Liputan6.com, Teheran - Suara pintu dibanting atau benda jatuh kini cukup untuk membuat Ali—bukan nama sebenarnya—terkejut. Bagi remaja berusia 15 tahun itu, perang tak lagi hanya terjadi di medan tempur, tetapi telah merasuk ke dalam pikirannya.
“Sebelum perang, saya tidak mengalami stres sama sekali. Sekarang suara kecil saja membuat otak saya bereaksi sangat buruk,” ujarnya.
Advertisement
Ali adalah satu dari jutaan anak di Iran yang mengalami dampak psikologis akibat konflik yang melibatkan serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel. Meski gencatan senjata telah diumumkan, trauma yang ditinggalkan masih membekas, dikutip dari laman BBC, Senin (13/4/2026).
Ledakan, gelombang kejut, dan suara jet tempur yang melintas di atas kota menciptakan kondisi yang oleh psikolog disebut sebagai “hiperarousal”—respons kewaspadaan berlebihan yang dapat menjadi tanda awal gangguan stres pascatrauma (PTSD). Dengan lebih dari 20 persen populasi Iran berusia di bawah 14 tahun, jutaan anak berisiko mengalami kondisi serupa.
Di rumah, Ali juga melihat perubahan pada keluarganya. Ayahnya kehilangan pekerjaan akibat perang, sementara ibunya hidup dalam kecemasan yang terus-menerus. Rasa aman yang biasanya ditemukan dalam kehidupan keluarga kini menghilang.
“Ibu saya selalu takut setiap kali jet tempur lewat. Saya sendiri juga sangat takut,” katanya.
Kondisi tersebut membuat dunia anak-anak menyempit. Sekolah ditutup, aktivitas sosial terhenti, dan jalanan dipenuhi patroli milisi. Banyak keluarga memilih bertahan di dalam rumah, menunggu situasi membaik tanpa kepastian.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Iran, tetapi juga dirasakan anak-anak di wilayah lain yang terdampak konflik, termasuk Israel, kawasan Teluk, dan Lebanon.
Di Teheran, sebuah pusat hak asasi manusia melaporkan lonjakan permintaan bantuan dari orang tua yang khawatir terhadap kondisi mental anak-anak mereka. Seorang konselor yang disebut sebagai Aysha mengatakan banyak anak mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, penurunan konsentrasi, hingga perilaku agresif.
“Ketika Anda berjuang membesarkan anak, lalu mereka harus menghadapi risiko terbunuh dalam perang, itu adalah sesuatu yang tidak bisa diterima,” ujarnya.
Korban Tewas dan Perang Iran
Data dari Human Rights Activists News Agency menyebutkan lebih dari 3.600 orang tewas dalam konflik tersebut, termasuk setidaknya 254 anak-anak, dengan puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka.
Kekhawatiran juga meningkat terkait dugaan perekrutan anak-anak ke dalam milisi sukarelawan Basij. Pemerintah disebut mendorong keterlibatan remaja dalam menjaga pos pemeriksaan, sebuah langkah yang menuai kritik keras dari komunitas internasional.
Amnesty International menilai praktik tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, bahkan berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Sejumlah orang tua berusaha melindungi anak-anak mereka dari dampak konflik. Noor, seorang warga Teheran, memilih meninggalkan kota bersama putranya yang masih remaja demi menjauhkan dari risiko kekerasan.
“Anak-anak tidak benar-benar memahami apa yang terjadi. Mereka bisa menganggapnya seperti permainan. Tapi begitu mereka masuk ke dalamnya, tidak ada jalan kembali,” katanya.
Di tengah harapan akan tercapainya gencatan senjata permanen melalui jalur diplomatik, para ahli memperingatkan bahwa dampak perang terhadap generasi muda tidak akan hilang dalam waktu singkat. Trauma, kehilangan rasa aman, dan pengalaman kekerasan berpotensi membentuk masa depan anak-anak di kawasan tersebut untuk waktu yang lama.