FTSE Russell Berpotensi Ikuti Langkah MSCI, Intip Dampaknya ke Pasar Saham RI

FTSE Russell berpotensi mengikuti kebijakan MSCI dalam mengurangi bobot investasi di Indonesia.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 22 Mei 2026, 16:52 WIB
Pengunjung melintas di dekat monitor perkembangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin dibuka melemah sebesar 12,76 poin. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Jakarta - Global Market Economist Myrdal Gunarto menilai potensi langkah FTSE Russell yang dapat mengikuti kebijakan MSCI dalam mengurangi bobot investasi di Indonesia berpotensi menjadi sentimen negatif baru bagi pasar saham domestik. Kondisi itu dinilai dapat menambah tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dalam beberapa waktu terakhir masih berada dalam tren pelemahan.

Menurut Myrdal, pasar saat ini tengah mencermati berbagai faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan modal asing, termasuk sikap lembaga indeks global terhadap pasar negara berkembang seperti Indonesia. Jika FTSE Russell benar mengambil langkah serupa MSCI, tekanan terhadap arus modal asing diperkirakan akan semakin besar.

“Termasuk juga dari MSCI yang sudah mengurangi porsi investasi mereka untuk beberapa emiten di Indonesia dan kelihatannya juga FTSE Russel juga ini sepertinya juga akan melakukan langkah yang sama seperti MSCI ya, kalaupun itu terjadi ya pasti ini akan memberikan pressure dari sisi global,” ujar Gunarto kepada Liputan6.com, Jumat (22/5/2026).

Ia menjelaskan, kekhawatiran pasar terhadap FTSE Russell muncul di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap Indonesia. Selain dipicu faktor global seperti kenaikan harga minyak, investor juga masih mencermati sejumlah perkembangan domestik, termasuk implementasi kebijakan baru pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya dipahami oleh investor asing.

 

Potensi Tekanan dari FTSE Russell

IHSG melemah sejak awal perdagangan yang dibuka pada level 8.027,82. Berdasarkan data RTI, Kamis (29/1/2026), IHSG sore turun 88,354 poin atau setara 1,06 persen ke posisi 8.232,201. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Meski demikian, Myrdal melihat potensi tekanan dari FTSE Russell hanya bersifat jangka pendek. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menjaga daya tarik pasar domestik di mata investor global.

“Walaupun investor seperti MSCI sudah keluar tapi percayalah Indonesia bisa membuktikan kalau kapasitas negara ini memiliki produktivitas yang tinggi untuk perekonomian ditambah lagi juga situasinya untuk saat ini fiskal kita juga masih solid dan ditambah lagi juga dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang agresif dengan program pemerintah yang berjalan dengan sesuai dengan rencana,” jelasnya. 

Dengan fundamental tersebut, ia optimistis kepercayaan investor asing dapat kembali pulih setelah tekanan global mereda dan kebijakan pemerintah mulai menunjukkan hasil positif terhadap perekonomian nasional. 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya