Liputan6.com, Jakarta - PT TBS Energi Utama Tbk (TBS) mengumumkan kinerja keuangan tahun buku 2025 yang menandai tahap penting dalam transformasi perusahaan menuju portofolio bisnis yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada sektor rendah karbon.
Sepanjang 2025, perseroan melakukan penataan ulang portofolio melalui langkah strategic repositioning. Strategi ini ditempuh untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus mengarahkan bisnis ke sektor yang dinilai memiliki pertumbuhan pendapatan lebih stabil serta prospek valuasi jangka panjang yang lebih baik.
Advertisement
Di tengah proses transisi tersebut, fundamental operasional TBS dinilai tetap kuat. Perseroan mencatatkan EBITDA disesuaikan sebesar USD 47,2 juta serta menjaga posisi kas pada level sehat sebesar USD 102,3 juta, meningkat sekitar 15% dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu pencapaian strategis pada 2025 adalah rampungnya akuisisi Sembcorp Environment yang kini beroperasi dengan nama Cora Environment. Akuisisi ini memperkuat posisi TBS dalam industri pengelolaan limbah di Singapura sekaligus memperluas basis aset untuk mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Kontribusi terbesar terhadap pendapatan TBS mulai bergeser dari sektor batu bara. Pada 2025, bisnis pengelolaan limbah menghasilkan pendapatan USD 155,4 juta atau sekitar 41% dari total pendapatan perusahaan.
Sementara itu, segmen pertambangan dan perdagangan batu bara mencatatkan pendapatan sebesar USD 194,6 juta atau sekitar 51% dari total pendapatan. Porsi ini menurun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 81%, sejalan dengan strategi perusahaan untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan pada komoditas tersebut.
Di sisi lain, TBS mencatatkan rugi bersih sebesar USD 162 juta. Kerugian ini dipengaruhi oleh penurunan harga batu bara sepanjang 2025 serta dampak non-kas dan tidak berulang dari divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) senilai USD 97 juta sebagai bagian dari percepatan transformasi bisnis menuju sektor rendah karbon.
Penyesuaian Struktural
Direktur TBS Juli Oktarina mengatakan setelah strategic repositioning pada pondasi bisnis di 2025, Perseroan antusias menyambut tahun 2026 dan tahun-tahun berikutnya.
“Keputusan penyesuaian struktural diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang, guna mengakselerasi pertumbuhan pada tiga pilar bisnis masa depan Perseroan pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik yang merupakan layanan esensial dengan potensi pertumbuhan yang kuat di Indonesia dan mancanegara,” ujar Juli dalam keterangan resmi, Senin (9/3/2026).
Menurut perusahaan, langkah diversifikasi bisnis tersebut semakin relevan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasar energi global. Diversifikasi dinilai menjadi salah satu strategi untuk menjaga ketahanan bisnis serta mengurangi risiko dari fluktuasi harga energi.
Terkait hal tersebut, Juli mengatakan strategi bisnis kami saat ini memberikan fleksibilitas bagi Perseroan untuk tetap tumbuh, di mana sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik justru menjadi peluang krusial bagi ketahanan energi nasional.
Skema Rent to Own
Melalui inovasi seperti skema rent-to-own pada ekosistem motor listrik Electrum, TBS tidak hanya memitigasi dampak fluktuasi harga minyak bagi para pekerja sektor informal, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis hijau untuk memastikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang”.
Perseroan juga melaporkan kemajuan dalam implementasi peta jalan TBS2030. Salah satunya melalui divestasi dua unit PLTU yang sebelumnya menyumbang sekitar 86% emisi portofolio pembangkit atau setara sekitar 1,4 juta ton CO2 per tahun berdasarkan profil emisi 2024.
Selain itu, pada November 2025 perusahaan meluncurkan Climate Transition Plan (CTP) yang menjadi panduan komprehensif bagi proses dekarbonisasi operasional dan portofolio bisnis perusahaan. Langkah ini menjadi bagian dari target TBS untuk mencapai netral karbon pada 2030 dalam kerangka strategi Towards a Better Society.