1.100 Tenaga Pendukung Dikerahkan untuk Operasional Haji 2026, Pakai Filosofi Tepung

Keunggulan utama para tenaga pendukung terletak pada kemampuan bahasa Arab dan pemahaman wilayah kerja di Arab Saudi.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 29 April 2026, 08:02 WIB
Bimbingan Teknis Tenaga Pendukung PPIH Arab Saudi di Jarwal, Makkah, 27 April 2026. (dok. Media Center Haji 2026)

Liputan6.com, Makkah - Pemerintah Indonesia mengerahkan 1.100 warga negara Indonesia (WNI) yang terdiri dari mukimin dan mahasiswa di Timur Tengah untuk memperkuat layanan operasional haji 2026 sebagai Tenaga Pendukung (Tepung) di Arab Saudi.

Menurut data Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), dari total 1.100 orang, sebanyak 133 merupakan mahasiswa dari sejumlah negara, seperti Mesir, Libya, Yaman, Yordania, Maroko, dan Suriah.

Sebanyak 423 orang ditempatkan di Madinah, sementara 677 lainnya bertugas di Makkah untuk mendukung berbagai layanan teknis jemaah.

Konsul Jenderal RI di Jeddah, Yusron B Ambary menegaskan para tenaga pendukung akan langsung terlibat dalam layanan dasar jemaah haji, mulai dari pengelolaan hotel, konsumsi, transportasi, hingga pendampingan di kawasan Markaziah untuk mencegah jemaah tersesat.

"Mereka juga akan bertugas di sekitar wilayah Markaziah untuk memantau jika ada jemaah yang membutuhkan bantuan di jalan," ujar Yusron di sela Bimbingan Teknis Tenaga Pendukung PPIH Arab Saudi di Jarwal, Makkah, Senin, 27 April 2026.

Ia menjelaskan, keunggulan utama para tenaga pendukung terletak pada kemampuan bahasa Arab dan pemahaman wilayah kerja di Arab Saudi. Kondisi itu dinilai mempercepat respons layanan di lapangan.

Dalam arahannya, Yusron menegaskan pentingnya kerja kolektif dalam penyelenggaraan haji. Ia menolak pendekatan individual dalam pelayanan jemaah.

"Saya tidak pernah percaya yang namanya Superman, yang ada adalah super tim," kata Yusron.

Ia juga memperkenalkan istilah "Tepung" sebagai filosofi kerja tenaga pendukung yang menekankan kesiapan bekerja di segala situasi.

Filosofi Tepung

Bimbingan Teknis Tenaga Pendukung PPIH Arab Saudi di Jarwal, Makkah, 27 April 2026. (dok. Media Center Haji 2026)

Yusron mengatakan, tepung itu artinya mereka harus siap berantakan seperti tepung di dapur.

"Bekerja keras, pontang-panting, bahkan lari jika dibutuhkan. Namun, dari proses yang berantakan itu, lahir kue yang indah dan lezat. Dalam konteks ini, hasilnya adalah jamaah haji yang mabrur," kata dia.

Di sisi lain, Wakil Ketua II PPIH Arab Saudi, sekaligus Direktur Layanan Haji dan Umrah Kemenhaj, Budi Agung Nugroho, meminta seluruh petugas menjadikan tugas sebagai bagian dari ibadah.

Ia menegaskan setiap bentuk pelayanan pada jemaah memiliki nilai pahala selama dilakukan dengan benar.

"Segala bentuk pelayanan yang memudahkan jemaah dalam beribadah akan bernilai ibadah. Bahkan hal sederhana seperti mengantar makanan, menunjukkan arah, atau membantu jemaah ke klinik tetap bernilai pahala," kata Budi.

Ia juga mengingatkan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku di Arab Saudi, termasuk kepemilikan dokumen resmi, seperti tasreh, visa haji, dan aplikasi Nusuk.

"Itu adalah bagian dari kita mentaati ulil amri," tandasnya.

Infografis Rangkaian Ibadah Haji 2026. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya