar keuangan. Jadi simulasinya dibuat seriil mungkin, ada kasusnya. Contohnya tadi siang saya dipanggil rapat, karena ada laporan indeks saham sudah jatuh, yield SUN sekian, lalu kami buat keputusan," terang Chatib. (Fik/Ndw)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya