Liputan6.com, Islamabad - Pakistan kembali berupaya memainkan peran strategis di dunia Muslim di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Iran dan Amerika Serikat mendorong Islamabad tampil sebagai mediator potensial dalam upaya meredakan krisis regional.
Pemerintah Pakistan, mulai dari Perdana Menteri Shehbaz Sharif hingga Kepala Angkatan Darat Asim Munir, secara aktif mempromosikan citra Pakistan sebagai negara Muslim yang bertanggung jawab dan mampu menjembatani dialog antara Barat dan dunia Islam, dikutip dari Lisbon Post, Jumat (22/5/2026).
Advertisement
Sejumlah pertemuan diplomatik yang melibatkan pejabat Amerika Serikat dan Iran di Pakistan semakin memperkuat narasi tersebut. Media dan pemerintah Pakistan juga berupaya menghidupkan kembali ambisi lama negara itu untuk menjadi suara utama komunitas Muslim global.
Namun, ambisi diplomatik tersebut muncul di tengah kondisi domestik Pakistan yang masih dilanda krisis ekonomi dan ketidakstabilan politik. Negara itu dalam beberapa tahun terakhir berulang kali bergantung pada dana talangan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Cadangan devisa Pakistan sempat menyusut drastis, sementara inflasi tinggi menyebabkan harga kebutuhan pokok melonjak. Krisis energi juga masih membayangi kehidupan masyarakat sehari-hari. Tingginya tarif listrik, meningkatnya pengangguran, serta melemahnya daya beli memicu ketidakpuasan publik di berbagai lapisan masyarakat.
Tekanan ekonomi turut berdampak pada kehidupan kelas menengah dan pelaku usaha kecil. Banyak keluarga mengurangi pengeluaran, bisnis kecil terpaksa tutup, dan lulusan muda memilih mencari pekerjaan di luar negeri.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah Pakistan dinilai lebih fokus membangun pengaruh geopolitik dan simbolisme kepemimpinan di dunia Muslim dibanding menyelesaikan persoalan domestik.
Selama bertahun-tahun, Pakistan memang berupaya mempertahankan citra sebagai salah satu pemimpin alami negara-negara Muslim. Statusnya sebagai satu-satunya negara mayoritas Muslim yang memiliki senjata nuklir kerap dijadikan bagian penting dalam diplomasi politik luar negeri Islamabad.
Sejumlah Isu
Isu-isu seperti Kashmir, Palestina, Afghanistan, hingga solidaritas terhadap umat Islam global juga rutin menjadi bagian utama narasi politik Pakistan mengenai konsep “Ummah Muslim”.
Namun, dinamika dunia Muslim modern dinilai telah berubah. Banyak negara Muslim kini lebih menitikberatkan pembangunan ekonomi, kemajuan teknologi, investasi asing, dan modernisasi nasional.
Negara-negara seperti Arab Saudi, Turki, Qatar, dan Uni Emirat Arab dinilai semakin dominan secara ekonomi dan diplomatik. Sementara itu, Pakistan masih menghadapi persoalan ketidakstabilan politik, dominasi militer dalam pemerintahan sipil, lemahnya institusi, dan krisis keuangan berkepanjangan.
Sikap Pakistan terhadap konflik Iran juga dinilai lebih didorong kepentingan ekonomi dan keamanan nasional ketimbang semata faktor ideologis. Islamabad khawatir konflik berkepanjangan di Timur Tengah akan memicu kenaikan harga minyak yang dapat memperburuk kondisi ekonomi domestik.
Kritik Internasional
Selain itu, Pakistan memiliki populasi Syiah yang cukup besar sehingga ketidakstabilan di Iran dikhawatirkan memicu ketegangan sektarian di dalam negeri.
Di sisi lain, Pakistan masih menghadapi kritik internasional terkait kemunduran demokrasi, pembatasan kebebasan pers, polarisasi politik, serta isu hak asasi manusia. Kasus penghilangan paksa dan tindakan represif aparat keamanan di wilayah seperti Balochistan juga terus menjadi sorotan.
Pengamat menilai ambisi Pakistan untuk menjadi pemimpin dunia Muslim akan sulit terwujud tanpa pembenahan kondisi domestik. Stabilitas ekonomi, penguatan demokrasi, peningkatan kualitas pendidikan, dan perlindungan hak-hak warga dinilai menjadi fondasi utama bagi kepemimpinan internasional yang kredibel.
Bagi Pakistan, membangun kepercayaan publik dan memperbaiki kesejahteraan rakyat dianggap lebih penting dibanding mengedepankan simbolisme diplomasi dan manuver geopolitik di panggung internasional.