Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak melonjak pada Selasa, (7/4/2026) waktu setempat. Kenaikan harga minyak dunia terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ancaman mengerikan terhadap Iran menjelang tenggat waktu yang ditetapkan malam ini untuk pembukaan kembali Selat Hormuz.
Mengutip CNBC, harga minyak Amerika Serikat (AS) naik lebih dari 3% menjadi USD 116,22 per barel pada pukul 11.28 pagi ET. Harga minyak Brent untuk pengiriman Juni naik 0,81% menjadi USD 110,66 per barel.
Advertisement
“Seluruh peradaban akan musnah dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi mungkin akan terjadi,” ujar dia dalam sebuah unggahan di media sosial.
Sementara itu, kepada CNBC, seorang pejabat Gedung Putih menyebutkan, AS menyerang target militer di Pulau Kharg Iran semalam.
Pada Senin pekan ini, Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika Teheran tidak kembali membuka Selat Hormuz pada pukul 8 malam ET pada Selasa, 7 April 2026. Ia juga memberi sinyal kepemimpinan Iran sedang bernegosiasi dengan sungguh-sungguh.
Penutupan jalur air sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman telah menyebabkan guncangan pasokan, yang menyebabkan harga minyak mentah, bahan bakar jet, solar, dan bensin melonjak sejak perang pecah pada 28 Februari.
“Mereka punya waktu sampai besok,” ujar Trump.
“Sekarang kita akan lihat apa yang terjadi. Saya dapat memberi tahu Anda, mereka sedang bernegosiasi, kami pikir dengan itikad baik, kita akan mengetahuinya. Kami mendapatkan bantuan dari beberapa negara luar biasa yang ingin ini diakhiri, karena ini juga memengaruhi mereka.”
Upaya Akhiri Konflik
Reuters melaporkan AS dan Iran sedang membahas rencana kerangka kerja untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 5 minggu, karena Teheran telah menolak tekanan Trump untuk segera membuka kembali Selat Hormuz, yang akan memungkinkan lalu lintas kembali melalui jalur energi vital tersebut. Demikian mengutip CNBC,
Iran telah menolak proposal gencatan senjata AS, dan mengajukan rencana 10 poinnya sendiri, menurut Axios, termasuk pengakhiran permanen permusuhan di wilayah tersebut, bukan gencatan senjata sementara, protokol untuk jalur aman melalui Selat Hormuz, pencabutan sanksi, dan rekonstruksi.
Namun, peluang tercapainya kesepakatan gencatan senjata sebelum batas waktu tetap tipis, menurut laporan tersebut.
Trump menanggapi proposal tersebut, dengan mengatakan “Mereka mengajukan proposal yang signifikan. Belum cukup baik, tetapi mereka telah mengambil langkah yang sangat signifikan. Kita akan lihat apa yang terjadi.”