Jelang Pengumuman FTSE Russell, IHSG Berpotensi Bergerak Volatil

Dibayangi pelemahan rupiah dan pengumuman FTSE Russell, IHSG diprediksi volatil pekan depan. Analis sebut valuasi murah jadi peluang koleksi saham.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 22 Mei 2026, 14:20 WIB
Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Senior Market Analyst M. Nafan Aji Gusta Utama menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan dibayangi volatilitas dalam jangka pendek, seiring tekanan eksternal dan domestik yang masih membebani pasar.

Sentimen tersebut datang dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), hingga efek rebalancing indeks global dan antisipasi pengumuman FTSE Russell pada 22 Mei 2026 waktu AS.

"Disini kalau menurut saya terdapatnya sentimen seperti pelemahan nilai tukar rupiah Rupiah terdepresiasi, 17.600 an saat ini,” kata Nafan kepada Liputan6.com, Jumat (22/5/2026).

Menurut Nafan, tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi langkah agresif Bank Indonesia menaikkan BI Rate yang memicu penyesuaian di pasar keuangan. Selain itu, proses rebalancing indeks global seperti MSCI pada akhir Mei turut meningkatkan tekanan jual sehingga membuat pasar bergerak fluktuatif.

“Di sisi lain, hal ini juga dipengaruhi oleh kenaikan BI rate yang secara agresif. Di sisi lain juga ada efek rebalancing index global Seperti MSCI di akhir bulan Mei, Kalau untuk pergerakan index ke depan, saya rasa masih volatilitas tetap ada,” jelasnya.

 

Peluang Koleksi

Sebelumnya, sepanjang Senin (9/2/2026), pergerakan IHSG diwarnai penguatan 433 saham. Sementara, 252 saham melemah dan 136 lainnya stagnan. Tampak dalam foto, layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Meski demikian, ia menilai koreksi yang terjadi justru membuka peluang akumulasi bagi investor, mengingat valuasi IHSG saat ini sudah berada di level menarik atau undervalued. Pandangan ini juga sejalan dengan proyeksi teknikal Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang menempatkan skenario negatif IHSG di level 5.883 pada 2026, sementara skenario positif diperkirakan bisa menguji level 7.628 hingga 8.824.

Dalam laporan riset terbaru Mirae Asset, secara jangka panjang IHSG juga masih dikategorikan berada dalam secular uptrend, dengan support kuat di area 5.500 dan potensi menuju level 11.100 dalam jangka panjang.

“Jadi sebenarnya IHSG itu sudah undervalued karena memang target upside juga cukup tinggi berdasarkan dari skenario positif Karena ada yang realistik dan optimistik Jadi ini merupakan kesempatan bagi para pelaku pasar untuk melakukan akumulasi beli terhadap saham-saham defensive,” ungkap Nafan.

Nafan menambahkan, menjelang libur panjang pekan depan serta pengumuman FTSE Russell pada 22 Mei, pasar saham domestik berpotensi bergerak lebih fluktuatif karena investor cenderung bersikap wait and see terhadap hasil evaluasi indeks global tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya