Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Konflik AS-Iran memanas, saling ancam serangan antara Presiden AS Donald Trump dengan petinggi Iran picu kekhawatiran global.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 23 Maret 2026, 12:30 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berada di Roosevelt Room, Gedung Putih, Rabu (10/12/2025). (Dok. AP/Evan Vucci)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka. Ancaman keras Trump ini memicu eskalasi baru konflik Timur Tengah yang semakin berbahaya.

Dalam unggahan di Truth Social pada Sabtu malam, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat siap menyerang fasilitas energi Iran jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

BACA JUGA: Donald Trump Sebut AS dan Iran Lanjutkan Perundingan di Doha, Qatar

“Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam 48 JAM, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka, dimulai dari yang terbesar!” tulis Trump dikutip dari CNBC, Senin (23/3/2026).

Pernyataan ini menandai peningkatan signifikan dalam konflik yang telah memasuki pekan keempat.

Iran merespons ancaman tersebut dengan peringatan keras. Negara itu menyatakan siap menargetkan infrastruktur Amerika Serikat di kawasan Teluk jika serangan benar-benar dilakukan.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa fasilitas energi di Timur Tengah bisa “dihancurkan secara permanen” jika pembangkit listrik Iran diserang.

Ia juga menyebut infrastruktur regional akan menjadi “target sah” dalam aksi balasan, yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global.

 

Israel dan Iran Saling Serang, Fasilitas Nuklir Jadi Sasaran

Media Israel melaporkan pada Sabtu 21 Maret 2026 malam waktu setempat bahwa delapan orang tewas dan lebih dari 100 orang terluka akibat serangan rudal Iran di Arad, Israel Selatan. Tampak dalam foto, pasukan keamanan Israel memeriksa bangunan tempat tinggal yang rusak akibat serangan rudal Iran di Arad, Israel Selatan, Minggu, 22 Maret 2026. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Menariknya, ancaman Trump ini muncul hanya sehari setelah ia menyatakan keinginan untuk mengurangi intensitas perang.

Trump sebelumnya mengatakan bahwa AS hampir mencapai tujuannya dan mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer di Timur Tengah. Namun, ia menegaskan tidak tertarik pada gencatan senjata.

Eskalasi konflik semakin terlihat ketika Iran dan Israel saling melancarkan serangan, termasuk yang menyasar fasilitas terkait nuklir.

Puluhan orang dilaporkan terluka setelah Iran menyerang wilayah dekat pusat riset nuklir Israel di Dimona dan Arad. Militer Israel mengakui bahwa sebagian rudal tidak berhasil dicegat.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut situasi tersebut sebagai “malam yang sangat sulit”.

Di sisi lain, media Iran melaporkan adanya serangan terhadap fasilitas pengayaan nuklir Natanz. Namun, tidak ditemukan kebocoran radiasi menurut pengawas internasional.

Serangan juga terjadi di sejumlah wilayah Iran seperti Teheran, Karaj, dan Isfahan, dengan korban jiwa terus bertambah di berbagai negara.

 

Serangan Meluas, Inggris dan AS Siaga Hadapi Ancaman Regional

Otoritas Israel Defense Forces (IDF) melalui Komando Pertahanan Dalam Negeri langsung memperketat pedoman keamanan di wilayah selatan Israel. Tampak dalam foto, warga melihat bangunan tempat tinggal yang rusak akibat serangan rudal Iran di Arad, Israel Selatan, Minggu, 22 Maret 2026. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Ketegangan tidak hanya melibatkan AS, Iran, dan Israel. Inggris juga mengonfirmasi bahwa Iran sempat menargetkan pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia, meski serangan tersebut gagal.

Pemerintah Inggris menyatakan telah mengizinkan penggunaan pangkalan militernya untuk operasi pertahanan terbatas oleh AS.

Militer Israel juga mengungkap bahwa Iran menggunakan rudal balistik jarak menengah yang mampu menjangkau hingga 4.000 kilometer, termasuk kota-kota besar di Eropa.

Serangan ini disebut sebagai eskalasi signifikan karena menunjukkan kemampuan Iran menjangkau target di luar Timur Tengah.

Sejauh ini, konflik telah menelan ribuan korban jiwa di berbagai negara, termasuk Iran, Lebanon, Irak, Israel, dan beberapa negara Teluk.

Situasi ini memicu kekhawatiran global akan meluasnya konflik dan dampaknya terhadap stabilitas energi serta keamanan internasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya