10 Maret 1988: Tragedi Klosters, Saat Maut Nyaris Menjemput Raja Charles III

Tragedi Klosters dikenang sebagai salah satu pengalaman paling traumatis dalam kehidupan Raja Charles III.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 10 Maret 2026, 06:00 WIB
Raja Charles III dari Inggris (kanan), diikuti Ratu Camilla (kiri), meninggalkan Kapel St. George, di Kastil Windsor, setelah menghadiri Kebaktian Paskah Mattins, pada 31 Maret 2024. (Hollie Adams/POOL/AFP)

Liputan6.com, Bern - Tepat pada 10 Maret 1988, sebuah tragedi hampir mengubah jalannya sejarah monarki Inggris ketika Raja Charles III, yang saat itu masih dikenal sebagai Pangeran Charles, nyaris kehilangan nyawanya dalam sebuah longsoran salju di Klosters, sebuah resor ski populer di Swiss. Peristiwa dramatis itu terjadi di lereng Gotschnagrat, kawasan pegunungan di atas Klosters yang dikenal memiliki jalur ski menantang.

Pada hari itu, Charles sedang bermain ski bersama sekelompok teman di jalur off-piste, yakni jalur liar di luar area ski resmi yang tidak dipadatkan dan tidak diawasi oleh patroli keamanan. Rombongan tersebut sedang berhenti sejenak di lereng curam ketika tiba-tiba massa salju besar runtuh dari atas dan meluncur deras ke arah mereka. Seperti dikutip dari laporan The New York Times, longsoran salju menyapu sebagian anggota rombongan dalam hitungan detik, menyeret mereka bersama aliran salju yang sangat kuat.

Pangeran Charles berhasil selamat, tetapi tragedi itu menelan korban jiwa. Sahabat dekatnya, Mayor Hugh Lindsay, seorang perwira Angkatan Darat Inggris yang sebelumnya pernah bertugas sebagai equerry Ratu Elizabeth II, tewas setelah tertimbun salju. Sementara itu, anggota rombongan lainnya, Patricia Palmer-Tomkinson, mengalami luka serius berupa patah tulang kaki dan cedera paru-paru.

Menurut laporan BBC News, setelah longsor berhenti, Charles dan anggota rombongan lainnya segera berusaha menolong korban dengan menggali salju menggunakan tangan dan peralatan ski. Beberapa foto yang diambil saat evakuasi menunjukkan sang pangeran tampak sangat terpukul; media Inggris melaporkan bahwa ia terlihat menangis ketika tim penyelamat tiba di lokasi untuk mengevakuasi jenazah dan korban luka.

Duka ini berlanjut hingga rombongan kembali ke Inggris. Melansir laporan Associated Press, suasana haru menyelimuti pangkalan udara Northolt saat peti mati Mayor Lindsay yang dibalut bendera Union Jack diturunkan dari pesawat. Putri Diana, yang saat kejadian berada di penginapan dan tidak ikut ke lereng, tampil sebagai sosok pendukung utama bagi istri Mayor Lindsay, Sarah, yang saat itu tengah hamil besar. Berdasarkan catatan biografi "Diana: Her True Story", momen ini meninggalkan trauma emosional yang mendalam bagi Charles, yang merasa sangat bersalah atas hilangnya nyawa sahabatnya.

Tragedi ini segera memicu penyelidikan oleh otoritas Swiss. Seperti dikutip dari laporan Los Angeles Times mengenai hasil penyelidikan kejaksaan kanton Graubunden, disimpulkan bahwa kelompok tersebut memang secara kolektif mengambil risiko dengan bermain ski di area berbahaya saat tingkat peringatan longsor sedang tinggi. Namun demikian, tidak ditemukan unsur kelalaian pidana yang dapat dibebankan secara pribadi kepada Pangeran Charles maupun anggota rombongan lainnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat sejarah betapa tipisnya garis antara rekreasi ekstrem di pegunungan Alpen dan bahaya fatal yang dapat muncul tanpa peringatan bagi siapa pun, termasuk pewaris takhta sekalipun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya