Bobot Indeks MSCI Berpotensi Turun, OJK Siapkan Strategi Mitigasi

Risiko penurunan bobot MSCI diantisipasi OJK dengan strategi penguatan pasar dan investor.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 06 April 2026, 20:35 WIB
Pekerja melintas di layar IHSG di BEI, Jakarta, Rabu (4/3/2020). IHSG kembali ditutup Melesat ke 5.650, IHSG menutup perdagangan menguat signifikan dalam dua hari ini setelah diterpa badai corona di hari pertama pengumuman positifnya wabah corona di Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk mengantisipasi risiko terkait keputusan bobot indeks Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan bahwa langkah mitigasi telah dirancang secara terukur dan terkoordinasi.

"Sebagai bagian dari mitigasi, OJK telah menyiapkan langkah-langkah yang terukur dan terkoordinasi," ujar Hasan dalam Konferensi Pers RDKB Maret 2026, Senin (6/4/2026).

Ia menjelaskan, OJK sebelumnya telah menyelesaikan implementasi empat proposal utama yang diajukan kepada MSCI sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas pasar modal domestik.

Meski demikian, OJK tetap mewaspadai potensi risiko penurunan bobot indeks Indonesia. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu dampak jangka pendek di pasar keuangan.

Beberapa risiko yang diantisipasi antara lain tekanan jual akibat penyesuaian portofolio investor, potensi arus keluar dana (capital outflow) saat periode rebalancing, serta meningkatnya volatilitas pasar.

Namun, OJK menilai dinamika tersebut sebagai hal yang wajar dalam proses menuju pasar yang lebih sehat.

"Ini bersifat normal dalam konteks menuju pasar yang lebih berkualitas secara jangka menengah dan panjang," kata Hasan.

 

Dorong Free Float dan Perkuat Basis Investor

Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebagai langkah mitigasi lanjutan, OJK mendorong penerapan kebijakan free float minimum sebesar 15 persen. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan transparansi pasar.

Selain itu, penguatan basis investor juga menjadi fokus utama, baik dari investor ritel domestik, institusi dalam negeri, maupun investor asing.

OJK juga memastikan komunikasi dengan penyedia indeks global, termasuk MSCI, akan terus dilakukan secara intensif dan konstruktif. Hal ini bertujuan untuk menyampaikan perkembangan reformasi pasar modal Indonesia.

Dari sisi stabilitas, OJK menegaskan bahwa mekanisme pengawasan pasar akan terus dioptimalkan melalui pemantauan rutin dan ketat.

"Arah kebijakan ini akan terus kami lakukan secara konsisten, yaitu upaya memperkuat kualitas dan integritas pasar modal Indonesia secara fundamental, agar lebih transparan, likuid, kredibel, serta mampu tumbuh sehat berkelanjutan dalam jangka menengah-panjang," tutup Hasan.

Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor sekaligus memperkuat daya tahan pasar modal Indonesia ke depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya