`Maut Hitam` Mewabah di Madagaskar, 20 Orang Tewas

Meski makin jarang dijumpai, penyakit pes punya reputasi mengerikan. Menewaskan sekitar 25 juta orang di Eropa pada Abad Pertengahan

oleh Elin Yunita Kristanti diperbarui 11 Des 2013, 19:40 WIB
Sebuah desa di timur laut Mandritsara, Madagaskar, dicekam ketakutan. Sudah 20 orang tewas akibat wabah bubonik atau pes. Hanya dalam satu pekan.

Pasteur Institute mengonfirmasi bahwa penyebab kematian korban karena wabah  yang disebabkan oleh enterobakteria Yersinia pestis yang disebarkan hewan pengerat terutama tikus.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan pada Oktober lalu bahwa Madagaskar berisiko tertular wabah yang dikenal sebagai 'maut hitam' (Black Death).

Pada tahun lalu, di Madagaskar tercatat ada 256 kasus yang mengakibatkan 60 kematian akibat wabah ini -- angka kematian tertinggi di dunia.

Para tahanan adalah yang paling berisiko karena kondisi hidup mereka yang memprihatinkan.

ICRC kini sedang menggandeng kelompok kesehatan lokal dalam skema memperbaiki kebersihan penjara dan mengurangi tikus -- untuk memerangi wabah di Penjara Antanimora di Antananarivo, tempat 3.000 tahanan tinggal.

"Kepadatan kronis dan kondisi kebersihan bisa mengakibatkan kasus baru penyakit pes," kata Christoph Vogt, kepala delegasi ICRC di Madagaskar, seperti dimuat The Independent, Rabu (11/12/2013). Kondisi tersebut tak hanya berbahaya buat tahanan, tapi juga penduduk pada umumnya.

Pandemi Hebat Abad Pertengahan

Meski makin jarang dijumpai, seperti Liputan6.com kutip dari BBC, penyakit pes punya reputasi mengerikan. Pernah  menewaskan sekitar 25 juta orang di Eropa pada Abad Pertengahan --  akhir abad ke-14 (1347 – 1351).

Maut Hitam menimbulkan akibat drastis terhadap populasi Eropa, serta mengubah struktur sosial Eropa.

Istilah 'maut hitam' berasal dari gejala khas dari penyakit ini, yang disebut acral necrosis, di mana kulit penderita menjadi menghitam karena pendarahan subdermal. (Ein/Yus)


POPULER

Berita Terkini Selengkapnya