Trump Tekan China Bantu Buka Selat Hormuz, Pertemuan di Beijing Terancam Ditunda

Trump memberi sinyal menunda pertemuan dengan Xi Jinping sambil menekan China membantu membuka Selat Hormuz.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 16 Maret 2026, 14:45 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 19 Agustus 2024. (Dok. AP/Julia Nikhinson)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal bahwa rencana kunjungannya ke China pada akhir bulan ini berpotensi ditunda. Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya Washington menekan Beijing agar membantu membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Dalam wawancara dengan Financial Times pada Minggu, Trump mengatakan ia berharap China turut membantu membuka kembali selat tersebut sebelum dirinya berangkat ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping.

Pertemuan tingkat tinggi antara kedua pemimpin sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 31 Maret hingga 2 April.

Trump menilai masih ada waktu sebelum pertemuan tersebut berlangsung, namun Washington ingin mendapatkan kejelasan dari Beijing.

“Kami mungkin menundanya,” kata Trump kepada Financial Times, tanpa menjelaskan lebih lanjut mengenai kemungkinan waktu penundaan tersebut, dikutip dari CNBC, Senin (16/3/2026).

Pernyataan ini muncul ketika Menteri Keuangan AS Scott Bessent bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di Paris untuk membahas rencana pertemuan kedua pemimpin negara tersebut.

Sejauh ini, pemerintah China belum mengonfirmasi tanggal resmi pertemuan tersebut dan biasanya baru mengumumkan agenda diplomatik besar menjelang waktu pelaksanaannya.

 

Selat Hormuz Jadi Sorotan Hubungan AS-China

Kapal di Selat Hormuz. (AP File)

Kunjungan Trump ke China nantinya akan menjadi perjalanan pertama presiden Amerika Serikat ke negara tersebut sejak kunjungan terakhirnya pada 2017, saat masa jabatan pertamanya.

Rencana pertemuan ini juga berlangsung sekitar lima bulan setelah Trump dan Xi Jinping bertemu di Busan, Korea Selatan, di mana keduanya menyepakati gencatan perang dagang selama satu tahun.

Sebelumnya, perang dagang antara kedua negara sempat memicu kenaikan tarif impor secara drastis hingga mencapai tiga digit persen.

Trump menilai China memiliki kepentingan besar dalam menjaga Selat Hormuz tetap terbuka karena sebagian besar impor minyaknya melewati jalur tersebut.

Saat berbicara di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump mengatakan sekitar 90 persen minyak China berasal dari jalur Selat Hormuz.

Karena itu, ia menilai kerja sama Beijing dalam menjaga jalur tersebut tetap terbuka merupakan kepentingan strategis bagi China sendiri.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran penting di Timur Tengah yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari.

 

China Dinilai Tak Mudah Ikuti Permintaan AS

Dalam foto yang dirilis pada hari Rabu, 2 Agustus 2023 oleh Sepahnews dari Garda Revolusi Iran, speedboat Garda berpartisipasi dalam latihan di Teluk Persia. Militer AS sedang mempertimbangkan untuk menempatkan personel bersenjata di kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, dalam tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang bertujuan untuk menghentikan Iran dari menyita dan mengganggu kapal-kapal sipil, empat pejabat Amerika mengatakan kepada The Associated Press pada hari Kamis, 3 Agustus 2023. (Sepahnews via AP)

Meski demikian, sejumlah analis menilai China kemungkinan tidak akan mengikuti permintaan Washington untuk mengirim kapal militer guna membantu membuka Selat Hormuz.

Peneliti senior di Council on Foreign Relations, Edward Fishman, bahkan menyebut pernyataan Trump lebih sebagai strategi tekanan diplomatik.

Ia menyebut pernyataan tersebut sebagai “bluff” atau gertakan.

Menurut Fishman, China selama dua dekade terakhir telah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap jalur energi tertentu dengan mendiversifikasi sumber energi dan membangun cadangan minyak strategis.

Hingga Januari lalu, China diperkirakan memiliki cadangan minyak sekitar 1,2 miliar barel, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi selama tiga hingga empat bulan.

Selain itu, aliran minyak melalui Selat Hormuz kini diperkirakan hanya menyumbang sebagian kecil dari total konsumsi energi China.

 

Hubungan Memanas

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saling memandang usai pertemuan puncak mereka di Bandara Internasional Gimhae, Busan, Korea Selatan, Kamis (30/10/2025).(Dok. AP/Mark Schiefelbein)

Di tengah dinamika tersebut, hubungan AS dan China juga kembali memanas menjelang rencana pertemuan kedua pemimpin.

Pemerintah China mengkritik kebijakan perdagangan terbaru Washington yang dinilai menggunakan penyelidikan perdagangan secara sepihak.

“Kami mendesak pihak AS untuk segera memperbaiki praktik yang salah dan bertemu dengan China di tengah jalan,” kata juru bicara Kementerian Perdagangan China.

Beijing juga menyatakan akan memantau perkembangan penyelidikan tersebut dan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan ekonominya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya