Tips Atur THR Biar Cukup Setelah Lebaran 2026

Berikut tips mengatur THR agar dapat cukup usai Lebaran 2026 dari perencana keuangan Andy Nugroho.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 22 Maret 2026, 06:00 WIB
Hari Raya Lebaran 2026 identik dengan pembagian tunjangan hari raya (THR). Namun, masyarakat juga perlu memperhatikan pengeluaran THR-nya. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Liputan6.com, Jakarta - Hari Raya Lebaran 2026 identik dengan pembagian tunjangan hari raya (THR). Namun, masyarakat juga perlu memperhatikan pengeluaran THR-nya agar tetap bisa memenuhi kebutuhan harian. Lantas, bagaimana cara mengaturnya?

Perencana Keuangan, Andy Nugroho membagikan tips agar momen setelah Hari Raya Idulfitri bisa tetap tenang. Caranya dengan mengalokasikan lebih dahulu dana hasil THR maupun pendapatan untuk pos kebutuhan harian.

"Karena ketika kita sudah menyisihkan lebih dahulu untuk berbagai kebutuhan pasca lebaran, maka bila dana untuk lebaran benar-benar habis kita masih aman karena sudah menyisihkannya lebih dahulu," ujar Andy saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (22/3/2026).

Dia menjelaskan, setidaknya ada 4 pos pengeluaran prioritas yang harus dipisahkan terlebih dahulu. Pertama, kebutuhan penting dan wajib. Contohnya, cicilan utang, uang sekolah anak, pembelian token listrik, hingga tagihan air harian.

Kedua, kebutuhan yang bersifat penting namun masih bisa diatur ulang. Misalnya biaya makan sehari-hari, uang transport ke tempat kerja atau sekolah, dan biaya sejenis lainnya.

"(Ketiga) disisihkan sekitar 10% untuk ditabung. (Keempat) selebihnya barulah bisa kita gunakan dan habiskan untuk berbagai kebutuhan lebaran," ucap Andy.

Waspada Penggunaan Dana

Andy mengingatkan, penggunaan dana perlu mengacu pada alokasi yang dibagikan sebelumnya. Menurut dia, hal itu jadi koridor pengeluaran masyarakat selama libur Lebaran 2026.

"Bila semua dana yang ada dihabiskan hanya untuk berlebaran dan liburan tanpa ada pengalokasian untuk kebutuhan lain pasca lebaran, maka berarti akan ada pos pengeluaran yang akan dikorbankan tidak terpenuhi," tuturnya.

"Biasanya yang pertama kali akan jadi korban adalah pos untuk ditabung. lalu yang akan berkurang lagi adalah pos untuk membayar cicilan utang, yang berakibat pada kita kena denda atau konsekuensi lainnya," Andy menambahkan.

Potensi Perputaran Uang

Pedagang menawarkan daganganya ke para pemudik di Jalan tol Cikopo - Palimanan KM 73, Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (30/4/2022). Padatnya arus lalu lintas ruas tol trans jawa, membuat pedagang asongan turun ke jalan. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Sebelumnya, perputaran uang dari aktivitas mudik Lebaran 2026 diprediksi tembus hingga Rp 161 triliun. Angka tersebut mayoritas bisa bergerak di daerah-daerah tujuan mudik dengan potensi peningkatan ekonomi lokal.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang menghitung, angka tersebut muncul dari jumlah masyarakat yang melakukan mudik di momen Hari Raya Idulfitri saat ini. 

Dengan proyeksi total 143 juta orang melakukan mudik, bisa diasumsikan ada 35,9 juta keluarga dengan masing-masing membawa uang sekitar Rp 4,12 juta, total perputaran uang bisa mencapai Rp 148 triliun. Jumlah uang itu setidaknya didapat dari adanya tunjangan hari raya (THR). 

"Namun angka perputaran uang ini berpotensi naik, hitungan ini diangka yang moderat atau paling rendah. Masih berpotensi mencapai Rp.161.887.500.000.000 dengan asumsi rata rata per keluarga membawa uang sebesar Rp 4.500.000," kata Sarman dalam keterangan yang diterima Liputan6.com, Kamis (19/3/2026).

Menggerakkan Ekonomi Lokal

Dia menilai uang ini akan beredar di wilayah-wilayah tujuan mudik, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. Sisanya menyebar ke Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan berbagai destinasi wisata lainnya. Bisa dibilang, ekonomi daerah akan ikut terdampak positif dari kegiatan ini.

Sarman melihat, uang itu digunakan untuk hampir seluruh sektor usaha. Mulai dari tiket perjalanan, biaya tol dan BBM, perbaikan kendaraan, hingga THR bagi kerabat di kampung halaman.

"Selama di kampung halaman, uang juga akan beredar di pusat destinasi wisata, berbagai pedagang UMKM akan menikmati peningkatan omzet seperti pedagang makanan/minuman, souvenir, penjual makanan khas daerah dan penjual batik/kain khas daerah serta pusat kuliner diberbagai daerah," tutur Sarman.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya